Perkuat Ekosistem Luring, Bukalapak Rangkul Warung dan Toko Kelontong

Bukalapak memfokuskan pengembangan ekosistem digital di luar marketplace dengan merangkul warung dan toko konvensional sebagai mitra Bukalapak.
N. Nuriman Jayabuana | 10 Oktober 2018 18:13 WIB
Logo Bukalapak

Bisnis.com, NUSA DUA -- Bukalapak memfokuskan pengembangan ekosistem digital di luar marketplace dengan merangkul warung dan toko konvensional sebagai mitra Bukalapak.

Founder sekaligus CEO Bukalapak Achmad Zaky mengungkapkan strategi tersebut dilakukan untuk melakukan digitalisasi sekaligus membuka akses pasar dan sistem distribusi yang lebih luas kepada bisnis mikro konvensional.

"Apa yang kami lihat adalah kebanyakan usaha kecil seperti warung dan toko kelontong belum melek digital dan tidak punya lapak online. Itu mengapa kami fokus merangkul mereka menjadi mitra Bukalapak," ujarnya  di sela gelaran Annual Meetings IMF-World Bank Group 2018 di Nusa Dua, Bali, Rabu (10/10/2018).

Zaky mengatakan begitu banyak teknologi dan produk digital yang dapat dieksplorasi melalui layanan omnichannel. Mitra tersebut dapat melayani pembayaran digital melalui teknologi pemindaian Quick Response (QR), menjual produk digital dan tiket perjalanan, serta mengakses kasir digital dan manajemen inventori berbasis komputasi awan dan lain-lain melalui aplikasi yang terpisah. 

Toko kelontong maupun warung yang tergabung sebagai mitra Bukalapak setidaknya dapat terhubung dengan mata rantai pasok yang lebih efisien, kanal distribusi yang lebih luas, dan produk finansial yang beragam.

Menurutnya, salah satu kendala yang menggerus daya saing ritel luring mikro merupakan rantai pasok yang berlapis. Inventori yang diperoleh umumnya berasal dari distributor yang mendapatkan pasokan dari beberapa lapis distributor lain.

Dengan tergabung sebagai mitra Bukalapak, toko ritel konvensional dapat memperoleh akses terhadap suatu produk secara langsung dari pabrikan seperti Unilever, Danone, Nestle, dan lain-lain.

Bukalapak turut memanfaatkan 25 infrastuktur pergudangan yang tersebar di berbagai wilayah untuk mendukung efisiensi rantai pasok bagi mitranya.  Dengan demikian, bisnis ritel konvensional dapat memperoleh harga produk yang lebih kompetitif.

"Banyak Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang kesulitan masuk ranah digital, misalnya tukang jajanan gorengan, donat, lemper dan sebagainya, kami selalu bertanya kenapa ya mereka tidak bisa scalable? Apa yang ingin kami lakukan adalah menyediakan supply chain dan saluran distribusi kepada mereka dengan terhubung ke dalam ekosistem warung mitra Bukalapak agar semakin kompetitif," papar Zaky.

Bukalapak sudah merangkul sekitar 300.000 warung maupun toko kelontong tergabung menjadi mitra dalam setahun terakhir. Marketplace ini menargetkan setidaknya dapat bermitra dengan lebih dari 1 juta bisnis ritel mikro konvensional dalam setahun ke depan.

Target angka mitra bisnis luring tersebut masih berada di bawah jumlah mitra pelapak luring di Bukalapak sebanyak 3,5 juta pelapak.

"Sebenarnya, antara pelapak dengan mitra Bukalapak adalah dua hal yang berbeda, barang yang dicari secara online biasanya bukan kebutuhan harian. Mitra warung dan marketplace jelas pasarnya berbeda. Tetapi, dari sisi kami, mitra Bukalapak bisa dibilang cukup complimentary dengan marketplace," lanjutnya.

Chief Strategy Officer Bukalapak Teddy Oetomo menerangkan inisiatif pengembangan ekosistem ke ranah luring tersebut awalnya bertujuan untuk meningkatkan literasi digital bisnis mikro.

Namun, inisiatif tersebut terus berkembang untuk menjadi bisnis tersendiri di luar marketplace Bukalapak. Lini bisnis offline to online Bukalapak tersebut diakui telah berkontribusi terhadap transaksi sekitar US$500 juta pada tahun ini. 

"Target pasar warung atau toko pinggir jalan mungkin orangnya itu-itu saja. Tapi volume transaksinya besar sekali dan banyak hal yang bisa terus dikembangkan, terutama dari sisi user experience," tuturnya.

Warung atau toko kelontong yang lebih umum memperdagangkan rokok, kopi, atau beragam jajanan lain dipandang dapat terus berkembang dengan menyediakan pilihan inventori yang lebih luas. Salah satunya dengan memperluas cakupan ketersediaan produk digital. 

"Kalau dulu mungkin mereka hanya menjual pulsa, sekarang bisa menjual tiket pesawat dan bayarnya pun pakai digital wallet atau kartu kredit. Banyak inovasi menarik yang kami kembangkan untuk mitra Bukalapak karena divisi ini cukup heavy capital on research," imbuh Teddy.

Tag : ukm, bukalapak
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top