Pabrikan Mebel Tolak Rencana Ekspor Kayu Gelondongan

Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia menolak wacana ekspor bahan baku rotan dan kayu gelondongan agar tidak mengganggu keberlangsungan bisnis furnitur dalam negeri.
Regi Yanuar Widhia Dinnata | 28 November 2017 18:34 WIB
Pengunjung berada di salah satu stand pameran International Furniture Expo (IFEX) 2017 di Jakarta, Senin (13/3). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA—Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia menolak wacana ekspor bahan baku rotan dan kayu gelondongan agar tidak mengganggu keberlangsungan bisnis furnitur dalam negeri.

Soenoto, Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), menyampaikan agar Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita tidak banyak berspekulasi untuk ekspor bahan baku log (kayu gelondongan) dan rotan.

Dia menyebutkan Kementerian Perdagangan belum memiliki data yang lengkap tentang keuntungan dan kerugian yang dapat disebabkan oleh kebijakan tersebut. Rencana yang sedang dipersiapkan tidak memberikan jaminan untuk dapat memberikan kontribusi terhadap perekonomian nasional.

Selain itu, wacana ini bergulir ketika industri hilir di sebagian daerah, seperti Cirebon, Jepara, beberapa sentra di Jawa Timur dan Jawa Tengah sedang krisis bahan baku rotan dan kayu gelondongan.

Padahal, menurut catatan HIMKI, sebanyak 85% bahan baku, termasuk rotan di dunia berada di Tanah Air. "Akibat dari tersendatnya bahan baku ini, ada industri yang menolak sebanyak 40% pesanan dan beberapa perusahaan lain memutuskan untuk menunda berproduksi," kata Soenoto, Selasa, (28/11).

Wacana ekspor ini membuat pemasok rotan seperti petani atau pengumpul rotan wait and see untuk menjual rotan dan kayu ke pasar dalam negeri atau ekspor.

 "Hal ini berdampak pada harga rotan dan kayu gelondongan yang siap beli menjadi mahal sehingga tidak memenuhi standar keekonomian," imbuhnya.

 Dia menjelaskan bahwa proses pengolahan rotan membutuhkan waktu yang lama dan bertahap sejak diambil di hutan sampai dengan diproses menjadi bahan setengah jadi. "Mindset yang berkembang di hulu rotan, mereka lebih memilih ekspor karena lebih mudah karena tanpa proses yang bertahap dan waktu lama," ujarnya.

Soenoto menambahkan pemerintah justru harus mendukung hilirisasi yang sedang digagas oleh HIMKI. Negara akan lebih diuntungkan dengan menjual barang jadi secara ekspor dibandingkan dengan bahan baku. Dia mengatakan industri hilir akan menyerap banyak tenaga kerja, selain itu nilai tambah komoditas tersebut semakin meningkat.

Sementara itu, Abdul Sobur, Sekretaris Jenderal HIMKI, mengatakan kebijakan ekspor kayu gelondongan dan rotan ini berpotensi menggerus permintaan ekspor nasional dan merusak iklim usaha Tanah Air. Bahkan, sejak munculnya wacana tersebut saja beberapa pemesan telah ancang-ancang untuk membeli furnitur kepada negara kompetitor.

Himki mencatat penjualan ekspor mebel dan kerajinan pada periode Januari—September 2017 sebanyak US$1,21 miliar. Adapun jumlah tersebut terbilang stagnan dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu sebesar US$1,20 miliar. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
mebel

Editor : Ratna Ariyanti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top