Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

BI Bicara Suku Bunga, Ekonom Sebut Rupiah Bisa Bergeser ke 13.900

Bank Indonesia menyatakan memiliki ruang yang cukup besar untuk menyesuaikan suku bunga kebijakan (7 Days Reverse Repo). Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menilai efek kenaikan bunga acuan 25 bps hingga 50 bps hanya dirasakan jangka pendek
Linda Teti Silitonga
Linda Teti Silitonga - Bisnis.com 11 Mei 2018  |  11:05 WIB
Gedung BI. - .
Gedung BI. - .

Bisnis.com, JAKARTA- Bank Indonesia menyatakan memiliki ruang yang cukup besar untuk menyesuaikan suku bunga kebijakan (7 Days Reverse Repo).

Peneliti atau ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menilai efek kenaikan bunga acuan 25 bps hingga 50 bps hanya dirasakan jangka pendek.

“Dampaknya sendiri diperkirakan sebatas menguat 150-200 rupiah. Jadi dari level 14.100 bisa ditekan ke 13.900,” kata Bhima kepada Bisnis.com, Jumat (11/5/2018).

Namun ujarnya, memang akan muncul optimisme karena transmisi kenaikan bunga acuan akan dirasakan ke kenaikan beberapa instrumen investasi salah satunya kupon SBN dan obligasi swasta, sehingga menahan keluarnya dana asing dari Indonesia.

“Bunga acuan juga mengangkat confidence level meskipun langkah BI naikkan 7days repo rate bisa dikatakan terlambat,” kata Bhima.

Dia mengemukakan kata terlambat, mengingat bank sentral negara tetangga Singapura dan Malaysia lebih dulu memberikan respons dari kenaikan bunga Fed.

“Kalau saat Fed Rate naik bulan Maret lalu, BI respons dengan naikkan bunga acuan, mungkin capital outflow bisa lebih berkurang dan cadev tidak tergerus US$7miliar dari awal tahun. Sekarang cadev di (US$)124 miliar terendah sejak Juni 2017,” kata Bhima.

Seperti diketahui, Bank sentral akhirnya mengakui nilai tukar rupiah dalam beberapa pekan terakhir sudah tidak lagi sejalan dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus D.W. Martowardojo mengungkapkan BI akan secara tegas dan konsisten mengarahkan dan memprioritaskan kebijakan moneter pada terciptanya stabilitas, melihat masih besarnya potensi tantangan dari kondisi global yang dapat berpotensi menganggu kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka menengah panjang.

"Dengan mempertimbangkan hal tersebut, BI memiliki ruang yang cukup besar untuk menyesuaikan suku bunga kebijakan [7 Days Reverse Repo]," katanya dalam pernyataan resmi, Jumat (11/5/2018).

Agus menambahkan respons kebijakan tersebut akan dijalankan secara konsisten dan pre-emptive untuk memastikan keberlangsungan stabilitas.

Selain itu, BI juga akan konsisten mendorong berjalannya mekanisme pasar secara efektif dan efisien, sehingga ketersediaan likuiditas baik di pasar valuta asing dan pasar uang tetap terjaga dengan baik. Operasi moneter di pasar valuta asing tetap akan dilakukan untuk meminimalkan volatilitas nilai tukar agar keyakinan pelaku ekonomi dapat dipastikan tetap terjaga.

Menurutnya, operasi moneter di pasar uang akan terus dilakukan untuk memastikan ketersediaan likuiditas rupiah yang memadai dan terjaganya stabilitas suku bunga di pasar uang, dalam koridor yang sejalan dengan stance kebijakan moneter BI.

Kolaborasi dengan otoritas terkait dan industri keuangan, terutama asosiasi, akan semakin diperkuat untuk memperdalam dan mengefisiensikan price discovery di pasar valuta asing dan pasar uang, termasuk melalui penambahan variasi instrumen, penguatan infrastruktur pasar keuangan, dan memperkuat kredibilitas suku bunga acuan pasar (market reference rate).

Agus juga menegaskan koordinasi dengan pemerintah akan semakin diperkuat untuk memastikan terjaganya inflasi sesuai sasaran, memastikan berjalannya reformasi struktural secara efektif untuk memperkuat struktur neraca transaksi berjalan dan neraca modal, serta berbagai kebijakan struktural lainnya untuk meningkatkan daya saing perekonomian.

Saat ini, BI masih melihat sejumlah risiko--tantangan global terutama siklus peningkatan suku bunga AS, meningkatnya harga minyak dunia, serta menguatnya risiko geopolitik sebagai akibat meningkatnya tensi sengketa dagang AS-Tiongkok dan pembatalan kesepakatan nuklir AS-Iran--yang telah mengakibatkan menguatnya dolar AS terhadap seluruh mata uang dunia termasuk rupiah.

Per 9 Mei 2018, selama Mei 2018 (month-to-date/mtd) rupiah melemah 1,2%, bath Thailand 1,76%, dan lira Turki 5,27%. Sementara itu, sepanjang 2018 (year-to-date/ytd) rupiah melemah 3,67%, peso Filipina 4,04%, rupee India 5,6%, real Brasil 7,9%, rubel Rusia 8,84%, dan lira Turki 11,42%.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bi
Editor : Linda Teti Silitonga
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top