Kalindo Land Andalkan Rumah Bersubsidi

Pengembang Kalindo Land Group menargetkan penjualan pada tahun ini tumbuh 17% menjadi Rp600 miliar, dengan mengandalkan hunian bersubsidi.
M. Rochmad Purboyo | 25 Juni 2018 18:42 WIB
Ilustrasi rumah subsidi (Bisnis/Dedi Gunawan)

Bisnis.com, JAKARTA - Pengembang Kalindo Land Group menargetkan penjualan pada tahun ini tumbuh 17% menjadi Rp600 miliar, dengan mengandalkan hunian bersubsidi.

Sentot Sudaryono Marketing Director Kalindo Land Group mengatakan pada tahun lalu, realisasi penjualan pengembang tersebut sebesar Rp500 miliar dengan komposisi 25% produk hunian bersubsidi dan 75% produk non subsidi, dengan harga mulai dari Rp200 jutaan hingga Rp1 miliar per unit.

Salah satu produk andalan Kalindo Land Group, katanya, adalah proyek hunian bersubsidi yang pada 2017 berhasil menjual 1.000 unit rumah dengan nilai transaksi sekitar Rp140 miliar. Dia masih melihat proyek hunian bersubsidi sebagai salah satu andalan untuk meningkatkan angka penjualan pada tahun ini melalui proyek Permata Nusa Indah Situ Sari (Cileungsi), Bekasi Timur Regency, Permata Nusa Indah Muktiwari, Cibitung, Jawa Barat.

Hunian bersubsidi ini ditujukan untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang kebanyakan berasal dari kalangan pekerja dan karyawan dengan penghasilan di bawah Rp 4 juta per bulan.

“Proyek hunian bersubsidi cukup laris. Target penjualan group kami tahun ini yang mencapai Rp600 miliar diharapkan ditopang sekitar 30% dari hunian bersubsidi,” ujar Sentot, pekan lalu.

Terkait dengan kinerja penjualan tahun ini, tambahnya, realisasi penjualan hingga Mei lalu sudah mencapai 50% dari target yang ditetapkan sehingga ada keyakinan penjualan tahun ini akan berjalan sesuai dengan program yang sudah dibuat perusahaan.

Cecep Prayitno Manager Marketing Kalindo Land Group menjelaskan, harga rumah yang dijual untuk segmen subsidi ini mengikuti panduan dari pemerintah yang menetapkan harga berkisar Rp148,5 juta per unit.

Meski bersubsidi, proyek hunian itu dikembangkan dengan konsep hunian perumahan realestat, sehingga lingkungan perumahannya dikelola oleh estate management, sehingga konsumen tetap merasa lebih nyaman.

Untuk pengelolaan di perumahan bersubsidi tersebut, katanya, penghuni dikenai biaya iuran perawatan lingkungan (IPL) berkisar Rp40.000 – Rp. 60.000 per bulan. “Kami juga memperkuat mutu produknya, sehingga walau hunian bersubsidi, kualitasnya baik. Segmen pasar ini sangat besar dan prospektif, sementara pasokannya sedikit,” ungkapnya.

Kalindo Land telah mengembangkan sejumlah proyek hunian bersubsidi dan komersial sejak 1980 melalui bendera PT Kentanix Supra International , seperti  proyek Bekasi Jaya Indah, Danita Bekasi Jaya, Wisma Jaya dan Vila Nusa Indah hingga proyek real estate, Vila Bogor Indah.

Cecep menjelaskan, ada sembilan proyek yang dikembangkan saat ini, yaitu tiga proyek hunian bersubsidi dan enam proyek hunian komersial.  Untuk proyek hunian komersial, di antaranya Grand Nusa Indah, Vila Bogor Indah, Bekasi Timur Regency, Regency Melati Mas, dan Villa Tangerang Regency.

Timur Jakarta

Pengembang yang juga menggarap hunian bersubsidi adalah PT Sri Pertiwi Sejati (SPS) Grup yang memilih mengembangkan proyek di kawasan timur Jakarta.

Asmat Amin, Managing Director SPS Group mengatakan potensi besar ada di koridor itu terutama koridor Karawang, Subang, Purwakarta, dan Cikarang yang dinilai akan banyak menuai hasil dari masifnya pembangunan infrastruktur.

Perusahaan, lanjut dia, telah meluncurkan 4 proyek terbaru di antaranya Grand Cikarang City 2 dengan luas lahan 70 hektare dan rencana total 6.700 unit, kemudian Grand Karawang Residence di luas lahan 100 hektare dengan pembangunan tahap awal 4.300 unit.

Dua proyek lainnya adalah Grand Subang Residence di lahan seluas 30 hektare dengan rencana pembangunan total 2.800 unit, dan Grand Purwakarta Residence seluas 300 hektare dengan rencana total sekitar 25.000 unit.

“Kami masih mematok target penjualan sama seperti tahun lalu, 10.000 hingga 15.000 unit,” katanya belum lama ini.

Di antara sejumlah koridor Jakarta Timur, menurutnya, koridor Cikarang adalah yang terbesar, dengan estimasi 40%--50% kegiatan ekspor berasal dari kawasan ini. Selain itu, luas Cikarang 20.000 hektare yang berarti 40 kali luas Singapura yang 500 hektare dan belum termasuk Karawang dan Purwakarta.

Tag : rumah bersubsidi
Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top