Performa Semen Baturaja Sejalan dengan Industri

Rahmad Pribadi, Direktur Utama PT Semen Baturaja Tbk., menuturkan kondisi penjualan semen perseroan pada Februari 2018 tidak berbeda dengan laporan asosiasi semen.
Annisa Sulistyo Rini | 13 Maret 2018 19:08 WIB
Direktur Utama PT Semen Baturaja Tbk Rahmad Pribadi menjawab pertanyaan wartawan , saat berkunjung ke Kantor Bisnis Indonesia, Jakarta, Jumat (19/5). - JIBI/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA—Rahmad Pribadi, Direktur Utama PT Semen Baturaja Tbk., menuturkan kondisi penjualan semen perseroan pada Februari 2018 tidak berbeda dengan laporan asosiasi semen.

"Penjualan pada Februari 2018 memang turun dibandingkan Januari, tetapi secara tahunan masih lebih tinggi," katanya.

Rahmad memperkirakan pertumbuhan konsumsi semen sepanjang tahun ini berada di kisaran 7% y-o-y. Pada  2017, perseroan berhasil membukukan pendapatan senilai Rp1,55 triliun, atau tumbuh 1,9% dibandingkan dengan 2016 yang senilai Rp1,52 triliun.

Peningkatan pendapatan tersebut ditopang oleh kenaikan penjualan semen. Secara keseluruhan, penjualan semen emiten dengan kode saham SMBR mencapai 1,76 juta ton, meningkat 8% dibandingkan 2016.

Konsumsi semen nasional pada Februari 2018 turun 15,7% dibandingkan bulan sebelumnya. Musim hujan dan hari kerja yang pendek menjadi faktor pendorong penurunan tersebut.

Widodo Santoso, Ketua Asosiasi Semen Indonesia (ASI), mengatakan pada Januari konsumsi semen nasional tercatat sebesar 5,68 juta ton dan turun menjadi 4,79 juta ton pada Februari 2018. Kendati secara bulanan turun, apabila dibandingkan dengan konsumsi pada Februari 2017, terdapat peningkatan sekitar 5,2%.

"Penurunan secara bulanan dikarenakan hujan dan libur Imlek serta hari kerja yang hanya 28 hari. Namun, dibandingkan demand tahun lalu, semua daerah cukup bagus, terutama Sumatra dan Kalimantan," ujarnya Selasa (13/3/2018).

Untuk wilayah Sumatra, Widodo menuturkan permintaan semen meningkat cukup signifikan terutama di Sumatra Selatan, Lampung, Aceh, Kepulauan Riau, Jambi dan Bangka Belitung dengan kenaikan rata-rata di atas 20% secara tahunan. Namun, peningkatan permintaan semen tidak terjadi di Sumatra Barat dan Bengkulu yang mencatatkan penurunan.

Untuk permintaan di Kalimantan, Widodo menilai peningkatan terlihat menggembirakan karena tumbuh sebesar 16,4% setelah pada tahun lalu terpuruk karena harga batu bara yang jatuh. "Saat ini sudah mulai proyek jalan tol Samarinda-Balikpapan dan proyek strategis power plant dan pelabuhan. Di Kalsel dan Kaltara, permintaan naik di atas 50%," jelasnya.

Permintaan di wilayah Jawa ditopang oleh Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Banten dengan kenaikan rata-rata sebesar 10%, sedangkan konsumsi semen di Jawa Timur dan Jawa Barat tercatat stagnan. Untuk wilayah Sulawesi, Widodo menyebutkan ada sedikit kenaikan sebesar 3,2% setelah tahun lalu mengalami penurunan.

"Daerah Bali dan Nusa Tenggara menurun dratis hampir 7%, sedangkan Maluku dan Papua cukup mengembirakan dengan kenaikan 9,3%," katanya.

 

Tag : semen
Editor : Ratna Ariyanti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top