Produksi Telur Ayam Sempat Tergerus

Larangan penggunaan zat antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan dalam campuran pakan diklaim mulai menggerus produksi telur ayam. Minimnya sosialisasi tentang zat subtitusi menjadi penyebab utama.
Pandu Gumilar | 22 Juli 2018 15:39 WIB
Pekerja mengambil telur di kandang ayam di Cipedes, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Senin (25/9). - ANTARA/Adeng Bustomi

Bisnis.com, JAKARTA – Larangan penggunaan zat antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan dalam campuran pakan diklaim mulai menggerus produksi telur ayam. Minimnya sosialisasi tentang zat subtitusi menjadi penyebab utama.

Pelarangan penggunaan zat antibiotik pemacu pertumbuhan (antibiotic growth promoter/AGP) untuk tambahan pakan ternak termaktub dalam Permentan no.14/2017 tentang Pendaftaran dan Peredaran Pakan Ternak yang resmi berlaku mulai 1 Januari 2018.

Ketua Umum Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Petelur Nasional Yudianto Yosgiarso mengatakan langkah pemerintah dalam pelarangan penggunaan AGP dalam pakan ternak dinilai sudah tepat. Hal ini supaya tidak ada kandungan residu antibiotik yang tertinggal dalam daging dan telur ayam sehingga produksi dalam negeri bisa didorong untuk ekspor.

"Akan tetapi, sarana dan prasarananya kurang dipersiapkan. Pelarangan sudah dilakukan tapi tidak ada subtitusi yang bisa menggantikannya [AGP]," katanya, baru-baru ini.

Dalam budi daya unggas, katanya, pakan dan vaksin berperan penting untuk menunjang pertumbuhan. Pemerintah memang sudah mengimbau supaya peternak menggunakan probiotik sebagai alternative pengganti AGP.

“[Masalahnya] produsen probiotik dalam negeri tidak banyak, [sehingga] membuat harga yang didapatkan oleh peternak tergolong mahal,” kata Yudianto.

Ketua Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) Desianto B. Utomo mengatakan, implementasi Permentan No. 14/2017 akan berdampak signifikan pada industri peternakan, diantaranya tingkat kehilangan tinggi akibat kematian yang meningkat dan biaya produksi tinggi.

Desi menyebut, produktivitas menurun hingga 6%-15% pada kandang open house dan 2%-5% pada kandang closed house. Padahal, 70% industri peternakan unggas nasional menerapkan kandang open house.

TERGERUS

Peternak ayam petelur asal Solo Robby Susanto mengatakan selama ini peternak skala kecil hanya tahu tentang dua hal yaitu pakan dan ayam, sedangkan untuk rincian komponen yang membentuk pakan mereka tidak paham.

Alhasil ketika satu komponen itu dilepas, seperti pelarangan penggunaan AGP sebagai komponen bahan pakan, peternak merasa gusar karena produktivitas ayam menurun tiba-tiba.

"Tahu-tahu dicabut tanpa ada satu pemberitahuan [kepada peternak]. Ternyata [pelarangan AGP] berimbas pada sebagian besar peternak kecil dengan penurunan produksi antara 30%-50%," katanya.

Menurutnya, pemerintah tidak salah dengan menerapkan regulasi tersebut, tapi hanya perlu persiapan dan sosialisasi yang matang.

Roby mengatakan peternak layer dengan skala menengah dan skala besar sudah paham terhadap teknologi jadi tahu bahan untuk mensubtitusi penggunaan AGP. Namun, tidak demikian bagi peternak skala kecil. " Sementara [itu], pemerintah belum secara resmi mengatakan pengganti AGP itu apa."

Menurutnya perlu diadakan semacam muktamar atau perlombaan antara akademisi untuk mencari pengganti AGP yang pas bagi industri peternakan ayam layer dalam negeri. Roby optimistis banyak akademisi yang kompeten untuk melakukan hal tersebut. “Kasus ini belum tuntas, harusnya pemerintah beri perhatian."

Sementara itu, Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Kementerian Pertanian Sugiyono mengatakan pelarangan AGP sebagai komponen dalam bahan pakan ternak dapat disubtitusi menggunakan probiotik dan prebiotik.

Selain itu ada juga asam organik dan minyak esensial, jamu dan enzim untuk menambah kekebalan ternak terhadap penyakit dibandingkan dengan menggunakan AGP.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
telur

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top