Lebih Efisien dan Ramah Lingkungan dengan Pertamax

Ardi Bento, salah seorang pengemudi ojek online, tampak santai saat mengisi bahan bakar sepeda motornya di salah satu SPBU di Kota Medan, belum lama ini.
MediaDigital | 24 November 2017 10:00 WIB

Ardi Bento, salah seorang pengemudi ojek online, tampak santai saat mengisi bahan bakar sepeda motornya di salah satu SPBU di Kota Medan, belum lama ini. Tidak ada yang aneh dari dirinya, begitu juga petugas yang mengarahkan nozzle BBM ke tangki sepeda motor, semua terlihat normal. Namun ada satu hal yang menelisik perhatian. Ardi mengisi bahan bakar sepeda motornya dengan Pertamax.

Kurang lazim rasanya, karena dengan sepeda motor berkapasitas 155 CC yang dikendarainya dan dioperasikan untuk ojek online, tentu banyak orang akan menilai Ardi berlebihan. "Untuk beli bensin, satu harinya saya hanya habis Rp20.000 saja," tuturnya.

Bagaimana mungkin Ardi hanya menghabiskan Rp20.000 per hari untuk menggojek online dengan sepeda motor 155 CC? Atau bisa saja banyak orang berpandangan dia dapat lebih irit bila menggunakan bahan bakar lain, terutama Premium. Padahal, bila menggunakan hitung-hitungan yang ilmiah, tidak demikian. Ardi tidak berlebihan, dia masih masuk akal hanya menghabiskan R20.00 per hari dan tidak menjadi lebih irit bila menggunakan Premium.

Unit Manager Communication & CSR Pertamina MOR I Pertamina Rudi Ariffianto mengatakan, Premium, Pertalite dan Pertamax memang terpaut agak jauh jika harga dihitung dari setiap liternya.

"Namun bila mengukurnya dari performance, ketika BBM digunakan kendaraan, ada suatu penelitian yang menyebutkan dalam 50 kilometer jarak tempuh mobil, selisih penggunaan BBM secara rupiah antara Premium, Pertalite dan Pertamax, tidak jauh berbeda."

Antara Premium dengan Pertalite hanya berselisih Rp300-an setiap 50 kilometer, dan antara Premium dengan Pertamax, selisihnya tidak lebih dari Rp.1000 pada jarak tempuh yang sama. Hal itu karena jarak yang dapat ditempuh kendaraan dengan menggunakan Pertalite dan Pertamax bisa melebihi Premium.

Semakin tinggi kualitas BBM, yang diukur dari angka RON (Research Octane Number), maka akan semakin jauh pula daya tempuh kendaraan yang menggunakannya. Adapun Premium memiliki angka RON 88, Pertalite 90 dan Pertamax 92.

Selain selisih biaya pengeluaran BBM yang sebenarnya tidak signifikan, lanjut rudi, efek terhadap kondisi mesin dan suku cadang dari penggunaan RON tinggi dengan rendah juga cukup berbeda. Angka RON yang lebih tinggi pada bahan bakar, akan memberikan konsekuensi pada pembakaran yang lebih sempurna. Ketika proses pembakaran terjadi lebih sempurna, maka emisinya menjadi sedikit. Begitu pula sebaliknya, semakin rendah RON, emisi akan semakin besar.

Sebagai wujud kepedulian terhadap lingkungan, Pertamina pun mengeluarkan produk-produk BBM dengan kadar oktan yang tinggi, salah satunya Pertamax. Lalu, mengapa Pertamax bisa menjadi ramah lingkungan?

Emisi merupakan sisa hasil pembakaran pada mesin yang bersifat residu dan membahayakan untuk lingkungan, terutama kepada manusia. Emisi itu sendiri ada berbagai macam, ada yang karbonmonoksida, nitrogen oksida yang bisa menimbulkan hujan asam, dan senyawa hidrokarbon lainnya.

Bicara efisiensi, dengan RON yang semakin tinggi, maka deposit sisa pembakaran akan semakin kecil. Dan deposit yang semakin kecil, biaya perawatan mesin menjadi semakin murah.

"Biaya pemeliharaan dan penggantian suku cadang mesin yang menggunakan Premium jauh lebih mahal dan Premium juga sebenarnya sudah tidak cocok lagi dengan teknologi kendaraan zaman sekarang."

Bila RON lebih tinggi, waktu pembakaran akan semakin lama. Seperti anak panah, jika menariknya kuat sampai ke belakang, dorongan busurnya akan semakin jauh. "Semakin tinggi RON, biasanya kendaraan semakin kencang, tarikannya ringan." (***)

Tag : pertamina, pertamax
Editor : MediaDigital

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top