Presdir Charoen Pokphand Indonesia Dianugerahi Doktor Honoris Causa Undip

Rektor Universitas Diponegoro Prof. Dr. Yos Johan Utama SH., M.Hum. menganugerahkan gelar kehormatan doktor honoris causa di bidang Ilmu Sosial Ekonomi Peternakan, kepada Presiden Direktur PT. Charoen Pokphand Indonesia Tbk. Thomas Effendy, SE, MBA.
Anitana Widya Puspa | 24 November 2017 04:33 WIB
Direktur PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk Ong Mei Sian (dari kiri), bersama Komisaris Independen Suparman Sastrodimedjo, Presiden Direktur Tjiu Thomas Effendy, Wakil Presdir Peraphon Prayooravong , usai RUPS, di Jakarta, Selasa (23/5). - JIBI/Endang Muchtar

Bisnis.com, SEMARANG -- Rektor Universitas Diponegoro  Yos Johan Utama  menganugerahkan gelar kehormatan doktor honoris causa di bidang Ilmu Sosial Ekonomi Peternakan, kepada Presiden Direktur PT. Charoen Pokphand Indonesia Tbk. Thomas Effendy.

Penganugerahan gelar dilaksanakan pada 23 November 2017 dalam sidang senat terbuka di Gedung Auditorium Prof. Soedarto SH Undip dan dihadiri oleh perwakilan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi; Honorary Consul Kerajaan Thailand dan undangan lainnya. 

Gelar yang dianugerahkan kepada Thomas Effendy,  memenuhi syarat-syarat ketentuan penganugerahan Gelar Doktor Kehormatan, yakni yang bersangkutan adalah perseorangan yang memiliki jasa dan/ atau karya yang luar biasa di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, sosial, budaya, kemanusiaan dan/ atau bidang kemasyarakatan.

Dalam pidato ilmiahnya Thomas Effendy menyampaikan  krisis ekonomi yang terjadi pada  1997/ 1998  yang melanda kawasan Asia,  menyebabkan terpuruknya sebagian besar usaha peternakan ayam dan terganggunya proses produksi perusahaan integrator. Anjloknya nilai tukar rupiah menyebabkan sebagian besar peternak tidak mampu lagi menjangkau harga sarana produksi ternak.

Di sisi lain, daya beli konsumen (masyarakat) juga menurun. Saat itu terjadi penurunan konsumsi ayam hingga sebesar 60%. Melalui pola kemitraan, Thomas Effendy  berhasil mengembangkan bisnis model pola kemitraan usaha ayam pedaging di Indonesia. Keberhasilan ini memiliki kontribusi yang sangat berarti bagi pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya bidang studi Sosial Ekonomi Peternakan; dan bagi kelangsungan industri perunggasan Indonesia.

Pola kemitraan diyakininya  berperan sebagai jaring pengaman keberlanjutan usaha peternakan masyarakat saat krisis ekonomi pada 1997/ 1998 dan saat wabah flu burung  2004 hingga 2007. Data BPS, menyebutkan  saat wabah flu burung, terjadi penurunan sangat drastis jumlah pelaku usaha peternakan, dari hampir 2000, menjadi hanya sekitar 100 usaha peternakan yang masih bertahan.

Fakta ini menunjukkan  usaha peternakan sangat rentan terhadap gejolak ekonomi dan wabah penyakit hewani. Pola kemitraan memungkinkan resiko usaha akibat kegagalan budidaya dan penurunan jatuhnya harga pasar diminimalkan dan diambil alih oleh perusahaan inti.

Dalam kemitraan dilakukan pemberdayaan peternak melalui terciptanya akses pengetahuan dan ketrampilan budidaya ayam, pembiayaan sarana produksi ternak, dan jaminan pembelian produksi hasil budidaya dengan harga yang menguntungkan, sehingga kesejahteraan peternak meningkat.

Selain itu dalam pidato ilmiahnya yang berjudul “Pengembangan Pola Kemitraan Usaha Peternakan Ayam Pedaging Dalam Rangka Meningkatkan Daya Saing Produksi Unggas Nasional” lebih jauh menyampaikan pola kemitraan merupakan ujung tombak pembangunan peternakan.

Pola kemitraan menjamin peternak mitra mendapatkan keuntungan usaha. Peternak plasma dapat mengalami kerugian hanya bila kinerja budidaya ayam di bawah standar yang disepakati, karena kelalaian dalam penerapan prosedur standar operasi (SOP).

Pola kemitraan memungkinkan resiko usaha plasma diminimalkan, baik karena penyakit atau faktor lain, atau pun fluktuasi harga ayam. Bila SOP telah dijalankan dengan benar, namun masih menderita kerugian, maka atas kerugian tersebut diperhitungkan sebagai potongan penjualan sarana produksi ternak dari Inti kepada Plasma.

Terbatasnya lahan peternakan dan ancaman penyakit hewani, menuntut dikembangkannya pola kemitraan dengan kandang tertutup, yang memungkinkan budidaya dilakukan secara lebih efisien, aman, dan produktif. Kemitraan merupakan usaha yang saling menguntungkan dan menguatkan untuk mendorong terciptanya peningkatan daya saing produksi unggas nasional menyongsong era perdagangan bebas.

Seperti diketahui Thomas Effendy lahir di Pontianak, pada 30 Januari 1958 dan meraih gelar Sarjana Ekonomi (1983) dari Fakultas Ekonomi Universitas Tarumanegara, Jakarta dan pendidkan Master of Business Administration (1995) dari The University of City of Manila, Filipina. Di samping pengembangan pola kemitraan, Thomas Effendy SE.,MBA bersama PT. Charoen Pokphand Indonesia menggagas berbagai program Corporate Social Responsibility (CSR) diantaranya Program Bedah Kandang, Anak Asuh, Bedah PAUD, Beasiswa dan Pembangunan Teaching Farm di beberapa universitas.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
charoen pokphand indonesia

Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top