Perluasan Bandara Ngurah Rai Terkendala Lambatnya Izin Reklamasi

Perluasan apron timur Bandar Udara Ngurah Rai untuk mendukung kegiatan IMF-WB 2018 masih terkendala pemindahan Sewage Treatment Plant (STP) dan lambatnya persetujuan izin reklamasi.
Ni Putu Eka Wiratmini | 25 Juni 2018 16:30 WIB
Dua pesawat terbang berada di landasan pacu Bandara Ngurah Rai Bali - Antara/Wira Suryantala

Bisnis.com, DENPASAR -- Perluasan apron timur Bandar Udara Ngurah Rai untuk mendukung kegiatan IMF-WB 2018 masih terkendala pemindahan Sewage Treatment Plant (STP) dan lambatnya persetujuan izin reklamasi.

General Manager Banda Udara I Gusti Ngurah Rai Yanus Suprayogi mengatakan pembangunan apron timur sudah mencapai 38%. Pencapaian ini lebih tinggi dari target proyek yang seharusnya memasuki 36% saat ini. Walaupun demikian, tidak dapat dipungkiri, masalah STP atau instalasi pengolahan air limbah (IPAL) masih juga menjadi kendala.

Selain itu, pematangan lahan untuk perluasan apron juga baru memasuki pencapaian 12% karena reklamasi yang baru disetujui pada 18 Mei 2018. Namun, selagi menunggu persetujuan reklamasi, pihaknya mengupayakan pembangunan untuk perluasan apron di lahan yang tersedia.

"Lahan yang berupa rumput kami sudah jadikan apron," katanya, Senin (25/6/2018).

Selain itu, pemindahan gedung VIP juga menjadi konsentrasi pembangunan infrastruktur bandara untuk menyambut kepala negara yang hadir dalam gelaran IMF-WB 2018 sebab nantinya akan berfungsi sebagai pintu masuk utama. Penambahan dan perluasan Check in counter juga diupayakan realisasinya.

"Kita berharap [Gedung VIP] akhir Agustus sudah ada bentuk dan September dilakukan evaluasi dan sertifikasi dan bisa dipakai," katanya.

Dia berani memastikan pembangunan infrastruktur Bandara Ngurah Rai akan selesai tepat waktu. Tuntutan untuk penyelesaian infrastruktur ini juga untuk melayani bertambahnya pengajuan slot penerbangan maskapai yang saat ini permintaannya mencapai 60 rute.

"Kita kebut karena ini Bali tidak boleh biasa-biasa saja harus luar biasa," katanya.

Kepala Bagian Tata Usaha Kantor Otoritas Bandar Udara Kelas I Wilayah IV Bali Alexander Rita mengatakan walaupun perluasan infrastruktur bandara terus diusahakan, namun pemanfaatan bandara sekitar Bali juga akan digunakan untuk menyambut kedatangan delegasi. Walaupun, kesiapan Bandara Ngurah Rai di Bali sendiri tetap akan diupayakan maksimal untuk menyambut delegasi IMF-WB 2018.

Kata dia, Standar Operasi untuk menyambut delegasi sudah disiapkan. Standar operasi itu misalnya penerbangan jam khusus untuk kepala negara dan penerbangan reguler untuk delegasi.

"Dengan selesainya musim libur lebaran dan semuanya berjalan lancar kita harapkan bisa menjadi indikasi kalau kita sudah siap [pada IMF-WB 2018]," katanya.

Sementara, beberapa waktu lalu tepatnya Jumat (22/6/2018) Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman RI, Luhut Binsar Pandjaitan melaksanakan Kunjungan Kerja Ke Bandar Udara I Gusti Ngurah Rai.

Dalam kunjungannya Luhut meminta pengembangan Bandar Udara I Gusti Ngurah Rai yang meliputi perpanjangan runway dan perluasan apron seluas 47.9 hektar agar sesuai dengan regulasi yang ada, time schedule yang memadai, dan dikerjakan dengan detail.

Jika penyelesaian pembangunan fasilitas di Bandar Udara I Gusti Ngurah Rai rampung maka nantinya Jam Operasional Bandar Udara menjadi 24 Jam, Kapasitas Runway ditingkatkan menjadi 33 penerbangan per jam yang semula 30.

Selanjutnya ada Gedung Parkir Mobil dengan kapasitas mencapai 1.615 slot kendaraan, jumlah counter check in bertambah di Terminal Internasional dari 96 Unit seluas 2.740 meter persegi menjadi 126 unit dengan luas 4.420 meter persegi, Rapid Exit taxiway menjadi 3 dari 2, dan penambahan Parking Stand menjadi 63 Parking Stand dari kondisi eksisting sebanyak 53.

Tag : bandara ngurah rai
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top