Cerita Nurbaya dan Padat Karya Tunai di Panyakalang

Namanya Nurbaya. Senyum wanita baya warga Desa Panyakalang, Kecamatan Bajeng, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan itu terlihat paling semringah di antara kerumunan pekerja padat karya tunai yang sedang mengerjakan proyek Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
Irene Agustine | 15 Februari 2018 20:09 WIB
Nurbaya (kedua kanan), secara sukarela bekerja dalam program padat karya tunai. Selain ingin membantu suami, Nurbaya juga tak sabar bertemu Presiden Jokowi. - foto/foto Irene Agustine

Bisnis.com, SUNGGUMINASA — Namanya Nurbaya. Senyum wanita baya warga Desa Panyakalang, Kecamatan Bajeng, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan itu terlihat paling semringah di antara kerumunan pekerja padat karya tunai yang sedang mengerjakan proyek Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Jika dibandingkan dengan seluruh pekerja dalam proyek saluran irigasi tersier dan peningkatan jalan usaha tani tersebut, Nurbaya juga lah yang terlihat paling mentereng meski tangannya penuh dengan batu sawah dan tanah lumpur.

Meski mengenakan jas hujan, Nurbaya yang mengenakan celana bermotif bunga-bunga merah terlihat necis. Ditambah dengan gincu merah tipis, Nurbaya makin terlihat manis.

Padahal, kala itu hujan dengan intensitas sedang tengah membasahi daerah yang akan dikunjungi Presiden Joko Widodo.

Nurbaya tak patah arang. Dia tetap berada paling depan bagian saluran pengerjaan irigasi, tersenyum semringah, dengan cincin emas tersembul di jari manisnya.

Nurbaya tersipu malu ketika saya bertanya apakah dia sengaja bersolek karena akan bertemu Presiden Jokowi? Wanita berusia 50 tahun tersebuthanya mengatakan bahwa dirinya adalah tenaga sukarela yang membantu suami yang berprofesi sebagai petani padi, tetapi bekerja serabutan apabila musim tanam dan musim panen telah lewat.

Tak hanya Nurbaya, sekitar lima hingga enam istri petani yang ada di sekitar situ ternyata juga secara sukarela membantu proyek yang baru dicanangkan pemerintah sejak tahun lalu. Selain sukarela untuk membantu suami, alasan lainnya tentulah mereka ingin berpenampilan beda saat bertemu Presiden.

"Mau ikut bantu suami kami dan karena ada Presiden. Kami tapi tidak dibayar, hanya bantu-bantu, suami kami yang dibayar," kata Nurbaya, Kamis (15/2/2018).

Dalam pengerjaan padat karya tunai di daerah Sulawesi Selatan tersebut, tukang diupah Rp125.000, sedangkan kernet atau pembantu tukang diupah Rp85.000 per hari.

Adapun, pengerjaan saluran irigasi tersier sepanjang 581 meter tersebut melibatkan sedikitnya 150 orang dengan total biaya Rp585 juta. Pengerjaan dilakukan dalam waktu 60 hari.

Suasana Kerja Program Padat Karya Tunai Desa Panyakalang, Kecamatan Bajeng, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Nurbaya mengatakan bahwa dirinya sangat terharu dengan kepedulian pemerintah untuk memberi alternatif pekerjaan bagi suami mereka saat musim bertani belum tiba.

"Mumpung ada Presiden di sini, kami bersyukur. Kami berterima kasih sekali [pemerintah] telah membantu kehidupan kami," tuturnya.

UPAH CEPAT CAIR

Ketua Induk Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) Desa Panyakalang Zainudin Matutu mengatakan bahwa penduduk di sekitar desanya senang dapat bepartisipasi dalam program padat karya tunai Kementerian PUPR tersebut.

 Selain mendapatkan tambahan penghasilan di luar bertani, warga sekitar semakin bersemangat setelah pembayaran upah kerja ternyata dapat cair lebih cepat atau tidak harus menunggu sampai pelaksanaan program selesai.

"Pekerja itu inginnya uangnya dibayar mingguan, tapi ini belum sampai seminggu saja, 3 hari itu sudah dibayarkan," tuturnya.

Selama ini, Zainudin mengatakan bahwa banyak warga di desanya yang mencari pekerjaan tak tetap di kota setelah masa tanam atau masa panen belum tiba. Mereka yang beruntung bisa dapat pekerjaan sementara, tetapi yang kurang beruntung akan pulang ke rumah dengan wajah murung.

"Dengan ini, kami tak usah lagi cari pekerjaan di kota karena lapangan kerja sudah tersedia. Yang mau bekerja, memang mampu bekerja, dan penduduk daerah sini terbuka untuk [pekerjaan] ini," ujarnya.

Menteri PUPR Basoeki Hadimoeljono menjelaskan bahwa program padat karya tunai diharapkan dapat meningkatkan peredaran uang di daerah dan mendongkrak daya beli masyarakat.

Kementerian PUPR menganggarkan Rp11,20 triliun untuk menyukseskan program cash of work tersebut di seluruh wilayah Indonesia. Perinciannya, sebanyak Rp2,80 triliun untuk program padat karya di Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, sebanyak Rp3,50 triliun untuk program Ditjen Cipta Karya, Rp0,98 triliun untuk program Ditjen Bina Marga, dan Rp3,90 triliun untuk padat karya tunai sektor perumahan.

"Dan ini baru dari Kementerian PUPR, masih ada dari Kementerian Desa, KKP [Kementerian Kelautan dan Perikanan] untuk melaksanakan padat karya tunai ini," ujar Basoeki.

Pekerja program padat karya tunai menyempatkan bersalaman dengan Presiden Joko Widoso usai meninjau efektivitas program tersebut. 

Usai meninjau, Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa perbaikan irigasi yang dilakukan warga Kabupaten Gowa juga akan berkontribusi untuk menaikkan indeks pertanaman sehingga produktivitas tanaman pangan bakal meningkat. Artinya, jumlah tanaman pangan yang diproduksi akan lebih banyak sehingga juga akan kembali berkontribusi pada pendapatan lebih petani.

"Ini saluran irigasi sekundernya sudah baik, nanti disusul tersiernya. Nantinya diharapkan ada peningkatan produksi (padi), ada perbaikan karena program ini," kata Kepala Negara.

Tag : padat karya, Kementerian PUPR
Editor : Zufrizal

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top