Pengusaha Tuna Nantikan Riset Soal Umpan

Pelaku usaha berharap pemerintah mendorong pengembangan riset alternatif dari ikan jenis pelagis kecil yang berfungsi sebagai umpan penangkapan ikan tuna.
Juli Etha Ramaida Manalu | 01 Oktober 2018 19:46 WIB
Pekerja membersihkan dan memotong ikan tuna untuk diekspor di tempat pengolahan UD. Nagata Tuna, Banda Aceh, Aceh, Jumat (26/1/2018). - ANTARA/Irwansyah Putra

Bisnis.com, JAKARTA—Pelaku usaha berharap pemerintah mendorong pengembangan riset alternatif dari ikan jenis pelagis kecil yang berfungsi sebagai umpan penangkapan ikan tuna.

General Manager Asosiasi Perikanan Pole & Line dan Handline Indonesia (AP2HI) Abdul Muis Sulaiman menyebutkan tingginya selisih antara ketersediaan dan kebutuhan umpan membuat penangkapan ikan tuna menggunakan pancing atau yang lebih dikenal dengan istilah huhate di kalangan masyarakat Ambon ini semakin tidak kompetitif karena biaya yang tinggi.

“Di Ambon, 10-20 tahun lalu, karena kondisi umpan masih bagus dia [nelayan] enggak perlu 7 hari melaut, cukup 3-4 hari dia sudah dapat [ikan tuna] karena kan umpannya juga sudah tersedia,” katanya kepada Bisnis di sela-sela Dialog Nasional 2018 dengan tema Aktualisasi Kebijakan Berbasis Sains untuk Mendukung Pembangunan Kelautan dan Perikanan Berkelanjutan, Senin (1/10).

Riset dan aturan terkait alat tangkap untuk ikan yang berfungsi sebagai umpan ini menjadi penting. Tanpa adanya umpan, penangakapn ikan dengan huhate atau pole and line fishing yang merupakan teknik penangkapan ikan ramah lingkungan dan berkelanjutan ini tidak akan bisa bertahan ke depan.

Penggunaan huhate dinilai ramah lingkungan karena hanya menangkap hasil tangkapan utama yakni tuna tanpa adanya side catch seperti ketika menggunakan purse seine atau alat tangkap lain.

Dia menjelaskan, sebelumnya, para nelayan bisa memesan umpan berupa ikan teri, ikan mayang dan ikan pelagis kecil lain dengan warna mengkilat segar atau dalam keadaan hidup sehari sebelum berlayar. Pasalnya, tuna hanya tertarik dengan umpan hidup. Kalaupun kehabisan umpan saat berlayar, mereka bisa menemukan umpan dengan mudahnya.

Namun, saat ini, untuk satu kali berlayar dengan waktu 7 hari, para nelayan biasanya menghabiskan total 3-4 hari untuk mencari umpan.

Adapun kebutuhan umpan biasanya mencapai rata-rata 500-750 kilogram untuk bisa memenuhi kapal berukuran 29 gross tonage (GT) dengan 10-15 ton ikan tuna atau dengan rasio 1 kg umpan untuk 20 kg tangkapan tuna.

Untuk jangka waktu pelayaran tersebut biasanya menghabskan dana hingga Rp50 juta sekali berlayar guna menutupi kebutuhan pembelian umpan, membayar jasa awak kapal, bahan bakar serta keperluan lain.

Bertambahnya waktu yang dibutuhkan untuk memenuhi tangkapan kapal akibat semakin minimnya umpan membuat  biaya yang dikeluarkan semakin besar. Akibatnya, harga tangkapan tuna menggunakan sistem ini menjadi tidak kompetitif bila dibandingkan dengan tangkapan menggunakan alat tangkap lain seperti purse seine.

Beruntung, tambah Abdul Muis, sejumlah konsumen, khususnya dari luar negeri berani memberi harga premium untuk produk ikan tuna yang ditangkap menggunakan pole and line ini. Teknik penangkapan yang berkelanjutan memberikan nilai tambah bagi produk hasil tangkapannya.

Lebih lanjut, dia juga menanti adanya aturan terkait penggunaan alat tangkap untuk ikan-ikan pelagis kecil ini demi menjaga ketersediaannya di masa depan.

Pasalnya, di samping meningkatnya konsumsi ikan pelagis kecil oleh masyarakat, penggunaan alat tangkap yang kurang ramah lingkungan pun diduga menjadi salah satu penyebab semakin menyusutnya temuan ikan-ikan yang berfungsi sebagai umpan ini.

Pole & line,  menurut Abdul, berkontribusi hingga 10-15% terhadap total tangkapan tuna Indonesia. Sementara Itu, Asosiasi Tuna Indonesia (Astuin) mencatat total tangkapan tuna Indonesia mencapai 153,39 ton per 1 Juli 2017, sedangkan sepanjang 2016 total tangkapan tuna mencapai 600,64 ton.

Tag : perikanan, ikan tuna
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top