Operasi Beras harus Dirombak, Masyarakat lebih Suka Beras Premium Bawah

Strategi operasi pasar Bulog untuk mengendalikan harga beras dinilai harus berubah seiring dengan tanda-tanda peralihan preferensi konsumsi masyarakat dari beras varietas medium ke premium.
Yustinus Andri DP | 25 September 2018 11:54 WIB
Konsumi, stok, dan harga beras di Indonesia. - Bisnis/Radityo Eko

Bisnis.com, JAKARTA — Strategi operasi pasar Bulog untuk mengendalikan harga beras dinilai harus berubah seiring dengan tanda-tanda peralihan preferensi konsumsi masyarakat dari beras varietas medium ke premium.

Operasi pasar beras menjadi topik headline koran cetak Bisnis Indonesia edisi Selasa (25/9/2018). Berikut laporannya.

Dewan Pembina Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia M. Husein Sawit menilai, pengendalian harga dan inflasi melalui operasi pasar (OP) beras oleh Perum Bulog (Persero) tak lagi ampuh. Pasalnya, beras kualitas medium atau rendah kini tidak lagi banyak beredar di kota-kota besar.

“Saat ini konsumen beras cenderung menyukai beras premium bawah hingga beras organik. Fenomena ini harus ditangkap oleh para pemangku kepentingan, agar agar OP tepat sasaran,” ujarnya, dalam Roundtable Ketahanan Pangan Menjelang Tahun Politik 2019 yang digelar Kadin Indonesia, Senin (24/9).

Kondisi tersebut didukung pula oleh ketentuan dalam Peraturan Menteri Perdagangan No. 57/2017 yang menyatakan beras dengan derajat pecah maksimal 15% termasuk ke dalam kategori premium.

Padahal, kriteria beras premium sebelumnya selalu mengikuti sistem internasional yakni dengan tingkat pecahan maksimal 5%. Akibat pergeseran ketentuan kriteria beras dalam Permendag itu, perubahan preferensi pembelian beras konsumen di Indonesia menjadi tak terhindarkan.

Di sisi lain, menurut Husein, OP Bulog masih dilakukan hanya dengan menggunakan beras medium. Alhasil, polemik mengenai tingginya harga beras nasional masih terus terjadi.

Sekadar catatan, data Pusat Harga Pangan Strategis Nasional per Senin (24/9) menunjukkan rerata harga beras masih berada pada level Rp11.700/kg, jauh di atas ketetapan harga eceran tertinggi (HET) beras medium senilai Rp9.450/kg.

“Belum lagi, para pedagang kecil menjadikan pedagang beras besar—yang lebih banyak menjual beras premium—sebagai acuan pergerakan harga. Padahal, kualitas yang dijual berbeda,” tambahnya.

Guru Besar Institut Pertanian Bogor, sekaligus mantan Wakil Menteri Perdagangan, Bayu Krisnamurthi, mengungkapkan berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi) di 11 kota besar, OP Bulog sudah tidak lagi efektif mengendalikan harga beras.

Dia menjelaskan, pemerintah tidak peka pada perubahan pola konsumsi masyarakat. Pasalnya, pemantauan oleh Bulog dan kementerian teknis terkait masih terbatas pada kota/daerah yang mengalami gejolak harga beras. Padahal, terdapat perubahan pola konsumsi yang menciptakan gejolak harga yang tak terpantau.

Menurutnya, selama ini harga beras medium relatif stabil karena terpengaruh oleh gelontoran beras untuk rakyat miskin (raskin). Di sisi lain, di pasar institusional, seperti supermarket, harganya juga stabil karena sistem pembeliannya terikat kontrak.

“Nah, konsumen di pasar spot atau pasar becek yang mengonsumsi beras premium bawah inilah yang belum terpantau oleh pemerintah. Padahal, di segmen inilah terjadi gejolak harga yang paling besar. Sementara itu, Bulog intervensi pasarnya masih menggunakan beras medium.”

DATA SPESIFIK

Untuk itu, dia menyarankan agar Bulog memperbanyak jenis beras yang digunakan untuk intervensi pasar. Selain itu, dia meminta adanya data tunggal yang lebih spesifik terkait dengan neraca produksi dan konsumsi beras nasional, sebagai acuan untuk mengeksekusi kebijakan OP.

Direktur Utama PT Food Station Tjipinang Jaya Arief Prasetyo mengonfirmasi, saat ini stok beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) lebih banyak jenis premium (80%) dibandingkan dengan medium (20%). Stok tersebut, lanjutnya, disesuikan dengan kebutuhan pasar.

“Ada kemungkinan, masyarakat yang daya belinya mengalami peningkatan memilih beras berkualitas premium. Terlebih, pedagang saat ini lebih memilih menjual beras premium tetapi kelas bawah, karena harganya yang dinilai lebih menguntungkan,” katanya.

Menanggapi hal itu, Direktur Utama Bulog, Budi Waseso, mengakui perubahan preferensi konsumsi beras di Indonesia. Namun, menurutnya, perubahan tersebut belum terlalu besar.

Dia mengklaim, kebutuhan akan beras medium di masyarakat masih besar, sehingga OP Buog saat ini masih berfungsi dengan baik. Bahkan, menurutnya, masih ada daerah yang menjual beras medium di seharga Rp8.500/kg.

“Kalau untuk OP menggunakan beras premium, jelas kami kesulitan. Sebab mandat dari pemerintah, operasi pasar itu menggunakan beras medium. Stok beras premium yang kami miliki pun disalurkan untuk sektor komersial,” ujarnya.

Menurutnya, dalam proses penyerapan beras, Bulog harus menggunakan dana pinjaman dari perbankan. Apabila Bulog menyerap beras premium dengan harga yang lebih tinggi dari beras medium, dikhawatirkan semakin membuat arus kas perseroan terbebani.

Menurut Direktur Pengadaan Bulog, Bachtiar, stok beras premium di Bulog saat ini mencapai 140.000 ton. Jumlah tersebut termasuk dalam penyerapan beras dari petani oleh Bulog, yang sampai saat ini mencapai 1,4 juta ton.

Sementara itu, Kepala Badan Pengkajian Perdagangan Kementerian Perdagangan menyebutkan, OP Bulog akan lebih bertaji apabila didasari oleh data akurat tentang pola konsumsi dan produksi beras nasional.

“Tujuannya supaya stok beras 3%—5% terhadap konsumsi nasional setiap bulannya. Jadi, stok beras yang dimiliki Bulog lebih tepat sasaran jika sewaktu-waktu dibutuhkan untuk intervensi pasar.”

Tag : Harga Beras
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top