India Dinilai Potensial Jadi Mitra Kerja Sama Maritim Indonesia

Kalangan pengamat menilai Indonesia bisa menggarap peluang kerja sama maritim dengan India sejalan dengan besarnya nilai perdagangan bilateral yang berlangsung antar kedua negara.
Rivki Maulana | 18 Maret 2018 12:34 WIB
Ilustrasi ekspor. - ANTARA FOTO

Bisnis.com, JAKARTA -- Kalangan pengamat menilai Indonesia bisa menggarap peluang kerja sama maritim dengan India sejalan dengan besarnya nilai perdagangan bilateral yang berlangsung antar kedua negara.

Direktur Eksekutif The National Maritime Institute (Namarin) Siswanto Rusdi mengatakan potensi kerja sama maritim dengan India selama ini belum tergarap, bahkan belum dilirik. Padahal, sebagai mitra dagang keempat terbesar, potensi kargo yang bisa digarap perusahaan pelayaran nasional cukup menjanjikan.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan (Kemendag), India merupakan negara tujuan ekspor keempat terbesar senilai US$13,94 miliar pada 2017. Jumlah tersebut meningkat 40% dibandingkan dengan posisi 2016 secara year-on-year (yoy).

Di sisi lain, impor asal India juga tumbuh 33% menjadi US$3,78 miliar.

"India tidak memiliki armada yang banyak. Jadi, ini sebetulnya jadi peluang Indonesia," ujarnya kepada Bisnis.com, Minggu (18/3/2018).

Data dari Kementerian Pelayaran India menunjukkan jumlah armada berbendera India mencapai 1.301 unit dengan bobot mati (DWT) 17,1 juta ton pada 2016. Di periode yang sama, data Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyebut armada kapal nasional mencapai 24.046 unit dengan bobot mati 37,88 juta ton.

Siswanto menerangkan hubungan bilateral Indonesia dengan India yang berumur hampir tujuh dekade menjadi modal berharga untuk merambah kongsi maritim. Dia menambahkan kerja sama di sektor maritim ini bisa dipayungi dalam setiap penanaman modal asing yang masuk dari India.

"Dengan begitu kita bisa mendapat kargo," terang Siswanto.

Menurut data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), investasi India di Indonesia pada 2017 mengalami lonjakan. Realisasi investasi Negeri Bollywood itu tercatat US$286,6 juta atau naik 4,26 kali lipat dibandingkan dengan posisi 2016.

Siswanto menekankan menggarap kerja sama pelayaran ke negara yang arus perdagangannya terbukti mapan lebih masuk akal ketimbang menjajaki kerja sama yang potensinya belum bisa dibuktikan. Dia mencontohka  pembukaan rute kapal roro Davao-Bitung pada 2 Mei 2017 tidak berlanjut karena tidak ada kargo yang diangkut.

Dalam catatan Bisnis.com, saat ini perusahaan pelayaran nasional yang sudah melayani rute ke India adalah Grup Samudera Indonesia. Lewat bendera Samudera Shipping (India) Pvt. Ltd, armada Samudera berlayar ke tiga kota utama, yakni Mumbai, Kolkata, dan Chennai.

Tag : kerjasama ri-india
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top