Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Petani Diberi Kurikulum Budi Daya Kakao

"Kalau petani mempunyai pengetahuan yang cukup, ya hasilnya lebih bagus dari pada, maaf ya, mereka yang tidak tahu sama sekali mengenai budi daya kakao yang baik,"
Juli Etha Ramaida Manalu
Juli Etha Ramaida Manalu - Bisnis.com 09 Februari 2018  |  17:55 WIB
Petani Diberi Kurikulum Budi Daya Kakao
Pekerja memeriksa buah kakao di Sunggal, Deli Serdang, Sumut, Selasa (8/1). - Bisnis.com
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA -- Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Pertanian, Kementerian Pertanian bekerja sama dengan Cocoa Sustainability Partnership (CSP), Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia menyusun Kurikulum Nasional dan Modul Pelatihan Budi Daya Berkelanjutan (Good Agricultural Practices) dan Pasca Panen Kakao yang diluncurkan pada hari ini, Jumat (9/2/2018).

Kepala Pusat Pelatihan Pertanian Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementerian Pertanian Widi Hardjono menyampaikan dengan diluncurkannya kurikulum ini, diharapkan petani bisa mempelajari cara budidaya kakao yang baik dan benar, sehingga kualitas produksi kakao dalam negeri bisa meningkat.

"Kalau petani mempunyai pengetahuan yang cukup, ya hasilnya lebih bagus dari pada, maaf ya, mereka yang tidak tahu sama sekali mengenai budi daya kakao yang baik," katanya di sela-sela peluncuran, Jumat (9/2/2018).

Dengan perbaikan kualitas kakao dalam negeri, harga kakao juga akan ikut terdongkrak naik. Harga yang baik dan permintaan pasar yang diestimasi masih akan bergeliat diyakini akan membuat petani lebih bergairah dalam budi daya kakao sehingga luas lahan dan produksi dalam negeri juga bisa semakin tinggi.

Kendati demikian, diakui Widi saat ini tenaga pelatih yang dibutuhkan oleh para petani untuk bisa membimbing mereka terkait cara pembudidayaan kakao yang baik masih sangat terbatas. Pasalnya, pemerintah masih sedang fokus pada tiga komoditas pangan yakni padi, jagung dan kedelai (Pajale).

Untuk itulah, selain dilakukan peluncuran buku, pihaknya juga akan melakukan pelatihan-pelatihan baik oleh pemerintah sendiri juga dengan menggandeng pihak swasta dan LSM.

"Sebetulnya untuk skarang ini prioritas utama kan pajale. Sekarang sedang kita perbaiki dan kita melibatkan asosiasi termasuk LSM untuk melakukan pendampingan. Ya ini makanya kondisi penyuluh kita kan memang makin berkurang nih. Itu posisinya," tambahnya.

Adapun buku kurikulum yang disusun selama kurang lebih satu tahun ini bisa diunduh di situs CSP atau dengan mengirimkan surat permohonan ke pihak CSP untuk pengiriman buku.

Berdasarkan data dari Kementerian Pertanian, pada 2016 terdapat 1,659 juta hektare (ha) lahan perkebunan kokoa milik rakyat dari total 1,701 juta ha. Sementara itu, pada 2017, jumlah lahan kokoa milik rakyat diestimasi turun menjadi 1,649 juta ha dari luas total 1,691 juta ha.

Adapun produksi kakao dari perkebunan rakyat pada 2016, dari sumber data yang sama, mencapai 622.516 ton dari total produksi 656.817 ton . Sementara itu, di 2017 produksi kokoa perkebunan rakyat naik menjadi 652.397 ton dari total produksi 688.345 ton.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kakao
Editor : Fajar Sidik
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top