Pelindo IV Klaim Konektivitas Tekan Disparitas Harga di KTI

Pelindo IV mengklaim disparitas harga barang di KTI dengan wilayah barat terus menyusut seiring dengan gencarnya pembangunan konektivitas sehingga suplai sejumlah komoditas berjalan lancar.
Akhmad Mabrori
Akhmad Mabrori - Bisnis.com 07 Mei 2018  |  00:12 WIB
Pelindo IV Klaim Konektivitas Tekan Disparitas Harga di KTI
Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) IV Doso Agung saat berbicara pada seminar Peningkatan Investasi dan Ekspor Nonmigas pekan lalu di Palu, Sulawesi Tengah. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) IV mengklaim disparitas harga barang di kawasan timur Indonesia (KTI) dengan wilayah barat terus menyusut seiring dengan gencarnya pembangunan konektivitas di KTI sehingga suplai sejumlah komoditas berjalan lancar.

“Selama 2,5 tahun kami bangun konektivitas di KTI. Dampaknya, disparitas harga antara wilayah timur Indonesia dan barat Indonesia perlahan menyusut serta harga barang di tingkat konsumen menurun,” ujar Doso Agung, Dirut PT Pelindo IV, melalui siaran pers Pelindo IV pada Minggu (6/5/2018).

Dia mengutarakan daya beli masyarakat di KTI bergairah kembali, hal itu dikarenakan efek positif dari kelancaran suplai distribusi barang di seluruh pelabuhan yang dikelola BUMN itu.

Doso mencontohkan kini harga semen di Wamena, Papua, yang semula mencapai Rp.500.000 per sak, menjadi Rp300.000 per sak atau turun 40%. Begitu juga dengan harga beras di Sorong yang semula Rp.13.000 per kg, kini Rp.10.500 per kg atau turun hingga 19,23%.

Konektivitas yang dilakukan Pelindo IV, lanjutnya, antara lain membuka rute pelayaran ekspor langsung atau sebaliknya impor dengan tujuan langsung dari dan ke Pelabuhan Makassar dan pelabuhan di KTI langsung atau biasa disebut direct call dan direct export ke luar negeri dari KTI.

Doso mengungkapkan layanan langsung atau direct call dan direct export secara intens dilakukan Pelindo IV bekerja sama dengan perusahaan pelayaran internasional asal Hong Kong, SITC, di pelabuhan besar di KTI, di antaranya Pelabuhan Makassar, Pantoloan, Ambon, Balikpapan, dan Jayapura.

“Awal kami buka direct call dan mengirimkan barang langsung cuma ke tiga negara dan hanya 40 kontainer per bulan, tapi sekarang sudah 3.000 kontainer per bulan,” paparnya.

Upaya itu, menurutnya, merupakan kontribusi perseroan selaku BUMN hadir di tengah masyarakat sekaligus mengemban tugas pemerintah pusat guna menekan disparitas harga, yang sebelumnya begitu tinggi antara wilayah barat dan timur.

Doso menyatakan direct call dan direct export juga membuka peluang bagi daerah di KTI untuk menambah pendapatan daerah, sebab KTI diketahui kaya komoditas unggulan yang selama ini diminati negara asing.

"Namun, selama ini negara asing hanya mengetahui komoditas itu berasal dari Surabaya atau Jakarta lantaran pengirimannya melalui Tanjung Perak atau Tanjung Priok," tuturnya.

Doso juga mengajak petani dan pengrajin di Palu dan daerah Sulawesi lainnya untuk sama-sama menyukseskan program direct call dan direct ekspor sehingga dapat menekan biaya logistik serta memangkas waktu barang sampai tempat tujuan.

"Silakan dikumpulkan di pelabuhan, nanti kami angkut ke Pelabuhan Makassar atau Balikpapan yang merupakan hub (pelabuhan pengumpul), nanti langsung dikapalkan ke luar negeri,” ujarnya.

Doso mengungkapkan perihal konektivitas dan penyusutan disparitas harga komoditas di KTI tersebut juga sudah disampaikannya saat seminar peningkatan investasi dan ekspor non migas yang dilaksanakan Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Sulawesi Tengah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pelindo iv

Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top