Aussie dan UE Inspeksi, Pembudi Daya Udang Bersiap

Pembudi daya udang bersiap menghadapi inspeksi otoritas kompeten dari Australia dan Uni Eropa terhadap sistem jaminan mutu dan ketertelusuran seafood di Indonesia.
Sri Mas Sari | 02 Juli 2018 19:00 WIB
Aktivitas karyawan di pabrik pengolahan udang beku milik PT Panca Mitra Multiperdana di Situbondo, Jawa Timur, Minggu (18/3/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – Pembudi daya udang bersiap menghadapi inspeksi otoritas kompeten dari Australia dan Uni Eropa terhadap sistem jaminan mutu dan ketertelusuran seafood di Indonesia.

Departemen Pertanian dan Sumber Daya Air (DAWR) Australia diketahui mengunjungi Indonesia pada 2-6 Juli. Sementara, Ditjen Kesehatan dan Keamanan Pangan (DG Sante) Uni Eropa akan melakukan audit pada 1-12 Oktober dengan fokus pada audit on residues in food of animal origin.

Ketua Shrimp Club Indonesia (SCI) Jawa Barat-Banten Joko Sasongko mengatakan mayoritas petambak udang di Jabar dan Banten sudah mengantongi sertifikat cara budi daya ikan yang baik (CBIB).

"Kami petambak pasti support [kegiatan DAWR dan DG Sante di Indonesia]. Budi daya udang Indonesia tidak ada yang ditutup-tutupi," katanya saat dihubungi, Senin (2/6/2018).

Sebelumnya, melalui surat resmi tertanggal 26 Juni 2018, Dirjen Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto meminta seluruh pemangku kepentingan perikanan budi daya mendukung keberhasilan audit dengan menunjukkan bukti komitmen sistem jaminan mutu dari hulu ke hilir.

Surat yang ditujukan kepada Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan provinsi dan kabupaten/kota, Ketua SCI, serta Ketua Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia (APCI) itu meminta pelaku usaha, asosiasi, serta kepala dinas untuk segera melakukan dua hal.

Pertama, melaksanakan ketertelusuran pembudi daya melalui registrasi unit budi daya pada aplikasi satu data (modul Kusuka) melalui http://satudata.kkp.go.id, terutama pada unit budi daya udang, lele, dan patin.

Kedua, menerapkan prinsip-prinsip CBIB atau mengajukan sertifikasi CBIB pada unit budi daya udang, lele, dan patin.

Selain itu, sekretariat CBIB pada dinas provinsi perlu menyiapkan bukti pengendalian sistem jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan (SJMKHP) bidang budi daya, terutama sertifikasi CBIB dan monitoring residu, didukung oleh pengendalian obat ikan serta pakan ikan.

Mengingat pemilihan lokasi audit akan dilakukan tim audit negara mitra, seluruh stakeholder pun perlu menyiapkan unit pembesaran, pembenihan, pengolahan ikan, dan laboratorium yang terkait perikanan budi daya, termasuk lokasi yang terkena kasus perdagangan.

Kepala dinas kabupaten/kota yang menjadi lokasi inspeksi juga diharapkan berkoordinasi dengan semua pemangku kepentingan.

Ekspor udang Indonesia ke Australia tergolong kecil dengan pangsa hanya 0,03% dari total pengapalan ke seluruh dunia, baik secara volume maupun nilai. Mengutip data BPS, Volume ekspor udang ke Negeri Kanguru tahun lalu hanya 41,6 ton dengan nilai US$370.969. 

Tag : udang
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top