SCG Indonesia Raih Penjualan US$221 Juta pada Kuartal II/2018

Siam Cement Group (SCG) Indonesia melaporkan pendapatan dari penjualan QII/2018 senilai Rp3,07 triliun (US$221 juta).
Annisa Sulistyo Rini | 31 Juli 2018 22:32 WIB
Presiden Direktur PT Catur Sentosa Adiprana Tbk. (CSAP) Budyanto Totong (kiri), berbincang dengan President CBM Business Siam Cement Group (SCG) Aree Chavalitcheewingul, di sela-sela penandatanganan kerja sama di Jakarta, Senin (16/7). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA--Siam Cement Group (SCG) Indonesia melaporkan pendapatan dari penjualan QII/2018 senilai Rp3,07 triliun (US$221 juta).

Berdasarkan keterangan resmi yang diterima, Selasa (31/7/2018), pendapatan tersebut mencakup penjualan dari operasional di dalam negeri dan impor dari Thailand. Ini mewakili peningkatan sebesar 26% y-o-y terutama dari produk petrokimia dan impor dari Negeri Gajah Putih tersebut.

Total aset SCG di Indonesia pada kuartal II/2018 senilai Rp21,26 triliun (US$1,4 miliar). Selama periode semester I/2018, SCG di Indonesia melaporkan pendapatan dari penjualan senilai Rp6,25 triliun (US$ 457 juta), tumbuh 21% y-o-y.
 
Di Indonesia, SCG baru saja mengakuisisi 29% saham di PT Catur Sentosa Adiprana Tbk., perusahaan ritel modern di Indonesia yang menjual produk bahan bangunan dan rumah tangga. 

Akuisisi ini dimanfaatkan perusahaan untuk memperbanyak toko retail, guna memperluas jangkauan distribusi material dan bahan bangunan serta produk rumah tangga lainnya. CSA memiliki dua lini bisnis utama yaitu toko ritel modern yang bernama "Mitra10" serta bisnis pendistribusian produk-produk rumah tangga.

Mitra10 adalah toko ritel modern untuk produk-produk rumah tangga, yang telah memiliki 27 cabang di kota-kota besar. CSA menargetkan pembangunan 50 toko baru Mitra10 hingga akhir 2021 guna memperkuat pangsa pasar.

Pada lini bisnis lainnya, yaitu distribusi produk bahan bangunan, CSA telah memiliki akses ke lebih dari 30.000 toko ritel tradisional di berbagai wilayah di Indonesia.

Roongrote Rangsiyopash, Presiden dan CEO SCG, mengatakan perusahaan bergerak maju untuk memperluas core bisnis perusahaan di wilayah Asia Tenggara. 

"Salah satu proyek besar kami saat ini adalah pembangunan kompleks petrokimia pertama di Vietnam, Long Son Petrochemicals Company Limited (LSP)," katanya.

Setelah batu peletakan pertama yang dihadiri oleh Perdana Menteri Vietnam dan pejabat tinggi Vietnam pada Februari lalu, perkembangan pembangunan kompleks ini telah memperlihatkan banyak kemajuan. 

Pada Juni tahun ini, SCG meningkatkan kepemilikannya dari 71% menjadi 100%, dan dijadwalkan akan menandatangani paket pinjaman senilai US$3,2 miliar yang berasal dari institusi finansial domestik maupun mancanegara di Agustus. 

Proyek ini telah siap dilanjutkan ke fase Engineering, Procurement, dan Construction (EPC) di QIII/2018 dan ditargetkan akan mulai beroperasi pada QI/2023. 

"Proyek ini akan menciptakan banyak lapangan kerja, memberikan kontribusi pendapatan terhadap negara, yang secara langsung dapat meningkatkan iklim industri dan ekonomi Vietnam," kata Roongrote.

Tag : siam cement
Editor : Maftuh Ihsan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top