Empat Maskapai Pesan 155 Pesawat R80 Rancangan BJ Habibie

Empat maskapai penerbangan RI bakal menggunakan pesawat R80 rancangan BJ Habibie. Presiden Direktur PT Regio Aviasi Industri Agung Nugroho menyatakan empat maskapai domestik tersebut telah memesan sebanyak 155 unit pesawat R80.
N. Nuriman Jayabuana | 25 November 2017 05:48 WIB
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA—Empat maskapai penerbangan RI bakal menggunakan pesawat R80 rancangan BJ Habibie.

Presiden Direktur PT Regio Aviasi Industri Agung Nugroho menyatakan empat maskapai domestik tersebut telah memesan sebanyak 155 unit pesawat R80.

Empat maskapai tersebut merupakan NAM Air, Aviastar, Kalstar, dan Trigana. “Nam Air memesan paling banyak, mencapai 100 unit,” ujarnya di Jakarta, Jumat (24/11).

Komitmen perjanjian dengan empat maskapai tersebut ditandatangani melalui sebuah letter of intent tatkala pengembangan R80 masih tahap pengembangan desain.

Pengembangan R80 pada tahun depan mulai masuk ke dalam tahap pengembangan purwarupa skala penuh.

Menurutnya, setiap unit pesawat R80 dibanderol senilai US$25 juta per unit. Rencananya, RAI bakal memproduksi sebanyak 450 unit R80.

Hanya saja, tahap produksi masal masih perlu melalui serangkaian tahap pengujian. Pengembangan prototype, ujarnya, setidaknya memerlukan periode lima tahun termasuk untuk uji terbang dan uji darat untuk menyempurnakan struktur kekuatan pesawat.

Agung menyatakan R80 perlu memperoleh sertifikasi European Aviation Safety Agency sebelum memasarkan produk kepada maskapai.

Pengembangan pesawat R80 dapat dipastikan tidak memperoleh suntikan dana pemerintah. Agung menyatakan pengembangan pesawat jarak menengah ini mengoptimalkan pendanaan asing.

Salah satu negara yang tengah menjajaki peluang investasi pada proyek tersebut merupakan Korea Selatan.

Perusahaan asal Korsel D-Raon Engineering Co. Ltd, menjadi salah satu pabrikan yang berminat menanamkan modal untuk pengembangan R80 dengan skema pembiayaan infrastruktur non-anggaran.

CEO PINA Center Ekoputro Adijayano melihat hal ini sebagai sesuatu yang menarik dan bahkan bersejarah. "Karena pengembangan industri dirgantara selama ini banyak didominasi badan usaha milik negara," ujar Ekoputro.

Di samping Korea Selatan, pabrikan dari sejumlah negara Asia, Eropa, dan Timur Tengah menyatakan minat bekerjasama dalam pengembangan R80. Estimasi kebutuhan biaya pengembangan R80 diperkirakan mencapai US$ 1,6 miliar.

Tag : bj habibie
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top