Harga Kedelai dan Gandum Impor dari AS Bakal Naik, Ini Pemicunya

Harga komoditas pangan berbasis kedelai dan gandum yang diimpor dari Amerika Serikat bepeluang naik, karena terdampak gangguan masa panen dan tanam di negara tersebut.
Yustinus Andri DP | 09 Oktober 2018 13:37 WIB
Pekerja melakukan proses pengolahan kedelai di salah satu pabrik di Jakarta, Selasa (13/3/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA — Harga komoditas pangan berbasis kedelai dan gandum yang diimpor dari Amerika Serikat bepeluang naik, karena terdampak gangguan masa panen dan tanam di negara tersebut.

Berdasarkan laporan Bloomberg, sejumlah sentra pertanian di Amerika Serikat (AS) mengalami keterlambatan masa panen akibat hujan deras berkepanjangan. Tak ayal, sejumah lahan gandum dan kedelai—yang seharusnya sudah bisa dipanen—terendam banjir.

Musim hujan di beberapa sentra gandum dan kedelai AS sejak September 2018 juga berpotensi mengganggu masa tanam selanjutnya. 

Ekonom Indef Rusli Abdullah mengatakan, kondisi yang terjadi di AS harus diwaspadai oleh importir gandum dan kedelai Indonesia. Pasalnya, RI cukup ketergantungan impor kedua komoditas pangan itu.

“Dalam 2—3 bulan ke depan mulai tampak dampaknya ke Indonesia. Terlebih, AS adalah pemasok kedelai utama ke Indonesia. Untuk gandum, kabarnya para importir RI sedang mengalihkan pemasoknya dari Australia ke AS,” katanya kepada Bisnis.com, Senin (8/10/2018).

Menurutnya, potensi lonjakan harga kedelai dan gandum akibat gangguan masa panen dan tanam di AS akan menambah beban pengusaha RI setelah sebelumnya terdampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Untuk itu, Rusli berharap pebisnis dan importir melakukan manajemen stok dengan mencari negara sentra produksi lain. Dia menyarankan, pemasok kedelai dapat dialihkan ke Brasil dan Argentina. Sementara itu, pemasok gandum dapat dialihkan ke Argentina dan Kanada.

LEVEL TERTINGGI

Berdasarkan data dari Chicago Board of Trade, harga kedelai untuk kontrak Desember 2018, tercatat sempat naik ke level tertinggi tahun ini pada Sabtu (6/10) yaitu US$869 sen per bushel. Harga komoditas tersebut tetap berada di level tinggi kendati turun tipis menjadi US$866 sen per bushel pada Senin (8/1).

Sementara itu, harga gandum naik 0,58% dari hari sebelumnya pada Sabtu (6/10) menjadi US$521 sen per bushel, tetapi kembali turun pada Senin (8/10) ke level US$517 sen per bushel.

Sejumlah pengamat menilai, kenaikan harga berpeluang kembali terjadi setelah Departemen Pertanian AS berencana merevisi laporan dan proyeksi produksi pertanian Paman Sam pada akhir pekan ini.

Menanggapi hal itu, Ketua Asosiasi Kedelai Indonesia (Akindo) Yusan memperkirakan kenaikan harga kedelai di dalam negeri tidak akan terhindarkan. Terlebih, AS merupakan negara asal impor kedelai terbesar RI.

“Ada potensi untuk kenaikan harga kedelai. Namun, perhitungannya berapa dan kapan, saya belum tau, karena saya baru tahu ada informasi gangguan panen dan tanam kedelai di AS,” katanya.

Dia menjelaskan, selama ini pasokan kedelai dari luar negeri ke Indonesia relatif aman. Harga kedelai pun relatif terkendali karena depresiasi rupiah terkompensasi oleh turunnya harga kedelai secara global akibat perang dagang AS-China.

Dia menuturkan, harga kedelai di tingkat importir cenderung stabil di level Rp7.050/kg. Sementara itu, di tingkat produsen tahu dan tempe harganya berkisar antara Rp7.300/kg—Rp7.800/kg.

Direktur Eksekutif Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo) Ratna Sari Loppies mengaku, pengusaha belum terlalu khawatir akan dampak gangguan produksi di AS, karena masih terjadi di kawasan timur AS.

“Kami masih bisa mengalihkan impor gandum dari AS bagian barat ataupun utara. Sejauh ini kami melihat belum ada potensi gangguan pasokan dari AS, setelah kami mengalihkan impor dari Australia dan Ukraina ke AS dan Kanada,” ujarnya.

Pengalihan impor tesebut dilakukan demi mengurangi potensi kenaikan harga tepung terigu dan produk turunan gandum lain akibat gangguan pertanian di Negeri Kanguru dan Ukraina, yang selama ini menjadi pemasok gandum terbesar RI.

Dia pun meyakini, kenaikan harga tepung terigu akibat gangguan pasokan gandum dari AS belum akan terjadi dalam waktu dekat.

Ketua Umum Aptindo Franciscus Welirang sebelumnya memperkirakan, kenaikan harga tepung terigu pada semester II/2018 akan mencapai 10%. Hal itu disebabkan oleh pelemahan rupiah terhadap dolar AS dan kenaikan harga gandum global sebesar 20% sejak Maret 2018.

Tag : impor pangan
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top