Ini Saran Desainer agar Industri Fesyen Muslim Berdaya Saing Internasional

Indonesia ditargetkan menjadi kiblat fesyen muslim dunia pada 2020. Desainer fesyen muslim Windri Widiesta Dhari menilai pelaku industri fesyen muslimah perlu membuat produknya berdayasaing internasional. Ia berbagi beberapa saran bagi pelaku industri.
Wibi Pangestu Pratama | 01 Oktober 2018 21:14 WIB
Presiden Joko Widodo menerima komunitas fesyen muslim di Istana Bogor, Kamis (26/4). - JIBI - Amanda Kusumawardhani

Bisnis.com, JAKARTA – Indonesia ditargetkan menjadi kiblat fesyen muslim dunia pada 2020. Desainer fesyen muslim Windri Widiesta Dhari menilai pelaku industri fesyen muslimah perlu membuat produknya berdayasaing internasional. Ia berbagi beberapa saran bagi pelaku industri.

Windri Widiesta Dhari, pemilik merek fesyen muslim Nur Zahra, menyampaikan produknya dapat bersaing di pasar internasional berkat kerjasama dengan banyak pihak. Hal tersebut disampaikan Windri kepada Bisnis di pagelaran Indonesia Moslem Fashion Expo pada Senin (01/10/2018) di gedung Kementerian Perindustrian, Jakarta

Windri menyampaikan, pelaku industri fesyen muslim harus dapat menemukan mitra dalam seluruh proses produksi yang dapat mendorong kualitas produksi. Ia sendiri menjalin kerjasama dengan pengrajin batik yang menyuplai bahan baku kain.

Pemilihan pengrajin batik tersebut menurut Windri merupakan titik penting, karena ia bisa mendapat bahan baku berkualitas tinggi yang dapat diminati pasar internasional. Windri menjelaskan diperlukan adanya pengrajin yang berstandar tinggi.

Pelaku industri fesyen muslim selanjutnya harus memiliki konsistensi dan identitas. Konsistensi penting agar identitas merek dikenali khalayak luas.

"Karena mereka itu kalau beli bukan beli tahun ini. Kalaupun mereka sudah kenal saya, biarpun saya punya brand duluan, dia enggak akan beli tahun ini. Dia akan lihat next season," tutur Windri kepada Bisnis saat ditemui di gerainya.

Hal lain yang perlu dilakukan pelaku industri fesyen muslim menurut Windri adalah menonjolkan nilai Indonesia dalam produknya. Windri mencontohkan produknya yang memadukan batik dalam busana muslim. Ciri khas Indonesia membuat karya tersebut dimuat di majalah Vogue.

"Karena yang mereka cari itu uniqueness ya. Kalau kita begini [menunjuk kain polos] terus kita bikin secakep apapun juga [desainnya] pasti akan kalah sama brand yang sana [dari luar]. Tapi kalau kita begini terus kita tiba-tiba kasih sedikit apa [ciri khas Indonesia], terus ada story-nya, itu mereka suka," jelas Windri.

Windri sendiri menilai Indonesia memiliki potensi untuk bersaing dalam kancah fesyen muslim di dunia. Saat ini pun Indonesia tercatat sebagai lima negara anggota Organisasi Kerjasama Islam pengekspor fesyen muslim terbesar.

Tag : fesyen
Editor : Maftuh Ihsan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top