Indonesia Pangkas Ketergantungan Impor Kapal

Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian mendorong pengurangan ketergantungan impor kapal dan komponennya untuk medongkrak kinerja industri kapal nasional dan mendahulukan lokal konten.
Akhmad Mabrori | 03 Juli 2018 17:56 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian mendorong pengurangan ketergantungan impor kapal dan komponennya untuk medongkrak kinerja industri kapal nasional dan mendahulukan lokal konten.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto  mengemukakan, pemerintah juga berusaha memperkuat kemampuan design kapal melalui optimalisasi srandard design kapal series agar mampu menumbuhkan industri komponen kapal dalam negeri.

Airlangga mengemukakan, pembagunan kapal di Indonesia didominasi dalam mencukupi kebutuhan dalam negeri sebesar 83% (120 unit) atau setara 135.440 GT, sedangkan untuk ekspor sebesar 17% (24 unit) atau setara 82.860 GT.

"Ini menjadi tantangan bagi Indonesia untuk meningkatkan kemampuan produksinya mengingat pasar internasional yang potensial dapat diserap oleh industri perkapalan di dalam negeri," ujarnya usai mengukuhkan jajaran kepengurusan dewan pengurus pusat (DPP) ikatan perusahaan industri kapal dan lepas pantai Indonesia (IPERINDO) periode 2018-2022 hari ini Selasa (3/7/2018).

Ketua Umum DPP Iperindo  Eddy K.Logam mengatakan selama ini memang banyak terjadi impor kapal dari luar negeri, namun kedepan hal ini mesti dikurangi untuk meningkatkan lokal konten pada industri galangan nasional.

"Lokal konten harus tumbuh, industri komponen mesti tumbuh.Jangan sampai kita jadi tukang 'jahit' saja pada industri ini," ujarnya.

Memperin mengatakan capaian sektor industri pada triwulan pertama 2016 menunjukkan kinerja positif. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, pertumbuhan  ekonomi di triwulan pertama 2018 sebesar 5,06%.

Hal yang sama terjadi pada pertumbuhan sektor industri non migas yang pada triwulan pertama 2018 mencapai 5,03%.

Pertumbuhan terbesar di sektor non migas dialami industri mesin dan perlengkapannya 14,98%, disusul industri makanan dan minuman 13,01% dan industri alat angkut lainnya sebesar 11,30%.

"Apabila melihat perkembangan sektor industri perkapalan dunia, saat ini order pembangunan kapal baru didominasi oleh tiga negara yakni China,Korea Selatan dan Jepang," paparnya.

Pada tahun 2017,tercatat jumlah pembangunan kapal di China mencapai 29,1juta gross tonage (GT), Korea Selatan 25,4 juta GT, dan Jepang 14,7 juta GT.

Sementara untuk kawasan Asean, order pembangunan kapal baru justru didominasi oleh Pilipina sebesar 2,1 juta GT dan Vietnam 766.431 GT. Sedangkan jumlah order pembangunan kapal di Indonesia sebesar 218.300 GT.

Tag : galangan kapal
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top