Saatnya Patin Lokal Ambil Alih Pasar Dori Vietnam

Pelaku usaha ikan patin di Indonesia harus memanfaatkan peluang mengisi pasar lokal menggantikan fillet dori asal Vietnam yang diduga mengandung bahan pengawet berlebihan.
Sri Mas Sari | 24 November 2017 20:33 WIB
Ikan patin - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Pelaku usaha ikan patin di Indonesia harus memanfaatkan peluang mengisi pasar lokal menggantikan fillet dori asal Vietnam yang diduga mengandung bahan pengawet berlebihan.  

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I) Budhi Wibowo menyebutkan konsumsi domestik fillet patin (Pangasius) sekitar 10.000 ton per tahun dan sebagian besar diisi oleh dori Vietnam.

Unit pengolahan ikan (UPI) di Tanah Air harus dapat mengambil alih dengan mengisi secepat mungkin kebutuhan supermarket, hotel, dan restoran. Dalam catatan AP5I, tidak lebih dari 10 UPI yang 'bermain' di pasar fillet patin.

"Sekarang kesempatan emas karena Vietnam dori tidak ada di pasar, meskipun masih ada sedikit-sedikit," katanya pada Jumat (24/11/2017).

Hanya, lanjut Budhi, tantangan Pangasius Indonesia adalah harga dan kualitas yang belum dapat bersaing dengan dori Vietnam.

Menurut dia, untuk dapat bersaing, harga pokok penjualan patin Indonesia harus dibuat mendekati harga dori Vietnam, yakni sekitar Rp13.500 per kg. Untuk mencapai HPP itu, harga pakan harus dibuat maksimum Rp9.000 per kg.  

Budhi menawarkan konsep agar kontrak pembelian diubah dari industri pengolah-pembudidaya ke industri pembudidaya-pabrik pakan.

Dia menjelaskan pabrik pakan yang memiliki pembudidaya patin binaan menjalin kontrak penjualan dengan pengolah ikan. Dengan begitu, pasokan patin ke UPI bisa kontinyu sehingga permintaan pasar fillet terpenuhi.  

"Ini sudah mulai kami lakukan. Beberapa pabrik pakan sangat interest dengan konsep saya," ujar Budhi.

Soal kualitas, pembudidaya harus disiplin dalam membesarkan patin hingga mencapai bobot minimal 800 gram agar layak diolah menjadi fillet, sebagaimana dilakukan pembudidaya Pangasius di Vietnam.

Selama ini di Indonesia, pembudidaya biasa memanen saat berat patin masih 200-300 gram sekadar untuk memenuhi pasar kuliner lokal, seperti pindang patin dan patin bakar.

Selanjutnya, tak cuma pasar domestik, patin Indonesia diharapkan mengisi pasar ekspor. Budhi berharap pembudidaya Indonesia tidak mengulangi kesalahan Vietnam dengan melakukan perendaman (soaking) zat adiktif berlebihan demi mengerek berat dori, menghilangkan bau anyir, dan membunuh bakteri. Menurut dia, soaking tetap diperlukan, tetapi dalam jumlah wajar, yakni 25% dari bobot patin.

AP5I berharap Indonesia mampu mengekspor fillet patin 100.000 ton per tahun paling lambat 5 tahun ke depan dari kondisi saat ini yang nyaris tidak ada. Mengutip Undercurrent News, Indonesia memproduksi patin 100.000 ton tahun lalu, di bawah Bangladesh 422.182 ton, India 447.500 ton, dan Vietnam 1,2 juta ton.

Kesempatan itu muncul setelah dori Vietnam dirundung beberapa isu tak sedap, seperti ekspor ke Amerika Serikat terancam terhenti akibat pengalihan regulator catfish dari Lembaga Pangan dan Obat (FDA) ke Departemen Pertanian (USDA).

Selain itu, Carrefour di beberapa negara Uni Eropa menyetop penjualan Pangasius Vietnam, baik segar maupun beku, karena ragu apakah tambak di sepanjang Sungai Mekong terhindar dari kontaminasi sampah.

Di Indonesia, baru-baru ini, Kementerian Kelautan dan Perikanan menemukan dori Vietnam di beberapa pasar ritel di Jakarta mengandung tripolyphosphate melebihi ambang batas wajar 2.000 ppm per kg.

Zat adiktif itu memang membuat ikan terasa kenyal, halus, dan berkilat, tetapi dapat mengiritasi kulit, mata, dan paru-paru, jika berlebihan.

Tag : ikan patin
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top