EVALUASI PROGRAM B20, Titik Distribusi Biodiesel Akan Disederhanakan

Pemerintah bakal melakukan penyempurnaan dan penyederhanaan rantai pasok penyaluran FAME guna mengoptimalkan implementasi program bauran solar dan 20% bahan bakar nabati dari minyak sawit (B20).
Denis Riantiza Meilanova | 18 Oktober 2018 20:58 WIB
Kebijakan bauran biodiesel 20% atau B20. - Bisnis/Radityo Eko

Optimalkan Implementasi B20, Pemerintah Bakal Sederhanakan Titik Rantai Pasok Penyaluran FAME Mulai Desember


Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah bakal melakukan penyempurnaan dan penyederhanaan rantai pasok penyaluran FAME guna mengoptimalkan implementasi program bauran solar dan 20% bahan bakar nabati dari minyak sawit (B20).

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Rida Mulyana mengatakan, salah satu upaya yang akan dilakukan adalah dengan memusatkan titik penyaluran FAME ke terminal bahan bakar minyak (TBBM) Pertamina di beberapa titik.

"Kami diminta evaluasinya tanggal 1 Desember 2018 akan dimulai skema yang baru. Misalkan, sekarang jumlah TBBM yang sekarang tersebar, nah kami konsentrasikan di beberapa titik," ujar Rida ditemui di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Kamis malam, (18/10/2018).

Dia mengklaim bahwa penyaluran FAME kepada badan usaha BBM saat ini mulai membaik meski belum optimal. Oleh karena itu, untuk meminimalisir potensi masalah dalam penyaluran pemerintah sepakat untuk mengurangi jumlah tujuan penyaluran pasokan FAME.

"Membaiklah, tapi belum optimum, sudah 95% dari supply chain," katanya.

Sebetulnya sejak awal, opsi penyederhanaan titik penyaluran tersebut telah dikemukakan oleh Pertamina. Pertamina telah mengusulkan agar pengiriman FAME hanya dikirim ke 14 fasilitas blending Pertamina, yakni enam kilang dan delapan TBBM.

Nantinya, biodiesel yang sudah dicampur di 14 titik tersebut akan didistribusikan sendiri oleh Pertamina ke SPBU-SPBU miliknya. Sehingga BU BBN tak perlu lagi memasok ke 112 TBBM Pertamina.

Namun hingga kini, kata Rida, rencana tersebut belum terealisasikan karena Pertamina belum menentukan TBBM mana yang menjadi pusat pengiriman.

Di sisi lain, pemerintah juga mendorong agar angkutan FAME di pelabuhan bisa diprioritaskan, seperti halnya angkutan sembako dan BBM.

Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) M.P. Tumanggor mengatakan, rencananya besok pemerintah akan kembali menggelar rapat di Kemenko Perekonomian membahas persoalan rantai pasok tesebut dengan mengundang sejumlah stakeholder, seperti Pertamina, Pelindo, Indonesian National Shipowners Association, dan lainnya.

Dia mengungkapkan penyaluran FAME seringkali mengalami keterlambatan lantaran harus mengantre di pelabuhan.

"Jangan jadi kapal urutan ketiga dia, harus sama lah perlakukan dengan BBM. Kalau macet 3 hari, sampai terjadi salurkan B0 kan repot," katanya.

Sebelumnya, Pertamina menyatakan sepanjang 1 – 25 September baru menerima FAME sebanyak 224.607 kiloliter (KL) dari total rencana penerimaan sebanyak 359.734 KL atau 62%.

Direktur Logistik, Supply Chain dan Infrastruktur Pertamina Gandhi Sriwidodo mengatakan penyaluran B20 belum dilakukan maksimal karena terlambatnya pasokan FAME dari beberapa badan usaha bahan bakar nabati (BU BBN) ke Terminal BBM Tanjung Uban, Bau-Bau, Wayame, Manggis, Tanjung Wang, Kupang, Maksasar, Bitung, STS Balikpapan dan STS Kotabaru.

Tag : Biodiesel
Editor : Sepudin Zuhri

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top