Konsumsi Semen Domestik Tumbuh 4,3% per Agustus 2018

Konsumsi semen domestik sepanjang Januari-Agustus 2018 tumbuh 4,3% secara tahunan. Angka ini melambat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dengan pertumbuhan sebesar 5,7% y-o-y.
Annisa Sulistyo Rini
Annisa Sulistyo Rini - Bisnis.com 18 September 2018  |  20:26 WIB
Konsumsi Semen Domestik Tumbuh 4,3% per Agustus 2018
Pekerja mengerjakan pembangunan salah satu perumahan mewah di Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Senin (15/1). Data Bank Indonesia (BI) menyebutkan, kredit real estate tumbuh 8,7 persen atau menjadi Rp135,7 triliun per November 2017, sementara kredit pemilikan rumah (KPR) dan kredit pemilikan apartemen (KPA) tumbuh 11 persen. ANTARA FOTO - Aditya Pradana Putra

Bisnis.com, JAKARTA—Konsumsi semen domestik sepanjang Januari-Agustus 2018 tumbuh 4,3% secara tahunan. Angka ini melambat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dengan pertumbuhan sebesar 5,7% y-o-y.

Berdasarkan data Asosiasi Semen Indonesia (ASI), serapan semen dalam negeri secara kumulatif hingga bulan kedelapan sebesar 42,91 juta ton, sedangkan konsumsi pada Agustus sendiri sebesar 6,53 juta ton, naik tipis 0,6% y-o-y.

Walaupun konsumsi secara kumulatif menunjukkan perlambatan, produsen semen masih optimistis tahun ini lebih baik dibandingkan 2017. Agung Wiharto, Corporate Secretary Semen Indonesia, mengatakan pasalnya pertumbuhan Agustus dibandingkan Juli masih dinilai cukup baik, yaitu sebesar 2,88% m-t-m.

“Menurut saya tahun ini masih cukup bagus dengan pertumbuhan 8 bulan pertama sebesar 4,3% y-o-y, masih sesuai ekspektasi. Kita juga harus melihat dulu sampai akhir tahun kondisinya seperti apa,” ujarnya Selasa (18/9/2018).

Agung menuturkan pelaku industri semen memperkirakan tahun ini konsumsi domestik nasional berkisar antara 5% hingga 6%. Pendorong pertumbuhan konsumsi dalam negeri masih berasal dari proyek infrastruktur.

Hal tersebut terlihat dari pertumbuhan penjualan semen bulk atau semen curah tumbuh 12% hingga Agustus 2018, sedangkan semen ritel hanya tumbuh 2%. Kendati demikian, penjualan semen sak masih mendominasi total penjualan dengan porsi sekitar 70%.

Penyerap semen ritel antara lain sektor properti, proyek pembangunan berskala kecil, dan end user atau masyarakat yang membutuhkan semen untuk merenovasi atau membangun rumah secara tradisional. Adapun, semen bulk banyak diserap oleh pembangunan berskala besar, seperti proyek bandara, jalan tol, bendungan, dan lainnya.

Apabila dirinci, permintaan semen dalam negeri masih terpusat di Jawa dengan porsi sebesar 56,05% dari total serapan, disusul oleh Sumatera dan Sulawesi. Pada periode tersebut, hanya Jakarta dan Jawa Timur yang mencatatkan penurunan.

“Kalau di Jakarta wajar turun karena sebelumnya ada proyek Asian Games dan Agustus sudah selesai,” jelasnya.

Sekretaris Perusahaan Indocement Tunggal Prakarsa Antonius Marcos mengatakan pada Januari 2018—Agustus 2018, total penjualan yang dibukukan oleh perseroan mencapai 11,5 juta ton. Pencapaian tersebut tumbuh 7% dibandingkan dengan periode yang sama pada 2017.

“Kami berharap bulan bulan berikutnya pertumbuhan konsumsi nasional dapat terus meningkat,” ujarnya.

Pada Agustus 2018, penjualan emiten berkode saham INTP tersebut tumbuh 1% secara tahunan atau sejalan dengan pertumbuhan konsumsi semen nasional.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
semen

Editor : Maftuh Ihsan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top