Ekspor Produk Penunjang Infrastruktur Naik, Pengusaha Tak Untung Banyak

Kenaikan signifikan pada ekspor sejumlah produk penunjang infrastruktur sepanjang Januari—Agustus 2018 tak sepenuhnya menguntungkan produsen domestik di sektor tersebut.
Yustinus Andri DP | 02 Oktober 2018 14:31 WIB
Foto aerial proyek pembangunan Light Rail Transit (LRT) Koridor Velodrome-Kelapa Gading di Kelapa Gading, Jakarta, Selasa (16/1). Pembangunan infrastruktur LRT di kawasan itu terus dikebut dan diharapkan bisa beroperasi pada Agustus 2018 untuk menunjang perhelatan Asian Games 2018. ANTARA FOTO - Sigid Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA — Kenaikan signifikan pada ekspor sejumlah produk penunjang infrastruktur sepanjang Januari—Agustus 2018 tak sepenuhnya menguntungkan produsen domestik di sektor tersebut.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai ekspor produk besi dan baja sepanjang Januari—Agustus menembus US$4,11 miliar, melonjak 88,39% secara year on year (yoy). Sementara itu, ekspor kaca pada periode yang sama mencapai US$206,76 juta, naik 12,07% secara yoy.

Adapun, ekspor semen mencapai U$S154 juta, naik 74,36% secara yoy, pada periode yang sama. Ekspor aluminium pada rentang yang sama mencapai US$411,68 juta, meroket 43,46% secara tahunan.

Direktur Eksekutif Asosiasi Produsen Besi dan Baja (IISIA)Yerry mengatakan, kenaikan ekspor besi dan baja sepanjang tahun ini lebih disebabkan oleh kehadiran produsen baja nirkarat  (stainless steel) di Kawasan Industri Morowali.

Dari total volume ekspor besi dan baja sepanjang Januari—Agustus  2018 yang mencapai 3,626 juta ton, sebanyak 3 juta ton di antaranya disumbangkan oleh produsen baja nirkarat di Morowali.

“Ekspor baja nirkarat di Morowali mayoritas dikirim ke China, karena konsep mereka seperti itu. Produksi di sini, tapi langsung diekspor lagi ke China. Sementara itu, ekspor produk lainnya tergolong kecil dan disumbangkan oleh baja slap dan pipa baja,” ujarnya kepada Bisnis.com, Senin (1/10/2018).

Dia memprediksi tren kenaikan ekspor besi dan baja ini tidak akan bertahan lama. Pasalnya, produk baja slap selama ini diekspor karena kurangnya permintaan di dalam negeri. Namun, mulai tahun depan, produk tersebut akan diserap oleh pabrik hot rolled coil baru milik Krakatau Steel.

Selain itu, dia melihat adanya gangguan dari impor besi dan baja yang berlebihan di dalam negeri, yang mencapai US$6,3 juta pada Januari—Agustus 2018 dari capaian US$4,8 juta pada periode yang sama tahun lalu.

“Masih ada dugaan penyalahgunaan kode HS ketika importir memasukkan produk besi baja ke dalam negeri. Kode HS  untuk alloy justru digunakan untuk baja karbon, sehingga mudah untuk lolos ke dalam negeri dan impor kita bengkak,” jelasnya.

KEPUTUSAN PEBISNIS

Sementara itu, Ketua Asosiasi Kaca Lembaran dan Pengaman (AKLP) Yustinus Gunawan menyebutkan, kenaikan ekspor kaca lebih disebabkan oleh keputusan para pengusaha agar tingkat utilitas pabrik terjaga setidaknya di atas 70%.

Pasalnya, utilitas yang disumbangkan dari pangsa ekspor mencapai 30% dari total kapasitas terpasang industri kaca Tanah Air sebesar 1,225 juta ton. Dengan permintaan dalam negeri yang hanya 750.000 ton per tahun, para pengusaha akan terbebani oleh biaya operasional pabrik, terutama untuk menjaga agar tungku pemanasan beroperasi di batas wajar yakni 1.650 derajat celcius.

“Kenaikan nilai ekspor kaca hingga Agustus relatif masih di batas wajar. Nilai itu akan lebih tinggi lagi jika pemerintah menurunkan harga gas untuk industri sehingga jadi insentif untuk produksi dan bisa lebih murah harga jualnya, baik untuk ekspor maupun serapan dalam negeri,” jelasnya.

Di sisi lain, Ketua Asosiasi Semen Indonesia (ASI) Widodo Santoso mengatakan, kenaikan ekspor semen pada tahun ini lebih dipicu oleh turunnya produksi komoditas tersebut di China. Di sisi lain, Indonesia sedang mengalami kelebihan pasokan sebesar 30 juta ton pada tahun ini.

Berdasarkan data BPS sepanjang Januari—Agustus tahun ini, volume ekspor semen dan clinker menembus 3,62 juta ton. Capaian tersebut meroket 95,8% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 1,85 juta ton.

“Namun, tren positif kami ini jangan dikacaukan oleh impor semen yang tak dibutuhkan. Kami susah payah mengekspor ini untuk menjaga tingkat utilitas kami dan menjaga pendapatan untuk untuk operasional perusahaan,” katanya.

Sementara itu, ekonom Core Indonesia M. Faisal berpendapat, pemerintah harus terus menjaga keberlangsungan produksi industri manfaktur yang memiliki peluang ekspor tersebut dengan memberikan insentif dan kebijakan perlindungan dari serangan produk luar negeri.

Selain menjaga agar tidak terjadi deindustrialisasi akibat iklim usaha industri domestik yang tak terjaga, sebutnya, keberlangsungan ekspor produk-produk penunjang infrastruktur akan mempermudah pemerintah mendapatkan devisa.

“Adanya ekspor untuk produk-produk penunjang infrastruktur ini menjadi kabar baik bagi kita, terlebih setelah pemerintah menunda sejumlah proyek strategis nasionalnya. Namun, tren ini harus terus dijaga, supaya kelak menjadi solusi untuk mengerek surplus neraca perdagangan kita,” katanya.

Tag : ekspor nonmigas
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top