Iceland Tolak Jual CPO, Kemendag Beberkan Kebijakan Sejumlah Peritel Modern yang Digugat Asosiasi

Pemerintah mengantisipasi kemungkinan bisa merembetnya penolakan penjualan minyak sawit mentah ke toko modern lainnya di dunia, setelah jaringan supermarket asal Inggris Iceland ingin menghentikan penjualan crude palm oil (CPO) pada 2018 di gerainya.
Linda Teti Silitonga | 16 April 2018 09:32 WIB
Buah sawit segar. - .

Bisnis.com, JAKARTA— Pemerintah mengantisipasi kemungkinan bisa merembetnya penolakan penjualan minyak sawit mentah ke toko modern lainnya di dunia, setelah jaringan supermarket asal Inggris Iceland ingin menghentikan penjualan crude palm oil (CPO) pada 2018 di gerainya.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Kementerian Perdagangan, Oke Nurwan mengatakan mengingat keputusan kampanye tersebut bukan pemerintah Inggris, untuk itu Kemendag akan melakukan pembahasan dengan pihak asosiasi.

“Itu sebabnya harus dibicarakan dengan assosiasi,” kata Oke, Senin (16/4/2018).

Meski tidak mengemukakan kemungkinan ada pihak asosiasi yang bisa melayangkan gugatan, Oke mencontohkan adanya sikap tersebut kepada pihak peritel raksasa dunia.

“Seperti, supermarket Casino di Prancis digugat oleh assosiasi Cote d’Ivoire dan Supermarket DelHaize di Belgia digugat oleh Ferero,” kata Oke tanpa menjelaskan lebih detail gugatan yang dimaksud.

Namun yang jelas, Oke menekankan mengingat supermarket makanan Iceland di Inggris bukan dari pihak pemerintah,  sehingga yang paling memungkinkan untuk merespons adalah pihak asosiasi.

“Akan kami bahas bersama asosiasi,”  kata Oke.

Seperti diketahui, Council of Palm Oil Producer Countries (CPOPC) atau Dewan Negara Produsen Kelapa Sawit yang beranggotakan 10 negara memprotes kebijakan Iceland Co karena dinilai diskriminatif dan mendiskreditkan citra positif kelapa sawit di Eropa.

Jaringan supermarket Inggris Iceland Co melakukan kampanye untuk menghentikan penggunaan minyak sawit pada ritelnya mulai akhir 2018. CPOPC menilai kampanye ini adalah tindakan menyesatkan karena berpotensi mendiskreditkan citra positif kelapa sawit secara global, sekaligus menjadi kampanye negatif terhadap industri kelapa sawit di dunia.

Direktur Eksekutif CPOPC Mahendra Siregar melayangkan protes keras kepada Managing Director Iceland Foods Ltd, Richard Walker melalui surat resmi.

Dalam surat itu Mahendra mewakili CPOPC menilai kebijakan Iceland Co akan menyesatkan konsumen secara global. Dia mengatakan bahwa produktivitas minyak sawit adalah yang paling tinggi dibandingkan minyak nabati yang lain.

Selain itu, sawit adalah minyak nabati yang paling berkelanjutan dan faktor kunci untuk melindungi lahan global terutama karena permintaan minyak nabati terus tumbuh. Mahendra membandingkan antara minyak sawit yang sekarang berproduksi di kisaran 6 ton per ha dengan rape seed menghasilkan 0,3 ton minyak per ha, kedelai dan bunga matahari 0,6 ton per ha.

“Karena itu, kampanye penghentian penggunaan minyak sawit oleh Iceland Co justru akan menyebabkan perubahan penggunaan lahan baru yang lebih besar untuk menggantikan jumlah lahan pertanian kelapa sawit yang sama, yang tidak mungkin dalam skala global apalagi di Eropa. Dari perspektif negara produsen minyak sawit," katanya dalam keterangan resmi, Minggu (15/4/2018).

Menurutnya kampanye seperti ini yang dianggap sebagai sifat diskriminatif yang justru menyebabkan degradasi tanah yang parah, perusakan flora dan fauna, pencemaran air tanah dan lautan, serta peningkatan emisi CO2 dari penggunaan lahan alternatif.

Selain itu, kampanye penghentian penggunaan minyak sawit dan mengganti dengan minyak nabati lain Co juga akan memicu konsumsi air yang lebih besar. Sebab, produksi minyak sawit terbukti menghemat lebih banyak air dibanding minyak nabati lainnya.

Mahendra mempertanyakan kebijakan Iceland Co yang percaya kepada isu bahwa 85% konsumen mereka menentang penggunaan minyak sawit.

“Saya tidak terkejut dengan angka ini mengingat kampanye bersama di Uni Eropa yang memilih untuk membedakan minyak sawit dari minyak nabati lainnya. Namun, CPOPC menganggap bahwa klaim yang dibuat terhadap minyak sawit menyesatkan konsumen," katamya.

Dalam surat protesnya, CPOPC berharap bisa mengundang Managing Director Iceland Foods Ltd, Richard Walker, untuk berdiskusi dan melihat langsung tata kelola perkebunan kelapa sawit di Indonesia.

Iceland Co merupakan salah satu jaringan supermarket terbesar di Eropa dengan total jumlah gerai mencapai 857 unit di seluruh Eropa, mayoritas di Inggris. Iceland Co juga memproduksi dan menjual makanan beku, termasuk makanan siap saji dan sayuran. Perusahaan ritel ini memiliki sekitar 2,2% pangsa pasar makanan di Inggris.

“Kami percaya bahwa CPOPC dan Iceland Co dapat berbagi kepedulian yang sama terhadap lingkungan. Tentu saja, negara-negara penghasil kelapa sawit ingin melindungi warisan alam mereka sendiri selama beberapa generasi yang Anda sebutkan sebagai permata mahkota planet kita,” tutupnya.

Tag : cpo
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top