Ini Dia yang Bikin Investor Mebel Mundur Teratur

Asosiasi mebel dan kerajinan menilai penanaman modal di sektor furnitur masih lesu karena wacana pembukaan keran ekspor komoditas seperti kayu gelondongan dan rotan membuat investor berpikir ulang.
Regi Yanuar Widhia Dinnata | 28 November 2017 18:46 WIB
Pengunjung mengamati produk furnitur pada pameran Indonesia International Furniture Expo (IFEX) 2017 di JI Expo, Jakarta, Sabtu (11/3). - Antara/Wahyu Putro A

Bisnis.com, JAKARTA—Asosiasi mebel dan kerajinan menilai penanaman modal di sektor furnitur masih lesu karena wacana pembukaan keran ekspor komoditas seperti kayu gelondongan dan rotan membuat investor berpikir ulang.

Soenoto, Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), menyampaikan Indonesia memiliki potensi yang besar sebagai sentra industri mebel dan kerajinan dunia jika dilihat dari sumber daya alam dan manusia. Selain itu, faktor yang paling mendukung adalah kondisi eknomi yang stabil dan merupakan pasar terbesar di Asia Tenggara.

Kendati demikian, dia menilai investor seakan enggan untuk menanamkan modal di Tanah Air karena berbagai alasan. Pertama, isu mengenai pembukaan keran ekspor cukup banyak mempengaruhi pertumbuhan investasi dalam negeri. Bahkan, ketika wacana ini bergulir bahan baku seperti rotan dan log (kayu gelondongan) kini menjadi mahal atau sulit didatangkan dari wilayah luar Pulau Jawa.

Menurutnya, pemerintah dapat bersinergi dengan industri furnitur dengan memberikan berbagai insentif fiskal untuk menggaet investor. Namun, jika pemerintah tidak sanggup membangun iklim usaha tersebut akan lebih baik untuk tidak mengganggu bisnis tersebut dengan kebijakan yang tidak menguntungkan sebagian besar pihak.

"Jika ketersediaan bahan baku rotan dan kayu gelondongan mengalami kesulitan maka akan terjadi sunset industri mebel dan kerajinan," kata Soenoto, Selasa, (28/11/2017).

Kedua, investor menganggap distribusi logistik bahan baku dan produk jadi di Tanah Air menelan ongkos yang tinggi. Sentra industri mebel dan kerajinan bertempat di Pulau Jawa sedangkan bahan baku dipasok dari Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan daerah luar Jawa lainnya. Selain biaya logistik antar pulau dalam negeri masih mahal, pelaku bisnis dihadapkan dengan biaya pengiriman produk jadi ke negara tujuan ekspor.

Ketiga, Soenoto mengungkapkan teknologi permesinan Tanah Air kalah telak oleh berbagai negara kompetitor. Hal ini berpengaruh langsung terhadap tingkat produktivitas dan efisiensi waktu.

Adapun mesin yang digunakan oleh industri mebel dan kerajinan mayoritas belum bisa diproduksi dalam negeri. Dengan demikian, investor akan menanggung dana lebih besar untuk mendatangkan berbagai mesin yang dipasok lewat impor. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
mebel

Editor : Ratna Ariyanti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top