Baja Paduan Impor Diminta Pengenaan Bea Masuk

Produsen baja PT Krakatau Steel (Persero) meminta pemerintah memperketat importasi dengan mengenakan beamasuk terhadap baja paduan atau alloy steel.
N. Nuriman Jayabuana | 25 Juni 2017 16:07 WIB
Baja. - .Reuters/William Hong

Bisnis.com, JAKARTA— Produsen baja PT Krakatau Steel (Persero) meminta pemerintah memperketat importasi dengan mengenakan beamasuk terhadap baja paduan atau alloy steel.

Direktur Utama PT Krakatau Steel Mas Wigrantoro Roes Setiyadi menyatakan baja paduan selama ini masih terbebas pengenaan bea masuk. Akhirnya, produsen baja sulit meningkatkan produksi lantaran kehilangan pasar domestik.

“Itu bukan hanya keluhan KS, tapi juga seluruh negara Asean. Semuanya mengalami lonjakan impor alloy steel,” ujar Wigrantoro usai menghadap Menteri BUMN di Jakarta, Minggu (25/6/2017).

Menurutnya, pemerintah tengah mengkaji pengenaan bea masuk untuk baja paduan impor sebesar 15%.

“Arahnya dikenakan segitu supaya kami bisa kompetitif. Jadi, impor alloy steel kena beamasuk seperti produk baja lain, sebesar 15%,” ujar dia.

Persoalannya, banyak importir baja yang sudah memperoleh izin impor baja paduan meski belum dieksekusi.

“Itu yang kita minta supaya izinnya dicabut, agar dalam pelaksanaannya tetap dikenakan beamasuk antidumping.”

Sebelumnya, praktisi industri baja memperkitakan baja impor asal China bajal terus membanjiri pasar domestik pada tahun ini. Sebab China malah meningkatkan volume produksi bajanya sebesar 1,8% yoy menjadi 72,3 juta ton pada Mei 2017 meskipun permintaan domestiknya mengalami stagnasi.

Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia (Indonesia Iron and Steel Industry Association/IISIA) Hidayat Triseputro menyatakan produsen baja di China mendorong kelebihan pasokan bajanya ke pasar ekspor.

“Pengendalian masih perlu ditingkatkan lagi, karena screening terhadap baja impor dari China masih terlalu longgar,” ujar Hidayat.

Menurut Hidayat, pabrikan baja China melakukan praktek dumping dengan berbagai cara. Salah satunya dengan mengelabui regulasi kepabeanan tujuan ekspor yang membebaskan beamasuk untuk baja paduan (alloy steel).

Akibatnya, baja yang dikirimkan ke negara tujuan dicampurkan terlebih dulu dengan boron sehingga terbebas pengenaan beamasuk. Di negara tujuan, selisih harga baja bisa mencapai 28% lantaran China juga memberikan insentif berupa tax rebate kepada setiap baja yang dieskpor. “Jadi sebenarnya China jalankan unfair trade dengan berbagai cara seperti itu.”

Terlebih, kapasitas produksi baja nasional memang belum mampu memenuhi seluruh permintaan domestik. Permintaan baja pada tahun ini diperkirakan menembus 15 juta ton, sementara kapasitas produksi baja dalam negeri sebesar 8 juta ton per tahun. Utilisasi pabrikan baja domestik belum mencapai kapasitas maksimum lantaran sulit menyaingi harga baja impor.

Asosiasi Baja Dunia (World Steel Association) juga mencatat kenaikan produksi baja di China paralel dengan kenaikan produksi global. Aangka produksi baja dunia naik 2% yoy menjadi 143,3 juta ton pada Mei 2017.

Tingkat utilisasi baja global mencapai 71,8% pada Mei 2017. Angka itu naik 0,5% dibanding Mei 2016, tapi melemah 1,8% dibanding utilisasi April 2017.

Badan Pusat Statistik mencatat volume impor besi dan baja yang masuk ke Indonesia pada Mei 2017 sebanyak 1,37 juta ton, atau naik 25,6% dibanding bulan sebelumnya sebanyak 1,09 juta ton. Nilai impor besi dan baja pada Mei 2017 senilai US$816 juta, atau naik 28% dibanding April 2017 senilai US$637 juta.

Volume impor besi dan baja secara kumulatif periode Januari—Mei 2017 tercatat sebanyak 5,43 juta ton dengan nilai mencapai US$ 3,08 miliar. Nilai impor itu naik 31,48% dibanding periode yang sama pada 2016, yaitu senilai US$2,3 miliar dengan volume sebesar 5,38 juta ton.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
baja, krakatau steel

Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top