Pelemahan Rupiah, Industri MRO Pesawat Klaim Aman

Industri perawatan pesawat (maintenance, repair, overhaul/MRO) diklaim tidak terkena dampak langsung pelemahan rupiah yang terjadi sejak awal Januari 2018 hingga saat ini.
Rio Sandy Pradana | 27 Maret 2018 16:28 WIB
GMF Aero Asia, bisnis perawatan pesawat milik Garuda Indonesia. - Reuters/Beawiharta

Bisnis.com, JAKARTA – Industri perawatan pesawat (maintenance, repair, overhaul/MRO) diklaim tidak terkena dampak langsung pelemahan rupiah yang terjadi sejak awal Januari 2018.

Ketua Asosiasi Perawatan Pesawat Indonesia (Indonesia Aircraft Maintenance Services Association/IAMSA) Richard Budihadianto mengatakan seluruh biaya yang timbul biasanya seluruhnya dialihkan kepada maskapai selaku pelanggan.

Biaya investasi MRO juga sebagian besar dalam bentuk rupiah. "Kami hanya meneruskan biaya. Jadi, perusahaan MRO tidak terkena dampak pelemahan rupiah," ujarnya pada Selasa (27/3/2018).

Richard menambahkan pada dasarnya biaya perusahaan MRO lebih banyak menggunakan mata uang rupiah. Komposisi biaya operasional sebagian besar digunakan untuk pekerja (labour cost) yang berasal dari dalam negeri.

Selain itu, beberapa perusahaan MRO juga mencantumkan rupiah dalam laporan keuangannya. Kendati banyak MRO yang menggunakan dolar AS, tetapi saat mengajukan tagihan kepada maskapai nasional telah disesuaikan menjadi rupiah.

Richard menuturkan perusahaan MRO memang harus membeli suku cadang menggunakan mata uang dolar, tetapi ini tidak banyak terjadi untuk perusahaan dalam negeri. Biasanya suku cadang dipasok oleh maskapai yang menjalin kontrak kerja sama dengan perusahaan MRO.

Dalam kontrak jangka panjang tersebut, lanjutnya, perusahaan MRO hanya sebagai tenaga untuk melakukan perawatan. Alhasil, biaya yang didapat juga tetap menggunakan mata uang rupiah.

Pihaknya menjelaskan perusahaan MRO memang memiliki stok suku cadang pesawat yang dibeli sebelumnya, tetapi hanya untuk jenis material sekali pakai (consumable material). Contoh produk tersebut seperti seal dan gasket yang berfungsi untuk menjaga gear tetap terlumasi.

"Produk yang kami stok juga bukan yang harga mahal. Jadi kalau ada selisih kurs tidak terlalu berdampak," ujarnya.

Richard, yang juga menjabat Direktur Utama Sriwijaya Maintenance Facility (SMF), meminta pemerintah memperhatikan industri maskapai agar memiliki kinerja keuangan yang selalu sehat. Terlebih, banyak pihak lain yang bergantung kepada maskapai.

Dia mencontohkan sejumlah pihak tersebut seperti perusahaan MRO, jasa layanan darat (ground handling), pelatihan kru pesawat, katering, hingga kargo udara.

Di sisi lain, CEO Arista Indonesia Aviation Center (AIAC) Arista Atmadjati mengatakan sebagian besar komponen perawatan pesawat memang berasal dari luar negeri. Hampir 80% biaya perawatan pesawat dibayar menggunakan dolar AS.

"Biaya yang rutin dikeluarkan seperti oli, minyak hidrolik, kampas rem, dan komponen yang memiliki usia terjadwal," kata Arista.

Sementara itu, biaya yang dikeluarkan maskapai dalam bentuk mata uang rupiah hanya sebesar 20%. Biaya tersebut, yakni jasa layanan sisi darat (ground handling), gaji karyawan, hingga biaya operasional kantor.

Kurs tengah Bank Indonesia sempat mencapai level Rp13.303 per dolar AS pada 26 Januari 2018. Namun, angka tersebut terus melemah hingga Rp13.708 per dolar AS per hari ini.

Tag : perawatan pesawat
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top