Apsyfi Berkomitmen Lestarikan Sungai Citarum

Pelaku industri tekstil hulu berkomitmen untuk melakukan upaya pelestarian lingkungan, terutama di sungai Citarum.
Annisa Sulistyo Rini | 23 September 2018 21:14 WIB
Suasana pemandangan sungai Citarum di kawasan Rajamandala, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Senin (15/1). - ANTARA/Raisan Al Farisi

Bisnis.com, JAKARTA--Pelaku industri tekstil hulu berkomitmen untuk melakukan upaya pelestarian lingkungan, terutama di sungai Citarum.

Seperti diketahui, sungai terpanjang di Jawa Barat ini sebelumnya dinyatakan sebagai sungai yang paling tercemar di dunia. Berdasarkan paparan Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat, sektor industri dan pertanian menyumbang 36% dari limbah yang dibuang ke sungai tersebut.

Ravi Shankar, Ketua Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APsyFI), mengatakan sektor tekstil hulu merupakan industri padat modal dan bersifat long-term. Oleh karena itu, diperlukan upaya pelestarian lingkungan agar sumber daya alam yang ada, terus terpelihara untuk mendukung keberlanjutan industri.

"Kami mendukung program untuk lingkungan karena membutuhkan banyak energi dan air untuk produksi," ujarnya belum lama ini.

Menurut data Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, di sepanjang aliran Sungai Citarum, terdapat kurang lebih 1.629 pelaku usaha. Pelaku industri tekstil dan produk tekstil (TPT) mendominasi sebesar 53% dari total industri yang ada di aliran Sungai Citarum.

Redma Gita Wirawasta, Sekjen APSyFI, menyebutkan pihaknya mendukung program pelestarian Sungai Citarum, yaitu Citarum Harum yang dicetuskan pada tahun ini oleh pemerintah melalui Perpres No.15/2018. Industri tekstil, katanya, harus bisa membuktikan bahwa bisnis dikelola dengan baik dan tidak mencemari lingkungan karena tuntutan standar dari konsumen, terutama dari Eropa atau Amerika.

"Sebagai contoh, misal Nike order apparel, mereka akan melihat standar industri garmen ramah lingkungan enggak. Mereka akan telusuri dari hulu sampai hilir karena isu lingkungan dan sosial sangat sensitif," jelasnya.

Salah satu anggota APSyFI, PT South Pasific Viscose, menargetkan bisa memperoleh predikat hijau pada tahun depan. Saat ini, SPV mendapatkan predikat biru.

Perseroan mengandeng 2 konsultan asal India dan Korea Selatan untuk menyempurnakan instalasi pembuangan air limbah yang ada supaya lebih ramah lingkungan dan memenuhi peraturan pemerintah untuk mendapatkan predikat hijau tersebut.

"Kami saat ini fokus dalam memenuhi 3 syarat yang ditetapkan untuk memperoleh predikat hijau, yaitu environmental management system, resources utilization, dan community development," kata Christian Oberleitner, President Director SPV.

SPV juga tergabung ke dalam kelompok perusahaan yang mendukung program nasional Citarum Harum. Sungai Citarum merupakan sungai terpanjang di Jawa Barat. Selain itu, anak usaha Lenzing ini menargetkan paling lambat pada 2022 bisa memenuhi standar EU Ecolabel pada produknya.

Christian menuturkan perusahaan berkomitmen untuk menerapkan standar tersebut karena 50% produknya dikirim ke pasar global. Dengan memiliki standar EU Ecolabel, maka produk perusahaan bakal mudah untuk masuk ke pasar Eropa, Amerika, dan lainnya.

"Untuk bisa memenuhi standar ini, perlu investasi tambahan, sekitar US$50 juta untuk beberapa tahun ke depan," katanya.

Adapun, saat ini tercatat sebanyak 22 perusahaan menjadi anggota APSyFI yang memproduksi polyester dan rayon dengan total nilai investasi US$10,03 miliar dan turn over US$5,4 miliar. Serapan tenaga kerja sektor industri tekstil hulu sebanyak 100.000 orang secara langsung dan 800.000 secara tidak langsung.

Tag : sungai citarum
Editor : Maftuh Ihsan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top