AirNav Indonesia Libatkan Badan Geologi Petakan Bandara Rentan Bencana

Perum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia atau AirNav Indonesia akan bekerja sama dengan Badan Geologi dari Kementerian Energi Sumber Daya Mineral untuk memetakan wilayah mana saja yang berisiko terdampak bencana gempa maupun erupsi gunung berapi.
Rio Sandy Pradana | 04 Oktober 2018 21:24 WIB
Kondisi Bandara Mutiara Sis Al Jufri yang rusak akibat gempa di Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (29/9). - Antara

Bisnis.com, JAKARTA -- Perum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia atau AirNav Indonesia akan bekerja sama dengan Badan Geologi dari Kementerian Energi Sumber Daya Mineral untuk memetakan wilayah kerja yang berisiko terdampak bencana gempa maupun erupsi gunung berapi.

Direktur Utama AirNav Indonesia Novie Riyanto mengatakan langkah itu seiring dengan rencana mengkaji ulang desain beberapa menara pemandu lalu lintas udara (air traffic controller/ATC tower) agar tahan terhadap kondisi alam setempat.

Menurutnya, kejadian menara ATC Bandara SIS Mutiara Al-Jufri yang roboh pasca gempa di Palu hingga menelan korban jiwa menjadi pelajaran yang berharga. Terlebih, desain dari menara ATC yang dibangun sejak empat dekade silam tersebut sudah tidak sesuai.

"Jumlah tower [yang perlu disesuaikan] kami belum mendata, tetapi dengan kejadian ini kita belajar. Nantinya, tower akan kami sesuaikan dengan kebutuhan bandara dan kondisi alam setempat," kata Novie, Kamis (4/10/2018).
 
Dia menambahkan yang dimaksud desain menara sesuai dengan kondisi alam adalah menyangkut risiko gempa maupun bencana alam lain. Kajian tersebut juga akan menjadi acuan desain utama dalam membangun sebuah menara baru.

Pihaknya memperkirakan pembangunan satu unit menara lengkap beserta gedung perkantoran membutuhkan dana Rp20--30 miliar. Nominal tersebut tergantung pada ketinggian menara dan panjang landasan pacu (runway) bandara yang akan dipantau.

Novie menyebut apabila panjang runway hanya 2.000 meter, maka tinggi menara yang dibutuhkan cukup 30--40 meter dengan waktu pembangunan hanya enam bulan. Namun, bagi menara yang melayani bandara besar seperti di Cengkareng bisa lebih tinggi dan membutuhkan dana hingga Rp40 miliar dengan waktu pembangunan hingga satu tahun.

Menurutnya, alokasi anggaran untuk peralatan pada sebuah menara justru bukan menjadi kendala utama. Dana yang dibutuhkan untuk membeli peralatan biasanya hanya sekitar Rp1 miliar.

"Anggaran pembangunan ini tahun depan, banyak investasi yang akan kami lakukan. Bandara yang sedang dibangun akan langsung comply terhadap situasi alam sekitarnya," ujarnya.

Tag : Gempa Palu
Editor : Hendra Wibawa

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top