Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Setelah Jagorawi, Jalan Tol Mana Lagi yang Akan Disekuritisasi Jasa Marga?

PT Jasa Marga Tbk. menilai bahwa Jakarta Outer Ring Road dan jalan tol dalam Kota Jakarta menjadi dua ruas tol yang paling potensial untuk dilakukan sekuritisasi pendapatan guna memenuhi kebutuhan ekuitas perseroan senilai Rp15 triliun hingga 2019.
Deandra Syarizka
Deandra Syarizka - Bisnis.com 18 Oktober 2017  |  10:50 WIB
Kendaraan terjebak kemacetan di ruas jalan tol dalam kota, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (16/5). - Antara/Rivan Awal Lingga
Kendaraan terjebak kemacetan di ruas jalan tol dalam kota, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (16/5). - Antara/Rivan Awal Lingga

Bisnis.com, JAKARTA — PT Jasa Marga Tbk. menilai bahwa Jakarta Outer Ring Road dan jalan tol dalam Kota Jakarta menjadi dua ruas tol yang paling potensial untuk dilakukan sekuritisasi pendapatan guna memenuhi kebutuhan ekuitas perseroan senilai Rp15 triliun hingga 2019.

Direktur Keuangan PT Jasa Marga Tbk. (JSMR) Donny Arsal menjelaskan, perseroan membutuhkan dana sekitar Rp70 triliun untuk membangun 16 ruas tol yang tengah masa konstruksi.

Dana tersebut rencananya diperoleh dari pinjaman perbankan sebesar Rp50 triliun dan sisanya berasal dari ekuitas konsorsium badan usaha dengan JSMR biasanya memilliki posisi sebagai pemegang saham mayoritas.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, pihaknya memiliki fleksibilitas pendanaan  dan perseroan akan mengombinasikan pendanaan dari perbankan serta juga alternatif pendanaan seperti sekuritisasi ataupun penerbitan instrumen utang seperti obligasi dan sukuk.

"Jadi, fleksibilitas pendanaan itu masih ada, tinggal cari mana yang paling murah. Mau pakai bank bisa, sukuk bisa, bond bisa, sekuritisasi bisa," ujarnya, pekan ini.

Dia menjelaskan, pendapatan yang diperoleh perusahaan dari 13 ruas tol yang telah matang setiap tahun adalah Rp9 triliun. Dari jumlah tersebut, sebanyak Rp1,50 triliun di antaranya dihasilkan oleh jalan tol dalam Kota Jakarta.

Dengan asumsi tenor 10 tahun, potensi dana yang dapat diperoleh hanya dari sekuritisasi tol dalam kota  berkisar Rp10 triliun hingga Rp15 triliun.

Berbeda dengan sekuritisasi pendapatan jalan tol Jagorawi yang memiliki tenor 5 tahun, nantinya perseroan akan mencoba memberi tenor yang lebih panjang sesuai dengan minat investor, yaitu 10 tahun hingga habis masa konsesi kedua jalan tol tersebut pada 2044.

"Dengan kami launching kemarin Jagorawi kan kami tes 5 tahun dulu karena tidak mengejar size, ternyata laku keras. Dan investor mau tenor yang lebih panjang," ujarnya.

Donny menerangkan, pemilihan ruas tol JORR dan dalam kota didasarkan atas pertimbangan volume trafik yang cukup tinggi dan telah menghasilkan arus kas yang stabil. Kedua ruas tol tersebut juga telah melunasi pinjaman perbankan.

Selain kedua ruas tol tersebut, jalan tol Jakarta—Cikampek juga termasuk ke dalam ruas tol yang telah matang.

Akan tetapi, pihaknya belum berniat melakukan sekuritisasi pada jalan tol tersebut karena adanya pembangunan tiga proyek bersamaan yaitu kereta api ringan (light rail transit/LRT) Jabodebek, jalan tol Jakarta—Cikampek II Layang, dan Kereta Cepat Jakarta-Bandung yang mengakibatkan kemacetan.

Dia menyatakan, manajemen perusahaan belum menetapkan target mengenai sekuritisasi, baik itu waktu pelaksanaan maupun target perolehan dana. Menurutnya, hal tersebut akan dilakukan menyesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi pasar yang ada.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jalan tol jasa marga jsmr Sekuritisasi Aset
Editor : Zufrizal

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top