Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ini Deretan Daerah Potensial Penghasil Sarang Walet

Perkumpulan Pengusaha Sarang Burung Indonesia (PPBSI) menilai beberapa wilayah di Indonesia potensial untuk dijadikan sentra penghasil sarang burung walet.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 03 Maret 2018  |  06:25 WIB
Petugas memeriksa kemasan sarang burung walet siap ekspor ke China, di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (29/1/2015). - Antara/Rivan Awal Lingga
Petugas memeriksa kemasan sarang burung walet siap ekspor ke China, di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (29/1/2015). - Antara/Rivan Awal Lingga

Bisnis.com, JAKARTA — Perkumpulan Pengusaha Sarang Burung Indonesia (PPBSI) menilai beberapa wilayah di Indonesia potensial untuk dijadikan sentra penghasil sarang burung walet.

Ketua Umum Perkumpulan Pengusaha Sarang Burung Indonesia (PPBSI) Boedi Mranata mengatakan wilayah seperti Sumatra, Kalimantan hingga Sulawesi berpotensi sebagai daerah penghasil sarang burung walet. Menurutnya, daerah-daerah di wilayah tersebut pun selama ini menjadi penghasil sarang burung walet terbesar.

Sementara untuk Jawa, meskipun sempat menjadi daerah dengan produksi terbesar tapi saat ini terus menunjukan penurunan. Papua juga dipandang potensial, tapi belum ada pengembangan karena satu dan lain hal.

"Kalau produksi sarang walet dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi menjadi pusatnya. Jawa dulu ada tapi sekarang ekosistemnya sudah rusak hingga turun," terang Boedi, Jumat (2/3/2018).

Boedi menyatakan potensi sarang burung walet sebagai komoditas ekspor non migas pun terbuka lebar. Apalagi, Pemerintah China kini terbuka untuk melakukan ekspor langsung setelah sebelumnya harus melewati negara ketiga seperti Hong Kong dan Vietnam.

"Sejak sarang burung walet terbukti memiliki kandungan 10% sialic acid pada 2015, konsumsi burung walet menjadi booming," paparnya.

Telur ataupun daging pun memiliki zat serupa, tapi sarang burung walet memiliki kandungan tertinggi dengan nilai 10%. Sementara itu, kandungan yang dimiliki komoditas lain tidak lebih dari 1%.

Alhasil, tren tersebut ikut mendongkrak ekspor sarang burung walet indonesia ke China tiap tahunnya. Pada 2015, pengekspor sarang burung walet asal Indonesia mengirimkan dari 14 ton komoditas ini ke Negeri Panda.

Jumlahnya meningkat menjadi 26 ton pada 2016 dan 52 ton pada 2017.

"Nilai ekspor ke China itu US$87,4 juta atau setara Rp1,18 triliun. Sementara itu, harganya tergantung kualitas barang tapi berada di kisaran US$1.500-US$2.000," sebut Boedi.

Menurutnya, industri sarang burung berpotensi untuk terus tumbuh dan bisa berkontribusi terhadap pendapatan negara. Apalagi, harga sarang burung dunia pun dijual cukup mahal.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekspor sarang walet
Editor : Annisa Margrit
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top