Polda Sulsel: Kepatuhan terhadap Standar Keselamatan Masih Rendah

Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan menyatakan tingkat kesadaran masyarakat menggunakan standar keamanan seperti jaket keselamatan saat berlayar masih sangat rendah.
Newswire | 14 Juni 2018 10:58 WIB
Anggota kepolisian mengangkat jenazah salah satu korban kapal motor Arista yang tenggelam, di Rumah Sakit Jala Ammari, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (13/6/2018). - ANTARA/Abriawan Abhe

Bisnis.com, MAKASSAR—Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan menyatakan tingkat kesadaran masyarakat menggunakan standar keamanan seperti jaket keselamatan saat berlayar masih sangat rendah.

"Standar keamanan memang penting, tapi kadang masih banyak yang mengabaikannya karena menganggap dekat dan sebagainya," ujar Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Dicky Sondani, di Makassar, Kamis (14/6/2018).

Pengabaian standar keamanan saat berlayar mengakibatkan adanya korban tewas ketika Kapal Motor (KM) Arista karam setelah dihantam ombak.

Dicky menyatakan saat para korban ditolong dan dievakuasi tidak ada satu pun penumpang yang menggunakan standar keselamatan berlayar baik penumpang maupun nakhoda kapalnya.

"Umumnya yang selamat adalah mereka yang bisa berenang dan itu pun cepat ditolong oleh tim SAR. Yang meninggal ini adalah mereka yang tidak bisa berenang," katanya lagi.

Dia mengaku jika jaket keselamatan/pelampung sama pentingnya dengan helm yang dipakai para pengendara roda dua. Hanya saja, tempat digunakannya berbeda.

Dicky menyatakan jika helm digunakan di darat, sedangkan jaket keselamatan dipakai di lautan atau di sungai. Jaket keselamatan dan helm memiliki fungsi yang sama untuk perlindungan.

"Ini hal kecil, tapi sangat besar artinya. Kalau di darat helm sudah menjadi kewajiban bagi para pengendara bermotor dan harusnya di laut atau sungai life jacket juga menjadi kewajiban," katanya lagi.

Dia menuturkan, jika negara-negara maju di dunia sudah menjadikan jaket keselamatan sebagai alat standar keamanan untuk digunakan ketika di laut maupun di sungai.

"Hanya di Indonesia yang kurang memahami ini. Di luar negeri, di negara-negara maju, mereka tidak akan berangkat naik kapal kalau tidak ada life jacketnya," ujar dia.

Sebelumnya, kapal yang membawa 40 orang penumpang berlayar dari Pulau Barang Lompo menuju daratan. Dalam perjalanan pulang, kapal tenggelam dihantam ombak.

 

Tag : kecelakaan kapal
Editor : Ratna Ariyanti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top