Penyelesaian Proyek Kereta Cepat Jakarta—Bandung Mundur ke 2020, Ini Penjelasan Menteri Rini

Penyelesaian proyek kereta cepat Jakarta-Bandung dipastikan mundur ke 2020 setelah tertundanya pembebasan lahan di sejumlah titik.
M. Nurhadi Pratomo | 21 Maret 2018 13:25 WIB
Foto udara proyek pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung di perkebunan teh Maswati, Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Selasa (6/2/2018). - ANTARA/Raisan Al Farisi

Bisnis.com, CIKALONG WETAN — Penyelesaian proyek kereta cepat Jakarta-Bandung dipastikan mundur ke 2020 setelah tertundanya pembebasan lahan di sejumlah titik.

Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini M. Soemarno menjelaskan bahwa pembebasan lahan di 4 titik lokasi pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung molor hingga akhir 2017. Pasalnya, hal tersebut menunggu selesainya rencana tata ruang wilayah (RTRW) nasional.

Dia menyebut Pemerintah Provinsi Jawa Barat tidak bisa memberikan lokasi pembangunan sebelum RTRW diselesaikan. Saat ini, proses tersebut telah selesai dan tinggal menunggu hasil musyawarah dengan warga yang lahanya terdampak proyek kereta cepat.

Pembebasan 40% sisa lahan, sambungnya, tinggal divaluasi ulang secara detail dan dimusyawarahkan. Adapun, total dana yang dikeluarkan untuk pembebasan lahan mencapai Rp9 triliun.

Dengan kondisi tersebut, sambungnya, rencana penyelesaian proyek kereta cepat Jakarta-Bandung dipastikan mundur dari target semula pada 2019.

“Kalo sesuai target awal tidak mungkin. Kita harapkan trial pada 2020,” jelasnya di Cikalong Wetan, Jawa Barat, Rabu (21/3/2018).

Kendati mundur, Rini memastikan kebutuhan dana untuk proyek tersebut dipastikan tidak membengkak. Pasalnya, pinjaman dana dari China Development Bank (CDB) memang belum dicairkan.

Nilai proyek tersebut menurutnya memang telah dinaikan dari perkiraan awal US$5,6 miliar menjadi US$5,9 miliar. Peningkatan tersebut sejalan dengan penambahan terowongan di wilayah Walini, Jawa Barat.

Terkait pinjaman CDB, pihaknya mengaku optimistis dapat dicairkan pada April 2018. Dengan demikian, saat ini masih digunakan dana ekuitas pemegang saham konsorsium Indonesia-China untuk pembebasan lahan serta pekerjaan konstruksi tahap awal.

Tag : Kereta Cepat
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top