Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Harga Gas Indonesia Paling Mahal di Asean, Kok Bisa?

Pabrikan menganggap tarif gas untuk industri di Indonesia belum kompetitif untuk meningkatkan daya saing produk di pasar regional.
Ketua Umum Forum Industri Pengguna Gas Bumi (FIPGB) Achmad Safiun memberikan penjelasan mengenai harga gas bumi, di Jakarta, Senin (9/10)./JIBI-Dedi Gunawan
Ketua Umum Forum Industri Pengguna Gas Bumi (FIPGB) Achmad Safiun memberikan penjelasan mengenai harga gas bumi, di Jakarta, Senin (9/10)./JIBI-Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA — Pabrikan menganggap tarif gas untuk industri di Indonesia belum kompetitif untuk meningkatkan daya saing produk di pasar regional.

Direktur Utama Pupuk Indonesia Aas Asikin Idat menyatakan harga gas industri di Indonesia yang paling mahal di Asean.

“Harga gas kita yang paling mahal bila dibanding negara-negara lain di Asean. Sekarang memang kami sudah dapat seharga US$6 per MMBtu, tetapi itu saja masih terlalu tinggi. Pesaing-pesaing di Asean dapat harga US$3 per MMBtu,” ujarnya kepada Bisnis belum lama ini.

Padahal, pengeluaran untuk tagihan gas mencapai 70% dari keseluruhan struktur biaya produksi pabrikan pupuk. “Kalau harga pokok produksi terlalu tinggi karena biaya penggunaan gas, kita mau gimana jualannya?”

Aas menyatakan situasi tersebut memaksa banyak pabrikan untuk menyasar berbagai komponen biaya lain sebagai target efisiensi. Bila tidak, daya saing produk lokal bakal semakin sulit menandingi produk impor yang kompetitif.

“Akhinya banyak hal yang menjadi target efisiensi. Apa itu biaya distribusi, pengelolaan dan sebagainya. Tujuannya untuk menjaga daya saing kalau tidak begitu akan semakin sulit bersaing,” ujarnya.

Menurutnya, beberapa pabrikan mulai melirik opsi gasifikasi batubara sebagai pilihan alternatif di tengah tingginya harga gas karena pada tingkat harga tertentu, penggunaan gasifikasi batu bara dapat lebih efisien ketimbang harga gas. “Rumusannya kalau batu bara US$20 per ton, itu bisa dikonversi menjadi gas. Harga hasil gasifikasinya itu nanti sama dengan gas senilai US$3 per MMBtu.”

Hanya saja, penguatan harga komoditas batu bara pada tahun ini bisa menjadi faktor pengganjal langkah tersebut. “Kalau harga batu baranya tidak masuk, kelihatannya tidak bisa,” ujarnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper