Kena Hambatan Dagang di AS dan Australia, Eksportir Kertas Berburu Mitra Dagang Baru

Besarnya hambatan ekspor komoditas pulp dan kertas menuju Amerika Serikat (AS) dan Australia memaksa para pengusaha sektor tersebut berusaha mencari negara konsumen baru.
Yustinus Andri DP | 22 Juli 2018 13:58 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Besarnya hambatan ekspor komoditas pulp dan kertas menuju Amerika Serikat (AS) dan Australia memaksa para pengusaha sektor tersebut berusaha mencari negara konsumen baru.

Ketua Umum Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) Aryan Warga Dalam mengatakan, berlarut-larutnya proses banding atas tudingan dumping pulp dan kertas asal Indonesia oleh AS, membuat volume dan nilai ekspor Indonesia gagal mencapai level maksimal.

Untuk itu, lanjutnya, para pengusaha kini terus menjajaki negara pasar non-tradisional untuk mengirim komoditas tersebut.

“Tahun ini perkiraan kita tumbuh moderat. Maka, kita sedang upayakan masuk ke negara-negara  Timur Tengah dan Afrika. Potensi permintaan di dua kawasan itu cukup besar,” katanya kepada Bisnis.com,.

Menurut Aryan, kendati volume ekspor pulp dan kertas ke AS tidak terlalu besar, yakni berkisar pada 100.000 ton per tahunnya, tuduhan dumping dari Paman Sam dianggap memengaruhi ekspor secara keseluruhan.

Dia khawatir, pemberlakukan anti-dumping yang dilakukan oleh Washington dan yang juga diikuti oleh Canberra tersebut berpotensi diikuti oleh negara lain.

Dia melanjutkan, kedua negara tersebut menganggap Indonesia melakukan praktik Particular Market Situation (PMS) . Menurutnya, tudingan aksi dumping pulp dan kertas asal Indonesia oleh AS disebabkan oleh kesalahan Paman Sam dalam menentukan harga acuan komoditas itu.

Dalam kasus tersebut, AS terlanjur mengacu pada harga pulp asal Malaysia yang lebih tinggi dibandingkan Indonesia. Akibatnya, produsen Tanah Air dituding memberikan subsidi atas produk ekspornya.

Seperti diketahui, pada tahun lalu, AS menuding produk coated paper dan uncoated paper dari Indonesia dikenai subsidi sehingga harga jualnya lebih rendah. Adapun, di Australia tudingan serupa ditujukan kepada produk A4 copy paper yang masih dalam proses negosiasi di Organisasi Dagang Internasional (WTO).

Kendati demikian, dia meyakini pertumbuhan industri  pulp dan kertas berbasis ekspor akan mendapat sokongan dari munculnya sejumlah pabrik berkapasitas produksi besar di Sumatra seperti  salah satunya PT OKI Pulp and Paper di Ogan Komering Ilir.

Dengan potensi pertumbuhan produksi tersebut, dia merasa perluasan pangsa pasar ekspor sangat dibutuhkan.

Adapun berdasarkan data Badan Psat Statistik (BPS), ekspor pulp dan kertas sepanjang Januari-Juni 2018 mencapai US$1,29 miliar atau naik 34,47% secara year on year (yoy). Komoditas tersebut mencatat kenaikan ekspor terbesar dari sektor non-migas pada semester I/2018.

Selama ini pasar utama ekspor pulp didominasi oleh negara-negara seperti China, Korea, India, Bangladesh dan Jepang.  Di sisi lain, ekspor kertas terbesar, tercatat menuju negara seperti Jepang, Amerika, Malaysia, Vietnam dan China.

Terpisah, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Arlinda menyebutkan, negara tujuan ekspor non-tradisional untuk komoditas non-migas seperti Timur Tengah dan Afrika tengah menjadi sasaran perluasan pasar bagi produsen Tanah Air, tak terkecuali pulp dan kertas.

Arlinda mengatakan, selain membantu para pengusaha memenangkan tuntutan atas tudingan dumping di WTO, pemerintah juga mendorong adanya peningkatan nilai tambah atas produk ekspor nasional. Upaya tersebut dinilainya akan membuat produk Indonesia lebih mudah di terima di pasar global.

“Proses [sidang] di WTO memang memakan waktu, harus sabar. Akan tetapi di tengah kondisi tersebut kita harus manfaatkan untuk perluasan pasar atau mencari pangsa pasar pengganti,” katanya.

Tag : kertas
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top