Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Antisipasi Wabah Zoonosis Kementan Koordinasi dengan pihak Terkait

Kementerian Pertanian, Kemenko PMK, dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyelenggarakan kegiatan Table Top Simulation (TTS) di Medan, untuk menghadapi kedaruratan penyakit zoonosis dengan pendekatan One Health.
Juli Etha Ramaida Manalu
Juli Etha Ramaida Manalu - Bisnis.com 27 Juli 2018  |  20:52 WIB
Antisipasi Wabah Zoonosis Kementan Koordinasi dengan pihak Terkait
Tikus, salah satu penyebab Zoonosis - Istimewa
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA- Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan bekerjasama dengan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyelenggarakan kegiatan Table Top Simulation (TTS) di Medan, untuk menghadapi kedaruratan penyakit zoonosis dengan pendekatan One Health.

Direktur Kesehatan Hewan, Fadjar Sumping Tjatur Rasa menyampaikan kegiatan simulasi di daerah ini adalah untuk meningkatkan kapasitas pemerintah Indonesia, khususnya pemerintah daerah dalam mencegah, mendeteksi dan mengatasi wabah Penyakit Infeksi Emerging (PIE) melalui peningkatan koordinasi multisektoral.

Menurutnya, perubahan kondisi dunia akibat pertumbuhan populasi manusia dan hewan yang sangat cepat, urbanisasi, penurunan kualitas lingkungan, sistem pertanian dan peternakan yang berubah, serta lalu lintas manusia/ hewan/produk hewan telah menyebabkan peningkatan risiko munculnya (PIE).

“Jika penyakit PIE ini tidak ditangani dengan baik, maka akan dapat menyebabkan wabah yang dapat mengancam keselamatan masyarakat dan dapat berdampak terhadap perekonomian di Indonesia,” ungkapnya seperti dikutip dari keterangan pers, Jumat (27/7/2018).

Table Top Simulation (TTS) pun didukung oleh program Australia Indonesia Partnership for Emerging Infectious Diseases (AIPEID), PnR USAID, WHO, dan FAO sebagai mitra pemerintah dalam upaya mencegah, mendeteksi dan mengatasi wabah penyakit infeksi emerging (PIE).

Kegiatan yang melibatkan semua sektor terkait ini menurut Fadjar Sumping sesuai dengan Pedoman Koordinasi dan Kerjasama Lintas Sektoral dalam kerangka “One Health” yang yang diluncurkan oleh Kemenko PMK dan PnR USAID, dan Pedoman Pelaksanaan Sistem Manajemen Keadaan Darurat Kesehatan Hewan yang susun oleh Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan dengan dukungan AIPEID.

Kegiatan simulasi yang sama juga telah dilaksanakan di kota Bogor, Manado, dan Bali sejak awal tahun 2018.

“ Kita harapkan kegiatan simulasi ini dapat menjadi pioneer dan contoh bagi daerah lain di dalam penanganan kedaruratan kesehatan hewan zoonosis dan PIE lintas sektoral,” katanya.

Kate Smith, Perwakilan dari DFAT Australia mengatakan bahwa kesiapsiagaan menghadapi masuknya wabah penyakit hewan darurat dan zoonosis yang berpotensi sebagai bencana non alam merupakan hal yang sangat penting.

Dengan kesiapsiagaan tersebut, dugaan wabah penyakit hewan zoonosis dan penyakit infeksi emerging (PIE) dapat segera ditangani secara efektif, cepat, dan tepat, sehingga dampaknya dapat ditekan seminimal mungkin.

Sementara itu, Adrian Coghill, Team Leader AIPEID menyampaikan kegiatan ini memberikan peluang yang besar bagi semua instansi pemerintah yang terkait.

Pemerintah di tingkat pusat, regional, provinsi dan kabupaten dapat bekerjasama dan membuat jejaring bersama, saling memahami peran dan tanggung jawab masing-masing, serta menguji sistem kedaruratan yang ada saat ini sekaligus menyesuaikan dengan kondisi di wilayah masing-masing.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kementan penyakit Zoonosis
Editor : Rustam Agus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top