Pupuk Kaltim Tender Ulang Proyek Pembangunan Pabrik Amonium Nitrat

Proses pembangunan pabrik amonium nitrat hasil kerjasama PT Pupuk Kalimantan Timur (Persero) dengan PT Dahana, melalui anak usahanya PT Dahana Investama, di Bontang, Kalimantan Timur mulai kembali bergulir.
Annisa Sulistyo Rini | 09 Juli 2018 21:32 WIB
Salah satu unit produksi Pupuk Kaltim - PupukKaltim.com

Bisnis.com, JAKARTA--Proses pembangunan pabrik amonium nitrat hasil kerjasama PT Pupuk Kalimantan Timur (Persero) dengan PT Dahana, melalui anak usahanya PT Dahana Investama, di Bontang, Kalimantan Timur mulai kembali bergulir.

Wijaya Laksana, Kepala Corporate Communication Pupuk Indonesia, mengatakan feasibility study pembangunan pabrik tersebut saat ini sudah dilakukan.

"Sekarang mau proses re-tender," ujarnya Senin (9/7/2018).

Wijaya menjelaskan Pupuk Kaltim bersama Dahana Investama membentuk joint venture bernama PT Kaltim Amonium Nitrat dalam pengembangan pabrik tersebut. Pada saat dicanangkan, diharapkan pada tahun ini pabrik tersebut mulai commisioning.

Pembangunan pabrik amonium nitrat berkapasitas 75.000 ton per tahun ini bertujuan memanfaatkan pasokan amoniak dari Pupuk Kaltim. Pengembangan pabrik ini juga didorong oleh kebutuhan amonium nitrat dalam negeri yang masih tinggi, terutama di Kalimantan.

Amonium nitrat banyak digunakan sebagai bahan peledak di kawasan tambang. Adapun, investasi yang ditanamkan untuk proyek ini disebutkan sekitar US$72 juta.

Sebelumnya, pada saat kunjungan kerja Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto ke Kaltim Industrial Estate, Bakir Pasaman, Direktur Utama PT Pupuk Kaltim memaparkan salah satu proyek pengembangan yang sedang dilakukan oleh perseroan adalah kerjasama dengan Dahana untuk membangun pabrik amonium nitrat.

Selain itu, perseroan sedang melakukan kajian gasifikasi batu bara sebagai salah satu langkah untuk melakukan diversfikasi bahan baku pabrik amoniak. Pupuk Kaltim juga bekerjasama dengan PTPN XIII dalam mengembangkan perkebunan kelapa sawit seluas 7.000 hektare dan pabrik pengolahan kelapa sawit berkapasitas 30 ton per jam.

"Ada pula proyek NPK Chemical dengan kapasitas 500.000 ton per tahun dan kami akan membangun pabrik methanol yang terintegrasi dengan produk turunannya secara bertahap di area industri Bontang," katanya.

Pembangunan pabrik-pabrik tersebut diharapkan menjadi pendorong pertumbuhan industri petrokimia nasional yang selama ini berbasis naphta yang pasokannya sangat bergantung pada impor.

Tag : industri kimia
Editor : Maftuh Ihsan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top