Optimisme Pebisnis Dunia Meningkat Tahun Ini

Tiga kekuatan ekonomi dunia, Amerika Serikat, China dan Jepang, menjadi pendorong utama tingginya optimisme bisnis dunia di tahun ini yang berada di level tinggi yakni 58%. AS mencatat optimisme bisnis di angka 74%, naik dari tahun lalu yang hanya 54%.Bisnis Dunia Diprediksi Bakal Bersinar Cemerlang
Yusran Yunus
Yusran Yunus - Bisnis.com 22 Januari 2018  |  08:31 WIB
Optimisme Pebisnis Dunia Meningkat Tahun Ini
Grant Thornton - ist

Bisnis.com, JAKARTA - Tiga kekuatan ekonomi dunia yaitu AS, China dan Jepang, menjadi pendorong utama tingginya optimisme bisnis dunia di tahun ini yang berada di level tinggi yakni 58%.

AS mencatat optimisme bisnis di angka 74%, naik dari tahun lalu yang hanya 54%. China mencatat angka tertinggi di satu dekade terakhir yakni 78%, dan Jepang berada di level 3% atau angka positif pertama dalam tiga tahun terakhir bagi Negeri Matahari Terbit itu. Demikian hasil survei global yang dilakukan oleh Grant Thornton International Business Report (IBR).

Menurut IBR, tingginya tingkat optimisme tersebut mendorong banyak perusahaan di dunia untuk menambah jumlah pekerja demi memenuhi permintaan pasar, meski tren otomasi di segala sektor usaha sedang berlangsung.

Disebutkan optimisme bisnis ini sejalan dengan iklim permintaan yang cukup sehat. Indikasinya adalah proporsi perusahaan yang khawatir atas pelemahan permintaan turun mencapai titik terendah sepanjang satu dekade survei IBR, hanya 23%.

Hasil IBR tersebut berdasarkan wawancara lebih dari 2.500 pejabat di jenjang eksekutif, managing director, chairman atau eksekutif senior lainnya dari semua sektor industri. Wawancara ini dilakukan pada November-Desember 2017.

IBR sudah dilakukan sejak 1992 di sembilan negara Eropa. Saat ini, IBR juga memberikan wawasan dan pandangan bisnis ke lebih dari 10.000 perusahaan per tahun di 36 negara.

Hasil menarik lainnya, perusahaan-perusahaan ternyata tidak ragu menaikkan harga. Dari hasil survei, 36% perusahaan akan melakukannya di tahun ini dan 50% perusahaan optimistis memperoleh keuntungan yang lebih besar atau meningkat 10% dari tahun sebelumnya.

Tingginya optimisme bisnis tersebut disikapi dunia usaha dengan peningkatan rencana perekrutan lebih banyak pekerja sehingga mampu mencetak rekor tertinggi dalam kurun waktu satu dekade terakhir, yakni mencapai 40%. Angka ini naik 11% dibanding tahun sebelumnya.

Namun, hal cukup kontras tampak dari jumlah pelaku bisnis yang berencana meningkatkan investasinya pada pembangunan pabrik dan mesin di 2018, yakni hanya sebesar 36%. Jumlah tersebut hanya naik 3% dari  tahun sebelumnya. Angka tersebut tergolong rendah, jika dibandingkan kenaikan rencana perusahaan untuk merekrut lebih banyak pekerja. 

Di sisi lain, hasil survei juga mencatat rencana perusahaan menambah investasi di sektor teknologi pada kuartal akhir 2017 menurun menjadi 44% dibandingkan kuartal sebelumnya yang 47%.

Meski berbagai indikator masih menunjukkan tren positif dan potensi peningkatan usaha cukup tinggi, Grant Thornton mengingatkan pentingnya keseimbangan investasi dan mengambil langkah signifikan untuk meningkatkan produktivitas.

“Meskipun tren mesin menggantikan manusia kerap digaungkan, cara mudah dan cepat untuk meningkatkan kapasitas dan memenuhi permintaan pasar adalah dengan mempekerjakan lebih banyak orang,” ujar Francesca Lagerberg, Global Leader Network Development Grant Thornton, dalam rilisnya yang diterima Bisnis, Senin (22/1/2018).

Namun, kata dia, hal tersebut hanyalah solusi sementara. Seiring berkurangnya jumlah pengangguran, kian sulit menemukan pekerja baik dari sisi kuantitas maupun kualitas untuk mempertahankan serta meningkatkan produktivitas.

Lagerberg juga menekankan pentingnya efisiensi pada proses bisnis agar usaha bisa terus tumbuh. Lonjakan optimisme serta ekspektasi meraih keuntungan tinggi saat ini berada di titik puncak, sejak krisis keuangan global. Perusahaan harus menghindari segala sesuatu yang bersifat jangka pendek dan meningkatkan investasi untuk pertumbuhan jangka panjangnya.
 
"Jika tidak, euforia 2018 akan menyisakan masalah di tahun-tahun berikutnya,” tuturnya.

Menurunnya investasi perusahaan pada teknologi pada tiga bulan terakhir cukup mengkhawatirkan mengingat teknologi adalah salah satu keunggulan kompetitif bagi dunia usaha.

"Pergerakan menuju otomasi lewat teknologi memang mengancam model usaha tradisional. Namun, di sisi lain dapat dipandang sebagai peluang untuk menjadi lebih produktif dan berkesinambungan. Mereka yang mampu menerapkan formula tersebut akan berhasil mengamankan posisi terbaik di saat ekonomi global turun dari level tertinggi saat ini,” terang Lagerberg.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekonomi dunia

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top