Pipiltin Cocoa Tingkatkan Ekspor Cokelat ke Jepang

Pipiltin Cocoa, perusahaan produsen cokelat asal Indonesia, berencana memperbesar porsi ekspor cokelat batang ke Jepang pada tahun ini sekaligus mengembangkan ekowisata perkebunan komoditas itu di Bali.
Deandra Syarizka
Deandra Syarizka - Bisnis.com 08 April 2018  |  21:19 WIB
Pipiltin Cocoa Tingkatkan Ekspor Cokelat ke Jepang
Kakao. - .

Bisnis.com, JAKARTA— Pipiltin Cocoa, perusahaan produsen cokelat asal Indonesia, berencana memperbesar porsi ekspor cokelat batang ke Jepang pada tahun ini sekaligus mengembangkan ekowisata perkebunan komoditas itu di Bali.

Tissa Aunilla, Co-Founder Pipiltin Cocoa memaparkan, pihaknya rata-rata mengekspor sebanyak 20% dari produksi cokelat batang yang dapat mencapai 11 ton setiap bulannya, atau sekitar 2,2 ton per bulan. Dia pun berharap jumlah ekspornya dapat meningkat melebihi 20% pada tahun ini.

“Selain chocolate bar, minuman cokelat dan snack juga kita ekspor. Tapi yang utamanya kita jual ke Jepang adalah chocolate bar,” ujarnya kepada Bisnis.

Dia menjelaskan, cokelat produksi perusahannya cukup digemari di Jepang karena memiliki cerita yang unik mengenai cokelat yang dibeli langsung dari petani. Selain itu, warga Jepang juga dinilai menyukai cita rasa biji cokelat Indonesia yang khas dari setiap daerah, seperti cokelat Flores yang memiliki cita rasa cengkih, cokelat Bali yang memiliki cita rasa kacang, dan lainnya.

Adapun saat ini, produksi biji cokelat yang diolah menjadi cokelat batang disuplai dari petani lokal di empat daerah yaitu Bali, Aceh, Banyuwangi dan Flores. Sementara produksi cokelat Pipiltin Cocoa dijual dengan berbagai cara, baik melalui 36 toko ritel di Jakarta dan 23 toko di Bali, maupun secara korporasi dengan menjadi pemasok cokelat ke 10 hotel bintang lima.

Dia menjelaskan, biji cokelat yang diperolehnya langsung dari petani diolah secara premium melalui proses fermentasi untuk menimbulkan cita rasa setiap biji cokelat yang berbeda-beda. Oleh karena itu, dia mengaku harga yang ditawarkan sedikit di atas rata-rata dibandingkan cokelat batang lainnya yang lazim ditemukan di toko ritel.

“Edukasi itu yang ingin kita galakkan lagi. Kok di Jepang bisa populer tapi di negara sendiri belum? Kalau kopi kita kan sudah jadi banget brandingnya, kalau cokelat belum,” ujarnya.

Dia menambahkan, pihaknya juga berencana mengembangkan ekowisata perkebunan cokelat di Tabanan, Bali. Pasalnya, dia menilai lebih mudah mengenalkan suatu daerah baru melalui kuliner kepada para wisatawan.

Dengan prinsip ekowisata, pihaknya berencana membangun toko, fasilitas pengolahan cokelat, sekaligus menata perkebunan cokelat untuk layak dikunjungi oleh wisatawan. Sayang, pihaknya belum bersedia mengatakan modal yang disiapkan untuk membangun fasilitas tersebut.

“Sekarang rencana [pengembangan ekowisata cokelat] yang paling dekat Bali, karena sangat relevan kalau bangun pabrik cokelat di sana. Selain itu Bali juga sudah established kotanya untuk turis, tetapi tidak menutup kemungkinan juga kita akan buka di daerah yang lain,” jelasnya.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
cokelat

Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top