Jabsen & Jessen Ingredients Sasar Pasar Hotel, Restoran, dan Kafe

PT Jabsen & Jessen Ingredients Indonesia (JJII) menyasar sektor pasar hotel, restoran dan kafe (Horeka) untuk memperbesar bisnis maltnya di Indonesia.
Anggara Pernando | 04 Oktober 2018 22:03 WIB
Seorang Chef memerlihatkan salah satu jenis makanan saat peluncuran Kuliner Ramadan di hotel Novotel, Tangerang, Banten, Rabu (17/5). - Antara/Fajrin Raharjo

Bisnis.com, JAKARTA -- PT Jabsen & Jessen Ingredients Indonesia (JJII) menyasar sektor pasar hotel, restoran dan kafe (Horeka) untuk memperbesar bisnis maltnya di Indonesia.

Soenke Gloede, Presdiden Director JJII menuturkan saat ini produk malt yang diproduksi perusahaan hanya memasok sejumlah industri makanan dan minuman besar di Indonesia. Meski begitu itu, perusahaan mulai melakukan pengembangan bisnis dengan menyasar pasar usaha kecil dan menengah terutama sektor Horeka.

"Saat ini kami memasok 1.200 ton per tahun malt ke Indonesia [untuk industri manufaktur]. Masuk ke sektor ritel ini kami targetkan penjualannya tahun depan bisa 15 ton," kata Soenke di sela peluncuran kerjasama penggunaan malt JJII dengan jaringan toko kue First Love Patisserie di Jakarta, Kamis (4/10/2018).

Dia tidak bersedia menyebutkan besaran target penjualan malt dari sektor ritel. Meski begitu dia menyebutkan keputusan perusahaan masuk ke bisnis ritel dikarenakan terdapat potensi daya beli yang besar dari masyarakat Indonesia.

"Kelas menengah terus naik setiap tahun, artinya industri Horeka akan berkembang terus," katanya.

Malt merupakan olahan dari tanaman barley. Ini merupakan jenis serealia yang merupakan anggota suku padi-padian. Apabila dimasak langsung, barley memiliki tekstur kenyal dan rasa khas kacang, mirip dengan beras coklat. JJII menempatkan industri pengolahan barleynya di Thailand. Pabrikasi itu memasok kebutuhan untuk Asia Tenggara.

Soenke menuturkan saat ini pihaknya juga tengah menyiapkan pemasaran malt untuk konsumen akhir (b-t-c). Platform media digital akan menjadi sarana yang digunakan perusahaan untuk menjangkau masyarakat lebih luas.

"Kami perkirakan diluncurkan pada semester II/2019," katanya.

Soenke menuturkan, Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi besar. Meski begitu terdapat banyak tantangan dan dinamika yang harus dihadapi untuk bisnis bisa tumbuh di Indonesia. Dia menyatakan beberapa tantangan yang dihadapi seperti keharusan memperhatikan standar makanan halal hingga kesiagaan menjaga bisnis dari dampak pelemahan nilai tukar.

"Saat ini consumer kami masih bisa handle [belum menaikan harga jual ke konsumen], namun harga harga ditingkat konsumen pasti akan naik . Kami sendiri sudah beberapa kali menaikan harga jika dihitung dalam rupiah," katanya.

Menurut dia, tekanan nilai tukar masih akan belum berakhir. Meski begitu, dia mengharapkan pada 2019 nanti nilai tukar sudah stabil sehingga industri dapat memiliki kepastian dalam melakukan ekspansi.

Sementara itu Enny Ratnaningtyas, Direktur Industri Makanan, Hasil Laut dan Perikanan Kementerian Perindustrian menuturkan pihaknya mendorong investor memanfaatkan beragam insentif yang disediakan pemerintah sehingga principal ingredients masuk dan membangun manufakturnya di Indonesia.

Dia juga mengingatkan Indonesia kaya akan sumber bahan nabati yang berpotensi untuk pemenuhan kebutuhan industri makanan dan minuman. Selain itu, penduduk yang sangat besar menjadi potensi pasar yang sangat kuat.

"Kami harapkan di 2019 industri makanan dan minuman dapat tumbuh dua digit karena ada kampanye juga," katanya.

Tag : industri mamin
Editor : Maftuh Ihsan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top