Izzara Ramaikan Pasar Residensial di Simatupang

Koridor TB Simatupang memang lebih dikenal sebagai kawasan perkantoran bagi banyak perusahaan perminyakan dan batubara. Untuk urusan perkantoran sebelum 2014, Jakarta Selatan memiliki tingkat keterhunian (occupancy rate) selalu di atas 90%.
Anitana Widya Puspa | 15 Februari 2018 22:35 WIB

Bisnis.com,JAKARTA--Koridor TB Simatupang memang lebih dikenal sebagai kawasan perkantoran bagi banyak perusahaan perminyakan dan batu bara. Untuk urusan perkantoran sebelum 2014, Jakarta Selatan memiliki tingkat keterhunian (occupancy rate) selalu di atas 90%.

Kini dengan kondisi pasokan perkantoran terkonsentrasi di Jakarta Selatan, maka perlahan memicu pula pengembangan residensial di kawasan ini. Para ekspatriat dari perusahaan itu salah satunya menjadi bidikan bagi pengembang di segmen premium.

Colliers Indonesia juga memprediksikan wilayah Jakarta Selatan masih tak tergantikan sebagai lokasi rumah bagi kebanyakan ekspatriat karena menyediakan hampir semua kebutuhan untuk komunitas internasional seperti sekolah internasional, hiburan, pusat perbelanjaan, lapangan golf dan tempat menarik lainnya.

Pengembang yang mulai melirik kawasan ini salah satunya adalah Grage Trimitra Usaha yang dimiliki oleh salah satu co-founder Alila Group, Franky Tjahyadikarta dengan 2 orang mitra lainnya melalui proyek Izzara.

Presiden Direktur Grage Trimitra Usaha Nugrahadi Darmawan mengatakan dengan pembangunan akses tol Depok-Antasari serta kehadiran perkantoran akan membuat daerah itu menjadi ramai seperti kawasan Central Bussiness District (CBD).

Proyek yang merangkum 2 menara dengan total 500 unit hunian itu menyediakan hunian sewa bagi kalangan ekspatriat. Perusahaan lanjut dia akan membentuk badan pengelolaan properti sewa, sehingga investor lokal yang ingin menyewakan hunian juga bisa dibantu melalui badan itu.

Bagi para ekspatriat kata dia juga belum bisa membeli langsung, sehingga biasanya melalui perusahaan.

“Biasanya ekspatriat memilih menyewa tiga kamar tidur karena membawa keluarga. Tarif sewa bisa bisa mencapai US$1.000 untuk tipe studio dan US$ 2.800 untuk tiga kamar tidur,”katanya dikutip Kamis (13/2).

Sementara bagi apartemen strata maka perusahaan menawarkan harga hunian di kisaran Rp40 juta per meter persegi atau dimulai dari Rp3 miliar bagi unit terkecil dengan luasan 64 meter persegi—71 meter persegi hingga unit terluas 199 meter persegi.

Perusahaan enggan menyebutkan angka pasti hunian yang disewa kalangan ekspatriat. Hanya saja total unit yang dijual, saat ini sudah sekitar 80%yang terjual baik di North Tower dan South Tower. Dia mengaku ada beberapa unit yang memang sengaja disimpan bukan untuk dijual.

Untuk North Tower, mayoritas pembeli adalah kalangan investor yang berasal dari luar DKI Jakarta dan Jakarta Utara. Sementara untuk South Tower mayoritas pembeli adalah end user dari kelompok generasi kedua dalam keluarga. Perbandingnannya sekitar 60:40.

Proyek ini diharapkan rampung dan diserahterimakan bertahap mulai pertenagahan hingga akhir tahun ini.

Tag : bisnis properti
Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top