Investor dari China Tertarik Garap Sektor Petrokimia di Teluk Bintuni

Pengembangan kawasan industri petrokimia di Bintuni, Papua Barat memulai babak baru. Investor dari China akan mengembangkan sendiri kawasan petrokimia di luar rencana semula.
Anggara Pernando | 14 Februari 2018 19:05 WIB
Teluk Bintuni - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA—Pengembangan kawasan industri petrokimia di Bintuni, Papua memulai babak baru. Investor dari China akan mengembangkan sendiri kawasan petrokimia di luar rencana semula. 

Direktur Jendral Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka (IKTA) Kementerian Perindustrian Achmad Sigit Dwiwahjono mengatakan pihaknya menerima laporan dari Genting Energy bahwa mereka memperoleh komitmen pembeli gas dari lapangan Kasuri yang mereka kelola. Akan tetapi, investor mengajukan permintaan melakukan pengembangan kawasan petrokimia di luar kompleks yang awalnya direncanakan oleh Kementerian Perindustrian.  

"Karena kompleks yang kami rencanakan seluas 2.000 hektare dianggap terlalu jauh sehingga menjadi mahal secara ivestasi," kata Sigit, di Jakarta, Rabu (14/2/2018). 

Kementerian Perindustrian menyambut rencana ini. Menurut Sigit, pihaknya tidak keberatan dengan rencana kawasan petrokimia baru yang digagas oleh Genting dan mitranya itu. 

"Bagi kami yang penting ada ada komleks petrokimia. Mereka juga menyatakan terbuka dengan investor dalam negeri seperti rencana semula," katanya. 

Sigit mengatakan dengan bahan baku 170 juta kaki kubik per hari (million standard cubic feet per day/MMscfd) yang dihasilkan dari lapangan Kasuri maka akan dihasilkan 1,8 juta ton metanol. Jumlah ini setelah diolah akan meningkat menjadi 2 juta ton produk antara etilen. 

"Kebutuhan kita sekarang 4 juta ton. Itu setara 50%-nya," ujar Sigit. 

Jika dikonversikan dalam angka, dia menjelaskan, jumlah ini akan menghemat devisa negara hingga Rp100 triliun setiap tahun. 

 

Tag : petrokimia
Editor : Ratna Ariyanti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top