Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

PLTU Masih Terus Mendominasi Hingga 2040

- Pengembang pembangkit listrik swasta meyakini PLTU masih akan relevan digunakan hingga 2040 karena selama 22 tahun ini, pembangkit listrik dari energi baru terbarukan masih sulit diaplikasikan secara masif.
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 19 Juli 2018  |  09:21 WIB
PLTU Masih Terus Mendominasi Hingga  2040
PLTU Pelabuhan Ratu di Sukabumi, Jawa Barat. - Antara/Aditya Pradana Putra
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA -- Pengembang pembangkit listrik swasta meyakini PLTU masih akan relevan digunakan hingga 2040 karena selama 22 tahun ini, pembangkit listrik dari energi baru terbarukan masih sulit diaplikasikan secara masif.

 
Selain karena harga listrik renewable energymasih jauh lebih mahal dibandingkan PLTU, tak semua daerah punya potensi pemanfaatan energi terbarukan.  

Presiden Direktur Cirebon Power Heru Dewanto mengatakan, teknologi PLTU akan lebih canggih dalam beberapa tahun ke depan. Hal itu dapat menimbulkan efisiensi yang lebih tinggi dibandingkan saat ini.

“Dalam beberapa tahun ke depan, akan lebih banyak penggunaan PLTU ultra super critical, bahkan advance ultra supercritical. Pressure-nya lebih tinggi sehingga dapat meningkatkan efisiensi. Ke depan, harga listrik bisa lebih murah,” katanya saat menjadi pembicara di IPP Summit dikutip dalam rilisnya, Rabu (18/7/2018).

Dia berujar dengan semakin efisien, maka harga jual listrik bisa lebih murah. Sehingga harga listrik di tingkat konsumsi masyarakat juga lebih murah. 
 
Selain itu, menurutnya ini juga sejalan dengan program pemerintah yang tidak ingin membenani APBN karena menambah subsidi listrik.
   
Pemerintah ataupun masyarakat tidak perlu khawatir dengan dampak lingkungan yang dihasilkan oleh PLTU. Semakin canggih PLTU, maka polusi yang dihasilkan juga semakin murah.
  
“Memang investasinya lebih mahal. Tapi bisa menghasilkan lebih sedikit emisi. Ke depannya, harga listrik bisa lebih murah,” katanya. 

Di sisi lain, pembangkit batubara juga menghadapi tantangan secara pembiayaan karena semakin sedikit perbankan yang bersedia membiayai pembangkit berbahan baku batubara. Karena itu, peralihan teknologi dan inovasi pembangkit adalah sebuah keharusan.

“Memang sekarang pendanaan pembangkit batubara semakin sulit, hanya tinggal Jepang, Korea dan China yang mau memberikan pembiayaan, itupun dengan syarat menggunakan teknologi batubara bersih," ujar Heru.

Menurut Heru, situasi iklim industri ketenagalistrikan beberapa tahun ke depan juga akan semakin kompetitif.  Tetapi pada 2040, investasi renewable energy juga akan lebih murah. Pada tahun itu, harga listrik energi baru terbarukan akan sama dengan harga jual listrik PLTU. 
 
“Pada 2040, kita semua akan beralih ke penggunaan renewable. Itu menurut study bloomberg,” katanya. 
 
Cirebon Power sendiri telah menjadi PLTU pelopor energi bersih. PLTU Cirebon merupakan salah satu pembangkit listrik batu bara yang pertama kali menggunakan teknologi ultra super critical. Teknologi ini lebih ramah lingkungan dan lebih efisien dibandingkan dengan PLTU yang biasa digunakan saat ini. Cirebon Power juga akan menjadi pelopor digitalisasi pembangkit listrik demi meningkatkan efisiensi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pltu
Editor : Sepudin Zuhri
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top