IMLOW Apresiasi Priok Keluar Daftar Hitam War Risk

IMLOW mengapresiasi langkah Joint War Committee (JWC) yang telah menghapus Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta dari daftar hitam pelabuhan berisiko perang (war risk).
Akhmad Mabrori | 28 Juni 2018 01:51 WIB
Gate JICT dan TPK Koja di Tanjung Priok Jakarta - Bisnis.com/Akhmad Mabrori

Bisnis.com, JAKARTA – Indonesia Maritime, Logistik and Transportation Watch (IMLOW) mengapresiasi langkah Joint War Committee (JWC) yang telah menghapus  Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta dari daftar hitam pelabuhan berisiko perang (war risk).

Pada 14 Juni 2018, JWC telah meirilis bahwa Pelabuhan Tanjung Priok dinyatakan aman untuk kegiatan pelayaran dunia.

JWC merupakan lembaga non-government di London yang terdiri dari wakil-wakil Lloyds of London Market dan International Underwriting Association (IUA) yang sebelumnya memasukkan Priok ke dalam daftar pelabuhan berisiko perang (war risk) yang dirilis pada September 2017.

"Tentu kita apresiasi dan bersyukur. Hal ini berkat desakan dan upaya semua pihak termasuk pemerintah RI dan Kemenhub agar pelabuhan Priok dihapuskan dalam daftar hitam JWC itu.Lagipula memang faktanya pelabuhan Priok aman-aman saja kok selama ini," ujar Sekjen IMLOW Achmad Ridwan Tento kepada Bisnis pada Rabu (27/6/2018).

Selama ini, tambahnya, pemasukan Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta ke dalam daftar war list JWC berdampak adanya biaya tambahan premi asuransi yang dibebankan kepada pemilik kapal sehingga menjadikan Priok tidak kompetitif.

Dirjen Perhubungan Laut R. Agus H. Purnomo melalui siaran pers pada 25 Juni 2018 menyatakan dalam daftar pelabuhan berisiko perang (war risk) yang dikeluarkan oleh JWC pada 14 Juni 2018, Pelabuhan Priok Jakarta dihapus.

Dia mengemukakan hal itu menunjukkan kepercayaan dunia bahwa Indonesia khususnya Pelabuhan Tanjung Priok aman."Alhamdulillah, berkat kerja keras dan usaha kita semua, Priok dihapus dari rilis war risk yang dikeluarkan JWC. Ini menunjukkan kepercayaan dunia pelayaran terutama dunia pelayaran internasional terhadap Pelabuhan Priok."

Agus juga menjelaskan bahwa pihaknya sangat menyesalkan Priok dimasukkan ke dalam rilis war risk sebelumnya karena selama ini tidak ada gangguan keamanan di pelabuhan itu yang terjadi dan menyita perhatian dunia khususnya pelaku usaha di bidang maritim.

"Kami melayangkan protes kepada JWC dengan menyampaikan data dan fakta bahwa Pelabuhan Tanjung Priok itu aman dan akhirnya protes kami membuahkan hasil sehingga dikeluarkan dari rilis war risk JWC," ungkapnya.

Agus juga mengatakan dengan penghapusan Priok dari rilis war risk, beban premi tambahan asuransi kapal yang menuju Pelabuhan hilang dan seluruh perairan Indonesia aman bagi pelayaran."Ini hal yang baik untuk Indonesia. Dengan dinyatakan aman bagi seluruh pelabuhan di Indonesia, peluang investasi terbuka lebar."

Dalam rilis war risk JWC 14 Juni 2018, perairan dunia terbagi menjadi lima kawasan dengan negara-negara atau perairan yang dikategorikan sebagai war risk yaitu kawasan Afrika yaitu Libia, Somalia, Nigeria, dan Togo. Kawasan Samudera Hindia yaitu Laut Hindia, Laut Arab, Teluk Eden, Teluk Oman dan Laut Merah.

Selanjutnya, kawasan Asia yaitu Pakistan, Iran, Irak, Lebanon, Arab Saudi, Suriah dan Yaman serta kawasan Amerika Selatan yaitu perairan Venezuela.

Pemerintah Indonesia menyatakan tingkat keamanan untuk kapal dan fasilitas pelabuhan secara nasional berada pada tingkat keamanan 'satu' atau normal.

Hal tersebut tertuang dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Perhubungan Laut nomor UM 003/12/4/DJPL-18 tanggal 31 Januari 2018 tentang Tingkat Keamanan Kapal dan Fasilitas Pelabuhan.

Tag : pelabuhan tanjung priok
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top