Pelindo II Lepas Bisnis Kargo ke Anak Usaha

Anak usaha PT. Pelabuhan Indonesia II menargetkan bisa menangani volume bongkar muat mencapai 45 juta ton/tahun setelah ditugaskan untuk fokus mengelola layanan barang jenis kargo umum non-peti kemas (breakbulk).
Akhmad Mabrori | 16 Juli 2018 17:09 WIB
Presiden Joko Widodo (kanan) berbincang dengan Menteri Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (tengah) dan Direktur Utama Pelindo II Elvyn G. Masassya ketika melepas ekspor komoditas Indonesia menggunakan kapal kontainer berukuran raksasa di Terminal JICT, Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (15/5/2018). - ANTARA/Wahyu Putro A

Bisnis.com, JAKARTA -- PT. Pelabuhan Tanjung Priok (PTP), anak usaha PT. Pelabuhan Indonesia II menargetkan bisa menangani volume bongkar muat mencapai 45 juta ton/tahun setelah perseroan secara resmi ditugaskan untuk fokus mengelola layanan barang jenis kargo umum non-peti kemas (breakbulk) di seluruh cabang perseroan.

Direktur Komersial dan Pengembangan Bisnis PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP), Ari Hendryanto mengatakan taget penguasan volume kargo itu berasal dari cabang pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, dan lima cabang lainnya, yakni: Banten, Teluk Bayur Sumatera Barat, Jambi , Bengkulu serta cabang pelabuhan Panjang Bandar Lampung.

Selain manangani bongkar muat breakbulk (non-peti kemas), PTP juga mengelola layanan peti kemas di pelabuhan Priok. Namun terhitung 15 Juli 2018 layanan bongkar muat peti kemas domestik maupun internasional di terminal 2 dan terminal 3 Priok ditangani oleh PT. IPC TPK, yang juga merupakan anak usaha PT. Pelindo II (IPC).

“Kami estimasi, untuk volume di lima cabang pelabuhan tersebut bisa mencapai 15 juta Ton untuk enam bulan. Ini diluar Priok yang mencapai 14-15 juta /tahun.Jadi kalau di total pertahun bisa mencapai 40-45 juta ton,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (16/7/2018).

Ari menyatakan perseroan mendukung penuh upaya PT.Pelindo II/IPC selaku induk perusahaan dalam melakukan pemisahan bisnis (spin-off) layanan jasa kepelabuhanan di Tanjung Priok, dimana untuk layanan non peti kemas dilaksanakan oleh PTP dan layanan peti kemas oleh IPC TPK.

“Kami apresiasi ini sebab akan lebih fokus dalam segmen bisnis, apalagi kedepan perseroa juga akan melaksanakan initial public offering (IPO). Ini juga sejalan dengan tahapan program jangka pangan Pelindo II agar pada 2020 seluruh layanan pelabuhan yang dikelola sudah bisa world clas port,” tuturnya.

Manajemen PTP, imbuhnya, akan terus berinovasi dalam pengembangan layanan kargo non peti kemas pada pelabuhan-pelabuhan potensial guna mendongkrak pendapatan perseroan.

Bahkan, mulai 2019, PTP akan menjajaki pengembangan bisnis diluar lingkungan Pelindo II/IPC. “Untuk dongkrak dari sisi pendapatan, peluang kita mesti bisa mencari volume lebih. Saat ini sudah dilakukan dilingkungan IPC, namun mulai 2019 menjajiki diluar IPC,bisa juga ke luar negeri,” tuturnya.

Dia mengungkapkan, telah selesai menyusun struktur manajemen dan operasional serta SDM perusahaan untuk menggerakkan roda bisnis perseroan dapat lebih cepat dan terkordinasi hingga ke daerah atau cabang pelabuhan potensial.

“PTP akan masuk kelola ke cabang-cabang Pelindo II jika volume kargo di cabang pelabuhan itu sudah mencapai 1 juta ton. Nah saat ini baru kelima cabang tadi yang melampaui throughput tersebut,” paparnya.

Ari mengatakan, terhadap kerjasama dan mitra kerja perusahaan bongkar muat (PBM) swasta yang telah memiliki market kargo yang sudah berjalan di pelabuhan Tanjung Priok maupun cabang pelabuhan lainnya tetap berjalan seperti biasa dengan mengikuti standar produktivitas dan kinerja pelabuhan.

“Saat ini, PTP juga memiliki sejumlah alat bongkar muat yang beroperasi di pelabuhan Priok antara lain; empat unit container crane, dan 11 unit rubber tyred gantry crane,” ujarnya.

Dirut PT.IPC TPK, M.Aji mengatakan pihaknya menjamin keberlangsungan pelayanan kepada pelanggan dan kerja sama dengan mitra usaha Terminal 2 dan Terminal 3 Pelabuhan Tanjung Priok tetap prima, setelah perseroan ditugaskan oleh Pelindo II/ IPC untuk mengelola dan mengoperasi kedua terminal itu.

"Kita lanjutkan yang sudah berjalan selama ini termasuk dengan mitra kerja PBM, dan tidak akan berpengaruh terhadap customer, karena customer sama sekali tidak akan mengalami perubahan pelayanan," ujarnya kepada Bisnis, Senin (16/7/2018).

Sekjen Indonesia Maritime, Logistic and Transportation Watch (IMLOW) Achmad Ridwan Tento menyatakan, selain agar tetap memerhatikan good corporate governance (GCG) pelayanan bongkar muat di pelabuhan kepada pengguna jasa diharapkan menjadi lebih baik dengan adanya fokus operasional dan layanan oleh anak usaha Pelindo II/IPC sesuai jenis barangnya untuk mendukung kelancaran arus barang dari dan ke pelabuhan.

Direktur Utama PT.Pelindo II/IPC Elvyn G.Massasya mengatakan, agar masing-masing entitas di lingkungan IPC mampu lebih fokus meningkatkan performance layanannnya kepada konsumen.

Elvyn mengatakan,memasuki semester II tahun ini, perseroan telah menetapkan adanya perubahan bisnis model IPC yang baru dimana setiap anak perusahaan akan fokus kepada bisnisnya masing-masing guna memaksimalkan fungsi dan perannya.

“Bisnis model ini dimaksudkan untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi dan standarisasi pengelolaan, sehingga kinerja pelayanan IPC secara korporasi akan lebih meningkat,”ujarnya. (k1)

Tag : pelindo ii
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top