Mudik Lebaran 2017 : Serunya Mudik Dengan Kapal Laut

Kapal penumpang milik PT PELNI tersebut pun berhasil menunaikan tugasnya mengantarkan ribuan peserta Mudik Gratis Sepeda Motor dengan Kapal Laut yang diadakan Ditjen Perhubungan Laut, Kementerian Perhubungan tahun ini.
Puput Ady Sukarno | 22 Juni 2017 17:10 WIB
Petugas memasukkan sepeda motor milik peserta mudik gratis ke dalam kapal KM Dobonsolo tujuan Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Sabtu (17/6). - Antara/Hafidz Mubarak A

Bisnis.com, SEMARANG - Toet - toeeettt...!!! Suara khas klakson kapal KM Dobonsolo yang dinahkodai Kapten Tarmin berbunyi panjang.

Waktu menunjukkan pukul 06.00 WIB, Kamis (22/6/2017).

Tak berselang lama, sayup-sayup terdengar suara dari petugas melalui speaker yang menginformasikan bahwa kapal yang berangkat sejak Rabu (21/6) sore dari Tanjung Priok itu, tak lama lagi akan bersandar di Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang.

Kapal penumpang milik PT PELNI tersebut pun berhasil menunaikan tugasnya mengantarkan ribuan peserta Mudik Gratis Sepeda Motor dengan Kapal Laut yang diadakan Ditjen Perhubungan Laut, Kementerian Perhubungan tahun ini.

Pemudik di Kapal Dobonsolo bisa menikmati pemandangan selama perjalanan./Bisnis-Puput Adi Sukarno

Kantuk yang tampak masih menggelayuti wajah-wajah para pemudik pun tak mampu membendung semangat dan suka cita mereka. Para pemudik terkesan ingin segera meneruskan perjalanan ke kampung halaman masing-masing dengan berkendara sepeda motor. Kesan itulah yang tertangkap Bisnis, tatkala kapal yang mereka tumpangi tiba di Tanjung Emas, Semarang.

Hampir sekitar 14 jam perjalanan di atas lautan, dari Jakarta menuju Semarang, banyak kisah canda tawa yang dialami para pemudik, baik yang sudah familiar dengan moda transportasi kapal laut maupun yang baru pertama kali naik kapal.

Seperti yang dialami Dion. Pemudik sepeda motor dengan tujuan Demak itu mengikuti program Mudik Gratis Sepeda Motor dengan Kapal Laut setelah mendapatkan informasi dari pemberitaan di media.

Pemudik di Kapal Dobonsolo melaksanakan shalat di mushala yang tersedia./Bisnis-Puput Adi Sukarno

Karyawan swasta salah satu perusahaan di Kawasan Industri Cakung tersebut memutuskan mengikuti mudik kapal laut lantaran memikirkan keselamatan dan kenyamanan anggota keluarganya, baik istri maupun anaknya yang baru berumur 4,5 tahun.

Dion yang memang ingin menggunakan sepeda motornya di kampung halamannya itu, berpikir jarak berkendara dari Semarang menuju Demak, dirasakan lebih aman dan tidak menguras stamina dibandingkan dari Jakarta - Demak.

"Enak juga ternyata naik kapal. Anak saya juga tidak rewel. Karena di kapal juga ada tempat bermain anak-anak, jadi mereka tidak bosan," ujar Dion.

Selain itu, apabila rasa bosan datang , Dion mengajak anak beserta istrinya berjalan-jalan berkeliling kapal. Sungguh itu menjadi pengalaman tersendiri bagi keluarga Dion.

"Yang jelas saya bisa lebih fresh kalau berkendara sepeda motor dari sini ke Demak yang memakan waktu sekitar 1 jam perjalanan. Tidurnya enak, kasurnya empuk juga, bahkan saya tidak terasa kalau semalam sempat hujan," ujarnya.

Pemudik bersiap turun dari kapal Dobonsolo untuk melanjutkan perjalanan dengan sepeda motor ke kampung halaman./Bisnis-Puput Adi Sukarno

Dion bahkan tidak bisa membayangkan apa yang bakal terjadi apabila tidak memutuskan naik kapal mudik gratis dan memaksakan diri mengendarai sepeda motor dari Jakarta ke Demak. Terpaan hujan di tengah perjalanan akan berbeda rasanya jika ia dan keluarganya sedang berada di atas sepeda motor.

Pengalaman senada soal mudik dengan kapal disampaikan Suyono, pemudik tujuan Blora. Pria yang mudik sendirian menggunakan sepeda motor itu juga mengaku senang dengan pengalaman pertamanya ikut gelaran Musik Gratis Sepeda Motor dengan Kapal Laut tersebut.

Bapak tiga anak yang bekerja di salah satu perusahaan di Kawasan Industri Pulogadung itu cukup terkejut dengan pengalamannya mudik tahun ini.

"Saya baru kali ini naik kapal. Ternyata sangat enak, tidak seperti dibayangkan, bakal mabuk laut dan lainnya yang mengerikan," ujarnya.

Menurut Suyono, dengan menaikkan sepeda motor di atas kapal hingga tiba di Semarang, sangat membantu dirinya menghemat stamina. Selain bisa tidur, di kapal juga bisa digunakan untuk melihat-lihat pemandangan dan bersosialisasi dengan kenalan baru.

"Kalau di kapal gini, apabila hujan datang tidak perlu bingung pakai jas hujan, masih bisa merokok dan ditemani kopi panas," ujarnya.

Selain itu, juga terdapat hiburan musik yang bisa dinikmati penumpang kapal secara langsung mulai pukul 22.00 - 24.00 wib.

"Sudah dapat makan enak dua kali, saat berbuka puasa dan sahur. Bisa tidur dengan kasur empuk, ada mushola buat shalat tarawih, warung kopi, dan ada hiburan musik juga. Enak lah pokoknya," ujar Yono.

Bahkan, ia mengaku tidak sabar untuk bisa segera menceritakan pengalamannya itu kepada istri dan anaknya yang tinggal dikampung, yang sempat khawatir karena dia memilih mudik naik kapal.

"Istri sempat gimana gitu pas tahu saya memilih naik kapal, tapi ternyata di luar dugaan saya, seru dan tidak kecapekan di jalan, dan irit. Ini sangat membantu bagi karyawan pabrik seperti saya," ujarnya.

Suyono memastikan akan ikut program serupa saat arus balik ke Jakarta usai Idulfitri mendatang.

"Saya sudah daftar untuk arus balik juga, nanti tinggal registrasi ulang. Saya pasti ikut lagi dan ajakin teman saya untuk turut membuktikannya, Kalau ini dapat dilakukan terus oleh pemerintah akan sangat membantu pekerja seperti saya ini," pungkasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
mudik lebaran

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top