Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga Ayam Tinggi, Pedagang Bandung Raya Akan Lakukan Pemogokan

Koperasi Pesat Bakti Bangsa Jawa Barat membenarkan akan adanya aksi pemogokan produksi dan berjualan daging ayam pada Jumat-Minggu (19-21/1/2018) di area Bandung Raya.
Agne Yasa
Agne Yasa - Bisnis.com 17 Januari 2018  |  13:10 WIB
Harga Ayam Tinggi, Pedagang Bandung Raya Akan Lakukan Pemogokan
Pedagang memotong daging ayam di lapaknya di Pasar Kosambi Bandung, Jawa Barat, Selasa (16/1). - JIBI/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA - Koperasi Pesat Bakti Bangsa Jawa Barat membenarkan adanya rencana aksi pemogokan produksi dan berjualan daging ayam pada Jumat-Minggu, 19-21 Januari 2018, di area Bandung Raya.

Iim Ruhimat, Ketua Koperasi Pesat Bakti Bangsa, mengatakan pemogokan produksi dan berjualan daging ayam ini akan dilakukan para peternak ayam, broker, bandar, pemotong, pedagang, serta supplier. Dia menambahkan Pesat dalam hal ini mewadahi para pedagang dan bandar ayam yang berkeinginan untuk berhenti sejenak .

“Biar ada perhatian dari pemerintah karena harga ayam sudah hampir 4 bulan tinggi sekali, jadi para pedagang merugi,” jelas Iim ketika dihubungi Bisnis lewat sambungan telepon, Rabu (17/1/2018).

Dia menjelaskan harga jual ayam di pasar saat ini berkisar Rp35.000-Rp36.000 per kilogram (kg). Sementara itu, untuk membeli ayam di pihak peternak sudah mencapai Rp22.000-Rp23.000.

Padahal, sempat dilakukan audiensi dengan pedagang, bandar dan peternak oleh pemerintah pada Agustus 2015 tentang harga ayam yang disepakati.

“Harga ayam itu maksimal Rp20.000 untuk yang hidup, antara Rp18.000-Rp20.000 [per kg], pokoknya Rp20.000 ke bawah. Sekarang sudah berjalan 2 tahun, bahkan tidak ada audiensi juga, tidak ada pertemuan antara bandar, pedagang, penjual ayam hidup, tidak ada. Makanya ayam sekarang melambung sampai Rp23.000 per kg,” jelasnya.

Kondisi ini membuat pedagang merugi karena kesulitan memperoleh keuntungan dari margin harga yang tipis. Ditambah adanya biaya-biaya lain dari mata rantai yang membuat margin semakin besar ketika sampai di pedagang.

Dampaknya, lanjut Iim, dalam satu bulan terakhir ini sudah ada penurunan produksi hingga 30% di bandar ayam. Bahkan, pedagang juga mengalami penurunan penjualan.

Jika dalam kondisi normal biasanya pedagang mampu menjual 100 ekor maka sekarang hanya mampu menjual 25 ekor. Pedagang lainnya yang biasanya mampu menjual 200 ekor sekarang hanya mampu menjual 100 ekor, itu pun tidak habis.

“Malah jualan juga rugi,” ungkapnya.

Populasi ayam yang berkurang juga disebut menjadi penyebab. Namun, Iim kembali menekankan sebelumnya pemerintah menjamin harga ayam hidup dari peternak yang dibeli oleh bandar tidak akan lebih dari Rp20.000.

“Acuan dari pernyataan pemerintah bahwa sekurang apapun, semusim apapun, harga hidup dari peternak tidak lebih dari Rp20.000. Otomatis sekarang yang mengendalikan PT [perusahaan peterkan ayam besar],” jelasnya.  

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ayam
Editor : Annisa Margrit

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top