Eksportir Tuna Bali Pertimbangkan Bandara Soetta

Eksportir tuna di Bali mulai memikirkan jalan keluar jika erupsi Gunung Agung berkepanjangan, yang berdampak pada penutupan Bandara Ngurah Rai dan mengganggu pengiriman tuna segar.
Sri Mas Sari | 28 November 2017 19:35 WIB
Ikan tuna - Antara/Ampelsa

Bisnis.com, JAKARTA - Eksportir tuna di Bali mulai memikirkan jalan keluar jika erupsi Gunung Agung berkepanjangan, yang berdampak pada penutupan Bandara Ngurah Rai dan mengganggu pengiriman tuna segar.

Ketua Asosiasi Tuna Longline Indonesia (ATLI) Dwi Agus Siswa Putra mengatakan dampak penutupan Bandara Ngurah Rai selama dua hari sejauh ini belum terlihat terhadap pengiriman tuna segar ke Jepang untuk bahan baku sashimi dan sushi.

Meskipun demikian, alternatif pelabuhan udara di luar Bali mulai dipikirkan. Dwi menyebutkan Bandara Soekarno-Hatta menjadi satu-satunya alternatif pintu keluar pengiriman tuna segar ke Negeri Matahari Terbit.

"Hanya, kalau diangkut ke Jakarta lewat darat, kan enggak fresh. Diangkut pakai kapal juga enggak fresh. Jadi, mungkin dari fishing ground langsung ke Jakarta," jelasnya saat dihubungi, Selasa (28/11/2017).

Bali merupakan salah satu provinsi eksportir tuna terbesar Indonesia dengan volume rata-rata 18.000 ton per tahun (Bisnis.com, 19/5/2016). Di antara ikan dan udang yang berkontribusi paling besar terhadap ekspor Bali --di atas 20%-- tuna pun menjadi penyumbang utama.

Adapun ekspor fresh sashimi selama ini menjadi target kapal rawai tuna alias longline. Tuna yang menjadi target tangkapan longline adalah tuna sirip kuning (yellowfin), tuna sirip biru (bluefin), tuna mata besar (big eye), dan albakora (albacore).

Sebelumnya dilaporkan, jumlah armada longline berkurang dan ditengarai menjadi salah satu penyebab rendahnya pemanfaatan kuota penangkapan tuna sirip biru selatan (southern bluefin tuna).

Berdasarkan catatan ATLI, jumlah kapal longline yang pada 2014 masih 575 kini kurang dari separuhnya, yakni 277 kapal. Para pemilik kapal beralih alat tangkap ke pukat cincin (purse seine) atau pancing cumi (squid jigging).

Adapun berdasarkan data Berdasarkan data Direktorat Perizinan dan Kenelayanan Kementerian Kelautan dan Perikanan per 4 September, jumlah kapal dengan alat tangkap rawai hanyut (drifting longlines) dan rawai dasar (set longlines) masing-masing 380 unit dan 139 unit atau 11,8% dari total armada berizin pusat sebanyak 4.392 kapal.

Sementara itu, jumlah armada purse seine (pelagis kecil dan pelagis besar) mencapai 1.602 kapal atau 36,5% dari total armada.

"Mana yang lebih menghasilkan dan operasi tidak berat akibat aturan, maka pindah demi usaha tetap berjalan," kata Dwi (Bisnis.com, 4/9/2017).

Berdasarkan data sementara KKP per 31 Juli, realisasi penangkapan SBT masih 153,4 ton dari kuota Indonesia di the Commission for the Conservation of Southern Bluefin Tuna (CCSBT) tahun ini 899,4 ton.

Tag : ikan tuna
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top